Di bangku taman yang menghadap danau, aku merasakan kehangatan pelukan Dave. Tapi kemudian, aku teringat sesuatu yang penting. Aku sedikit merenggangkan pelukanku dan menatapnya dengan tatapan penuh harap.
"Dave. Bagaimana tentang perayaan hari jadi kita? Bagaimana dengan makan malam romantis di restoran Perancis?" Tanyaku, suaraku lembut namun penuh harap.
Dave tampak sedikit terkejut dengan pertanyaanku. Aku bisa melihat kerutan halus di dahinya saat ia mencoba mengingat sesuatu. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sebuah gestur yang sering ia lakukan saat merasa bingung atau tidak yakin.
"Perayaan hari jadi? Secepat itu?" Gumam Dave, lebih pada dirinya sendiri.
Aku tahu akhir-akhir ini ia sangat sibuk, tenggelam dalam pekerjaannya di perusahaan arsitektur yang ia bangun bersama Roger. Setelah pertanyaan tentang merayakan hari jadi kami, ia merasa bingung. Jadwalnya minggu ini sangat padat.
Aku menanti jawabannya dengan sabar, meskipun hatiku sedikit mencelos. Aku tahu betapa sulitnya bagi Dave untuk meluangkan waktu di tengah kesibukannya. Tapi aku berharap, kali ini, ia akan benar-benar berusaha untuk mewujudkan rencanaku.
"Aku... aku harus lihat jadwal dulu, Laura. Memang kapan perayaan itu?" Jawab Dave akhirnya, dengan nada yang sedikit ragu.
"Karena Minggu ini jadwalku agak padat, tapi aku akan usahakan."
Aku mengangguk pelan, berusaha untuk tidak menunjukkan kekecewaanku. Aku tahu ia tidak bermaksud untuk menyakitiku, tapi jawabannya membuatku sedikit khawatir. Apakah ia benar-benar serius dengan janjinya? Apakah ia akan kembali melupakanku karena pekerjaannya?
"Kamu melupakan hari jadi kita, Dave?" Tanyaku, berusaha untuk tetap tersenyum.
"Dua minggu lagi. Jangan lupa ya, Dave. Aku benar-benar menantikan momen itu." Ucapku lagi menatap matanya dengan penuh harap.
Dave meraih tanganku dan menggenggamnya erat. "Baiklah Laura. Aku tidak akan lupa. Aku akan membuat makan malam itu menjadi spesial untukmu." Ucap Dave, menatapku dengan mata yang penuh keyakinan.
Aku tersenyum lega dan membalas genggamannya. Aku ingin percaya padanya, aku ingin memberikan kesempatan untuknya. Aku tahu bahwa hubungan kami masih bisa diselamatkan, asalkan kami berdua bersedia untuk berusaha.
"Aku pegang janjimu ya, Dave. Jangan sampai kamu lupa lagi." Kataku, dengan nada menggoda.
Dave tertawa kecil dan mencium tanganku. "Tidak akan, sayang. Aku akan memasukkannya ke dalam daftar prioritas utama." Jawab Dave sambil tersenyum.
Aku pun tersenyum bahagia dan menyandarkan kepalaku di bahunya. Aku merasa sedikit lebih tenang dan optimis. Mungkin, kali ini, Dave benar-benar akan berubah. Mungkin, kami masih bisa memiliki masa depan yang indah bersama.
Kami melanjutkan menikmati suasana di taman, berjalan sambil bergandengan tangan. Sesekali kami bercanda dan tertawa. Aku merasa seperti beban berat telah terangkat sedikit dari pundakku.
Aku ingin menikmati momen ini sepenuhnya, tanpa memikirkan masa depan. Yang terpenting adalah saat ini, di mana aku dan Dave bersama, saling mencintai dan saling mendukung.
Hari itu, kami bersantai hingga sore hari di taman kota, melihat anak-anak bermain dan berlarian dengan riang. Tawa mereka memenuhi udara, menciptakan suasana yang menyenangkan dan menenangkan. Dave menggenggam tanganku erat, seolah tak ingin melepaskannya. Aku merasakan kehangatan dari telapak tangannya.
"Kamu tahu, Dave? Sudah lama sekali kita tidak menghabiskan waktu seperti ini." Ucapku, sambil menatap wajah Dave yang tampak lebih santai.
Dave mengangguk setuju, matanya menatap lurus ke arah anak-anak yang sedang bermain. "Aku tahu, sayang. Aku akan lebih sering meluangkan waktu untukmu. Aku tidak ingin kamu merasa diabaikan" Jawab Dave, dengan nada sedikit menyesal.
Aku tersenyum dan mencubit pipinya dengan gemas. "Aku pegang janjimu ya. Kalau kamu sampai lupa lagi, awas saja." Ucapku, berpura-pura kesal.
Dave tertawa dan menarikku lebih dekat ke arahnya. "Tidak akan, sayang. Aku kan sudah memasukkannya ke dalam daftar prioritas utama, nomor satu lagi." Jawab Dave, sambil mengecup keningku dengan lembut.
Setelah puas bersantai dan menikmati suasana di taman, Dave tiba-tiba berdiri dan menarik tanganku.
"Ayo, sayang ikut aku. Aku tahu tempat makan bakso yang sangat enak di dekat sini. Kamu pasti akan suka." Ucap Dave, dengan nada bersemangat.
Aku sedikit terkejut dengan ajakannya yang tiba-tiba, tapi aku tidak menolak. Aku tahu Dave sangat menyukai bakso, dan aku selalu senang mencoba hal-hal baru bersamanya.
"Oke, Dave. Ayo kita coba baksonya. Aku jadi penasaran seenak apa bakso yang kamu rekomendasikan." Jawabku, sambil tersenyum manis.
Kami berjalan kaki menuju warung makan bakso yang dimaksud Dave. Ternyata, tempatnya tidak terlalu jauh dari taman kota. Warung makan itu terlihat sederhana, tapi cukup ramai dikunjungi oleh orang-orang. Aroma kuah baksonya yang gurih langsung menusuk hidungku, membuat perutku keroncongan.
"Di sini tempatnya, sayang. Kita duduk di sana saja ya." Ucap Dave, sambil menunjuk ke sebuah meja kosong di sudut tempat makan itu.
Kami memesan dua mangkuk bakso lengkap dengan mie, sayuran, dan taburan bawang goreng. Tidak lama kemudian, pesanan kami datang. Kuahnya tampak kental dan berwarna cokelat keemasan, sementara baksonya terlihat bulat dan kenyal.
"Wah, kelihatannya enak sekali, Dave." Kataku, dengan mata berbinar-binar.
Dave tersenyum dan mengangguk setuju. "Ini memang bakso terenak di Jakarta, sayang. Kamu memang wajib coba." Jawab Dave, dengan nada bangga.
Aku segera mengambil sendok dan mencicipi kuahnya. Rasanya benar-benar lezat! Gurih, manis, dan sedikit pedas. Aku langsung menyukainya. Kemudian, aku mencoba baksonya. Teksturnya kenyal dan lembut, dengan rasa daging yang kuat.
"Enak banget, Dave! Kamu tidak bohong. Ini memang bakso terenak yang pernah ku makan!" Seruku, dengan mulut penuh.
Dave tertawa dan mengacak-acak rambutku dengan sayang. "Aku kan selalu jujur padamu, sayang. Apalagi soal makanan." Jawab Dave, dengan nada lembut.
Kami makan bakso dengan lahap, sambil sesekali bercanda dan tertawa. Aku merasa sangat bahagia dan bersyukur bisa menghabiskan waktu bersamanya. Meskipun sederhana, momen-momen seperti ini sangat berarti bagiku. Aku tahu bahwa cinta tidak harus selalu tentang hal-hal mewah atau romantis yang berlebihan. Kadang-kadang, hal-hal kecil seperti makan bakso bersama di warung makan pinggir jalan pun bisa menjadi sangat istimewa.
Kami masing-masing menghabiskan dua mangkok bakso. Rasanya benar-benar lezat dan membuatku ketagihan. Kuahnya yang kaya rempah dan bakso yang kenyal seolah menari-nari di lidahku, memanjakan setiap indera pengecapku. Aku bisa merasakan kebahagiaan Dave saat melihatku menikmati makanan kesukaannya. Ia tersenyum lebar, matanya berbinar penuh cinta. Setelah perut kami telah terisi penuh, Dave mengajakku pulang ke apartemen kami.
"Sudah lama kita tidak bersantai di rumah. Aku ingin menghabiskan waktu berdua denganmu." Ucap Dave, sambil menggenggam tanganku erat.
Aku mengangguk setuju, hatiku menghangat mendengar perkataannya. Aku merindukan saat-saat ketika kami bisa bermalas-malasan di sofa, menonton film, atau sekadar mengobrol tanpa beban.
Kami berjalan menuju ke tempat parkir, di tempat Dave tadi memarkirkan mobilnya dan segera pulang ke apartemen. Hari sudah mulai gelap, kami sudah puas berkeliling hari ini di taman kota.
Sesampainya di apartemen, Dave langsung membukakan pintu untukku. Aku masuk lebih dulu, diikuti olehnya. Aku melepas sepatu dan meletakkannya di rak, kemudian berjalan menuju ke ruang tengah.
"Kamu mau minum sesuatu, sayang? Bagaimana kalau aku buatkan teh hangat?" Tanya Dave, sambil meletakkan kunci di atas meja.
"Boleh, Dave."
Jawabku, sambil duduk di sofa.
Dave berjalan menuju dapur dan mulai menyiapkan teh hangat. Aku mengamati sekeliling ruangan, memperhatikan setiap detailnya. Apartemen kami memang tidak terlalu besar, tapi cukup nyaman dan fungsional. Foto-foto kami berdua terpajang di dinding, mengingatkanku akan kenangan-kenangan indah yang pernah kami lalui bersama.
Tidak lama kemudian, Dave datang membawa dua cangkir teh hangat. Ia meletakkan salah satunya di atas meja, kemudian duduk di sampingku dan merangkulku.
"Ini tehnya, sayang. Hati-hati ya, masih panas soalnya." Ucap Dave, sambil menyerahkan cangkir teh kepadaku.
Aku menerima cangkir teh itu dan menyesapnya perlahan. Rasanya manis dan menenangkan, membuatku merasa lebih rileks.
"Terima kasih, Dave. Tehnya enak sekali." Kataku, sambil tersenyum.
Dave membalas senyumku dan mengecup pipiku dengan lembut. "Sama-sama, sayang." Jawabnya lembut.
Kami berdua terdiam sejenak, menikmati keheningan yang terasa begitu damai. Aku menyandarkan kepalaku di bahu Dave, merasakan detak jantungnya yang berirama. Aku merasa begitu dekat dan terhubung dengannya.
Bersantai sejenak di sofa sambil menonton film komedi romantis. Aku masih menyandarkan kepalaku di bahu Dave, menikmati setiap momen kebersamaan kami. Sesekali kami tertawa bersama, kami terhibur dengan adegan-adegan lucu yang ada di film.
Waktu berlalu begitu cepat, tanpa terasa film akhirnya berakhir. Aku menguap lebar, merasa kantuk mulai menyerangku. Dave juga terlihat sama mengantuknya denganku.
"Sepertinya kita sudah harus tidur, sayang. Lagipula, sudah larut malam juga." Ucap Dave, sambil mematikan televisi.
Aku mengangguk setuju dan bangkit dari sofa. "Iya, sepertinya mataku juga sudah tidak kuat lagi menahan kantuk, Dave" Balasku, sambil meregangkan otot-ototku yang terasa kaku.
Kami berdua berjalan menuju kamar masing-masing, mengucapkan selamat malam sebelum tidur. Aku masuk ke kamarku dan langsung merebahkan diri di tempat tidur. Aku merasa lelah sekaligus bahagia. Lelah karena seharian beraktivitas, dan bahagia karena bisa menghabiskan waktu berkualitas bersama Dave.
Sebelum memejamkan mata, aku menyempatkan diri untuk berdoa, memohon agar hubungan kami selalu dilindungi dan dijauhkan dari segala macam masalah. Aku berharap Dave bisa benar-benar berubah dan menjadi kekasih yang lebih perhatian dan penyayang. Aku ingin cinta kami tetap bersemi dan abadi selamanya.
Perlahan-lahan, kesadaranku mulai menghilang dan aku pun terlelap dalam tidur yang nyenyak. Aku bermimpi indah tentang masa depan kami berdua, tentang keluarga bahagia yang kami impikan.
Waktu memang begitu cepat berlalu. Tanpa terasa, sudah dua minggu kami melewati hari-hari dengan kesibukan pekerjaan kami masing-masing.
Hari ini adalah perayaan hari jadi kami yang ke enam. Setelah jam pulang kantor, aku lekas kembali ke apartemen. Aku sudah tidak sabar untuk makan malam romantis di restoran Prancis di jalan Akasia malam ini dengan Dave, hal yang sudah lama aku rencanakan.
Aku ingin tampil cantik dan sexy di hadapan Dave nanti malam. Aku membuka lemari dan memilih gaun merah yang baru kubeli.
Setelah mandi dan berdandan, aku menghampiri meja rias dan mulai merias wajahku. Aku memilih riasan natural yang menonjolkan kecantikanku. Aku tidak ingin terlihat berlebihan, tapi tetap ingin mempesona di mata Dave. Setelah selesai, aku menyemprotkan parfum favoritku, aroma bunga mawar yang lembut dan menenangkan.
Aku melihat jam dinding. Masih ada setengah jam dari waktu janjian kami. Aku mengambil kertas dan menulis di kertas surat untuk mengingatkan Dave dan kuletakkan di meja kecil dekat sofa. Aku ingin berangkat duluan dan memberi kejutan untuknya di sana. Semoga Dave menyukai kejutan dariku. Kemudian aku pun memesan taksi online dan berangkat duluan.