Khawatir anak gadis orang kenapa-kenapa, tanpa peduli kondisi nya nanti akan seperti apa, Aziel membuka jaketnya dan memberikannya pada Jovanka. "Lagian aneh-aneh sih, udah tau bakal jaga di tengah," "Niat bantu nggak sis? Kalau enggak, gelut yuk." Aziel cengengesan. "Hehe, sorry mbak bro. Udah, sini gue pakein. Ululu.. anak ayah, pintar sekarang ya pakai bajunya." Aziel niatnya mencairkan suasana, namun sepertinya dia salah jam. Buktinya, Jovanka menyorot tajam seolah ingin mengulitinya. Eh, tapi, kemarin-kemarin juga seperti itu kok, tidak ada bedanya. "Zilit, beneran deh, gelut yuk. Noh, ada tanah lapang bagus tuh.." terdiam dengan alis terangkat melihat Aziel tiba-tiba menjauh darinya menutupi d**a. Wajah lelaki itu dibuat takut, Jovanka jadi pengen tonjok muka sok sucinya itu.

