Aku pun telah tiba di Le Petite Bistro, restoran Prancis yang cukup terkenal di Jakarta. Kemudian aku masuk ke dalam, mencari tempat yang ku rasa nyaman. Seorang waiter menyambut kedatanganku.
"Mau pesan apa, nona? Sendiri atau berdua?" Tanya waiter tersebut sambil menyodorkan menu makanan.
"Berdua, tapi aku pesan menunya nanti saja, sementara aku ingin es jeruk dulu, tinggalkan saja menunya di sini." Ucapku pada waiter tersebut.
"Baiklah nona, mohon di tunggu sebentar." Jawab waiter itu kemudian meninggalkan mejaku.
Tak lama kemudian waiter itu datang dan menyerahkan segelas es jeruk padaku. Aku pun menyesapnya perlahan, sembari menunggu kedatangan Dave.
Di restoran Prancis dengan suasana yang romantis ini, aku duduk sendirian di meja dekat jendela. Aku sudah duduk sendirian di sini selama hampir satu jam lamanya, menunggu Dave yang tak kunjung datang kemari.
Dari jendela ini, aku dapat menikmati pemandangan luar yang dipenuhi oleh hiruk pikuk Kota Jakarta. Aku dapat melihat pejalan kaki yang berlalu lalang, kendaraan roda empat yang berjalan melambat karena kemacetan lalu lintas kota.
Aku mencoba mengabaikan tatapan kasihan dari orang-orang yang berlalu lalang. Rasanya aku ingin sekali menghubungi nomor Dave dan memakinya, karena dia masih belum juga datang.
Aku sudah mulai merasa kesal dan marah dengan Dave. Apakah Dave telah melupakan janjinya kepadaku untuk pergi berkencan malam ini merayakan hari jadi kami?
Haruskah aku menunggunya sepuluh menit lagi dan memesan segelas es jeruk lagi sambil mengutak ngatik layar ponsel, kemudian membuka dan melihat sosial mediaku, membaca berita yang sedang tranding saat ini.
Atau haruskah aku pulang saja sambil merebus ayam dan menunggunya sambil menggenggam pisau dapur di apartemen kami?
Bahkan setelah sepuluh menit berlalu, es jeruk yang ada di dalam gelasku telah habis kuminum, hanya menyisahkan es batu di dalam gelas. Dave hingga kini masih belum memperlihatkan batang hidungnya.
Aku sudah benar-benar sangat marah, ingin sekali aku pulang ke rumah dan mencincang ayam rebus untuk diperlihatkan kepadanya dengan pisau dapur yang tajam.
Namun, aku malah masih berharap menunggunya untuk datang. Aku seperti seorang gadis bodoh, yang menunggu kekasihku dan mengingat jadwal kencan dengan tepat waktu.
Lalu aku mencoba menghubungi sahabatku, Helen. Akan tetapi Helen tidak mengangkat panggilan telepon dariku, setelah berkali-kali aku mencoba menghubunginya. Biasanya, Helen akan segera mengangkatnya. Setelah aku menghubunginya dalam waktu lima detik, dia pasti akan mengangkat panggilan telepon dariku.
Apakah Helen juga sedang ada masalah dengan kekasihnya? Helen selalu mengabaikanku, jika gadis itu sedang ada masalah dengan kekasihnya.
Padahal Helen baru satu tahun berpacaran dengan Roy Xander. Tetapi Helen sudah seperti gadis bucin yang tergila-gila kepada pria tersebut. Sudah sebulan ini, sepertinya Helen tidak membicarakan tentang Roy kepadaku.
Aku tahu jika Helen sangat berharap Roy datang untuk menemuinya. Dalam waktu satu tahun itu, kupikir gadis ini sudah tiga kali bertingkah konyol seperti itu.
Helen pasti sedang menunggu dan berharap mendapat panggilan telepon dari Roy. Mungkin Roy tidak menghubunginya sama sekali, yang membuat Helen kecewa dan marah.
Helen sepertinya sedang menerapkan konsep jual mahal. Gadis itu mungkin sedang dalam suasana hati yang kurang baik sama halnya seperti diriku saat ini.
Helen mungkin ingin terlihat keren di mata Roy, membuat Roy berpikir jika Helen adalah gadis yang penuh kesibukan dan padat acara. Bukan wanita yang tak percaya diri dan hanya berdiam di rumah setiap malam, dan menantikan panggilan telepon dari kekasihnya itu.
Sambil mengabaikan tatapan dari orang-orang, aku terus mengirim pesan suara untuk Helen. "Helen, angkat dong telepon dariku!" Ucapku pelan. Namun Helen masih tidak membalasnya.
"Helen, cepat dong angkat teleponku. Ini penting banget!" Ucapku lagi. Aku terus mencoba menghubunginya setelah mengirim pesan suara, namun lagi-lagi dia tidak ingin menjawabnya.
Kemudian melihat tatapan seorang waiter berbadan besar yang terlihat garang menatap aneh ke arahku, aku menciutkan diri dan bersembunyi di bawah mantelku. Mungkin pikirnya aku sudah lama berada di restoran ini, namun aku hanya menghabiskan tiga gelas es jeruk.
"Helen, aku tahu kamu mendengarkan pesan suaraku walau tidak centang biru, karena kamu telah menonaktifkannya. Jadi tolong telepon dan bicara denganku!" Ucapku lagi dengan suara yang sudah terdengar frustasi.
"Tahu dari mana?" Balasan pesan suara yang dikirimkan oleh Helen, segera setelah mendengarkan pesan suara dariku. Helen nampak sangat marah.
"Bisa saja aku sedang sibuk masak, mengepel, cuci baju atau sedang mengerjakan pekerjaan lainnya!" Ucapnya kembali, mengirim pesan suara padaku.
Lalu aku segera menghubungi Helen, setelah mendengarkan omong kosong yang dia katakan padaku. Aku merasa lega yang luar biasa, karena dia tidak melakukan hal bodoh seperti sebelumnya.
"Aku tahu kamu tidak sedang mengerjakan sesuatu. Kamu pasti sedang duduk termenung di sofa dan menunggu Roy menghubungimu kan?" Tanyaku yang membuat Helen terdiam.
"Oh ya ampun Laura. Perlukah kamu mengatakan kenyataan buruk, bahwa aku di sini sedang sendirian? Mengenakan pakaian rumahan, serta mendengarkan lagu Bukan Cinta Biasa dari penyanyi Afgan, kan?" Balasnya bertanya balik kepadaku dengan suara yang terdengar sedikit kesal.
Helen akhirnya berhenti bicara, gadis itu mendadak sadar tidak ada balasan suara dariku di ujung telepon. "Laura, apakah kamu masih mendengarkanku?" Tanyanya mulai merasa cemas.
"Aku tidak yakin, apakah aku mendengarkan omong kosongmu dengan baik atau tidak." Ucapku yang mulai merasa jengkel.
Terdengar suara helaan napas dari sahabatku itu. "Laura, ada apa? Jangan bilang Dave membuat ulah lagi dan membuatmu mengamuk sekarang. Dan kalian akhirnya bertengkar?" Kemarahan Helen muncul, Helen sudah menebakku dengan cepat.
"Kupikir ini tidak bisa dibilang bertengkar." Jawabku pelan sambil menatap keluar jendela.
"Lalu apa? Kukira Dave sedang bersamamu untuk menikmati makan malam romantis, di sebuah restoran Prancis yang mahal itu. Bukankah kamu bilang, hari ini adalah hari jadi kalian?" Ucap Helen seperti mbah dukun. Selalu tepat sasaran.
"Harusnya seperti itu, sudah satu jam aku menunggunya di sini. Namun masih belum terlihat batang hidungnya sama sekali!" Aku mulai emosi jika memikirkan Dave yang mengingkari janjinya.
"Yang benar saja! Tebakanku tepat ya? Apakah pria itu sangat sibuk hingga membuatmu menunggu?" Tanyanya lagi yang membuat pikiranku melayang.
Benar, apa yang Dave lakukan hingga membuatnya melupakan janji kencan kami di sini!
"Apakah kamu merasa hal itu lucu dan ingin menggodaku, Helen?" Tanyaku mulai frustasi.
"Kamu sekarang lagi di mana, Laura?" Tanya Helen mulai khawatir.
"Aku di restoran Prancis di jalan Akasia sekarang." Jawabku seadanya.
"Ya ampun Laura, kamu sendirian di sana? Perlu aku temani tidak?" Tanya Helen yang membuatku terdiam.
Aku jadi menyesal karena telah menghubunginya. Seharusnya Helen membuatku merasa lebih baik, tapi gadis itu membuatku semakin merasa jengkel.
"Di mana Dave sekarang, Laura?" Helen mulai penasaran dan bertanya padaku.
"Aku tidak tahu , Helen. Kalau aku tahu, pasti aku sudah mencabik-cabik Dave! Dia sudah membuatku menunggu sendirian di sini seperti gadis bodoh!" Ucapku sedikit kesal.
Hanya terdengar kata 'ya ampun' sekali lagi, tanpa memikirkan aku yang sedang merasakan kegundahan di dalam hatiku.
"Kenapa Dave menjadi acuh tak acuh begini sih! Ya aku tahu kalau dia pria yang cuek dan acuh tak acuh kepada orang lain. Tapi tidak berlaku untuk kekasihnya juga kan? Padahal kamu sudah menantikan makan malam romantis ini dengannya, setelah membuat rencana berminggu-minggu yang lalu." Ucap Helen mulai terdengar tidak senang.
"Bukan berminggu-minggu Helen, tapi sudah berbulan-bulan yang lalu." Koreksiku pada perkataannya.
"Malah kurasa sudah hampir setahun yang lalu, sejak Dave memulai bisnis barunya. Kami bahkan sudah jarang pergi untuk sekedar berkencan di luar. Dave pergi pagi, pulang pun larut malam. Hari libur juga Dave gunakan untuk tidur dan tidak bergerak sama sekali, kecuali untuk makan dan mandi! Serta mengajakku untuk pergi berbelanja mingguan. Itupun dengan sangat terpaksa, karena semua itu untuk keperluan hidup kami!" Keluhku panjang lebar.
Aku meraba gaun merah yang belum lama kubeli, khusus untuk dipakai kencan malam ini dengan Dave. Gaun merah tipis sexy model V yang memperlihatkan setengah dadaku.
Gaun ini juga memperlihatkan lekuk tubuhku yang indah, khusus kubeli untuk diperlihatkan kepada Dave. Biasanya di apartemen, aku hanya memakai pakaian rumahan biasa.
Memikirkan harga gaunku yang mahal, membuatku sangat kesal hingga membuat tanganku terkepal erat. Memikirkan aku harus menghemat uangku, hanya untuk membeli gaun ini.
"Apa??? Bisnis apa yang membuat Dave sangat sibuk? Tidakkah dia tahu bahwa kekasihnya juga perlu dihibur? Benar-benar pria yang tidak berperasaan, menyia-nyiakan kekasihnya yang cantik!" Ucap Helen seakan tak percaya.
"Tidak tahulah, Helen! Aku kesal sekali." Jawabku dengan perasaan yang sangat tidak nyaman.
Setelah aku mengatakan hal itu, hanya ada kesunyian di ujung telepon. Helen mungkin sudah sadar, jika suasana hatiku sudah sangat buruk. Jadi gadis itu tidak berkata lebih lanjut lagi. Tapi Helen sudah terlalu banyak bicara.
Sebagai sahabat yang baik, seharusnya Helen tidak mengatakan hal buruk tentang Dave, walaupun Helen sangat gregetan dengan sikap acuh tak acuh dari kekasihku itu.
Aku telah menghabiskan waktuku berjam-jam, hanya untuk duduk di meja rias dan merias diriku. Serta melihat penampilanku di depan cermin dari waktu ke waktu.
Helen kemudian bersuara lagi. "Dengarkan aku Laura, aku yakin Dave akan segera tiba di restoran dengan tampang bersalahnya dan meminta maaf padamu. Karena dia telah membuatmu menunggu lama." Helen mulai mencoba menghibur diriku.
"Baiklah, aku tahu Helen." Jawabku asal.
Akupun segera melirik pintu masuk restoran, berharap Dave akan segera tiba di hadapanku dan datang meminta maaf kepadaku karena telah datang terlambat.
Namun aku hanya melihat tatapan waiter yang melihatku lagi, berdiri tegak di dekat pot besar sedang melihat ke arahku dan melihat belahan dadaku yang nampak mencuat keluar dari gaun model V yang aku kenakan.
Aku mulai mengutuk Dave untuk kesekian kalinya malam ini. Lalu aku mencoba merapatkan mantel yang kukenakan, untuk menutupinya dari pandangan mata waiter yang sedang haus itu.
"Sudahkah kamu coba menghubungi Dave, Laura?" Tanya Helen kembali, yang memecahkan lamunanku itu.