Kata orang, kalau takut itu teriak. Teriakan itu sebagai pelampiasan untuk mengurangi rasa takut. Dengan teriak, maka rasa takut kita ikut keluar berbarengan dengan muncratan ludah bagai hujan lokal. Lalu, bagaimana kalau takut tapi tidak teriak? Boro-boro teriak, bersuara saja tidak. Itu dialami oleh Aziel. Saking takutnya, dia sampai tidak bisa bersuara. Mulutnya cuma bisa mangap, lalu megap-megap seperti ikan mujaer yang lompat dari kolam saat hujan deras. Kasihan. Namun, Jovanka terlalu fokus menertawan karakter yang ketakutan dikejar hantu untuk menyadari kondisi Aziel. Tidak peduli dengan urat malu yang sudah putus, Aziel menggenggam tangan Jovanka dengan erat sambil gemetar. Tanpa diduga Jovanka menggenggamnya balik. Saat itulah timbul sensasi lain dari pada degupan syok yang di

