Bab 4 - Mau es krim?

1591 Words
"Enak, kan?" tanya Dave, menatapku dengan tatapan hangat. Aku mengangguk kecil, mencoba menikmati makanan yang sebenarnya terasa hambar di lidahku. Kami makan dalam diam, hanya suara denting sendok dan garpu yang terdengar. Aku bisa merasakan tatapan Dave padaku, namun aku berusaha menghindarinya. Aku tidak ingin larut dalam emosi lagi. Aku ingin makan malam ini berjalan dengan tenang, tanpa pertengkaran atau air mata. Setelah beberapa saat, Dave membuka suara. "Laura, aku benar-benar minta maaf. Aku tahu kata-kata saja tidak cukup, tapi aku janji aku akan berusaha untuk menjadi lebih baik. Aku akan lebih perhatian padamu, aku akan meluangkan waktu untukmu. Karena aku tidak ingin kehilangan kamu." Aku menghela napas, meletakkan sendok dan garpuku. "Dave, aku juga tidak ingin kehilangan kamu. Tapi, aku tidak bisa terus seperti ini. Aku merasa sendiri dalam hubungan ini. Aku merasa kamu tidak lagi mencintaiku." "Itu tidak benar, Laura! Aku sangat mencintaimu. Aku hanya... aku terlalu fokus pada pekerjaan. Aku tidak bermaksud mengabaikanmu, sayang." Bantah Dave, kemudian dia meraih tanganku. Aku merasakan sentuhannya, namun tidak lagi merasakan getaran yang sama seperti dulu. "Aku tahu kamu sibuk, Dave. Tapi, kesibukan bukanlah alasan untuk melupakan aku. Aku juga punya perasaan. Aku juga butuh perhatian dan kasih sayang." Ujarku, suaraku sedikit bergetar. Dave menggenggam tanganku dengan erat. "Aku tahu, sayang. Aku tahu. Aku janji aku akan memperbaikinya." Aku menatap matanya, mencari kejujuran di sana. Aku melihat penyesalan, harapan, dan cinta yang masih tersisa. Aku ingin percaya padanya. Aku ingin memberikan kesempatan untuknya, dan untuk hubungan kami. "Aku akan memberikanmu kesempatan, Dave. Tapi, kuharap kamu tidak mengecewakanku lagi. Jika kamu mengecewakanku lagi, aku tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya." Kataku tegas, namun air mata mulai menggenang di pelupuk mataku. "Aku mengerti, Laura. Aku janji aku akan berusaha untuk tidak mengecewakanmu. Aku akan melakukan apapun untuk membuatmu bahagia." Jawab Dave, suaranya penuh kesungguhan. Ia bangkit dari kursinya dan berlutut di hadapanku, menggenggam kedua tanganku erat. Aku tersenyum, air mata akhirnya jatuh membasahi kedua pipiku. Aku mengulurkan tanganku dan menyentuh pipi Dave. "Aku mencintaimu, Dave. Aku harap kita bisa melewati semua ini bersama." Dave mencium tanganku dengan lembut, lalu berdiri dan memelukku erat. Aku membalas pelukannya, merasakan kehangatan dan ketenangan yang sudah lama tidak ku rasakan. Mungkin, masih ada harapan untuk kami. Mungkin, kami bisa membangun kembali cinta yang pernah hilang. Aku hanya bisa berharap, dan berusaha untuk tidak kecewa lagi. Dave membantuku membereskan piring kotor yang ada di atas meja. Gerakannya canggung, seolah sudah lama tidak melakukan pekerjaan rumah. Aku tersenyum kecil melihat usahanya, berusaha menghargai niat baiknya. Biasanya, aku yang selalu membereskan semuanya sendiri, sementara dia sibuk dengan laptop dan pekerjaannya. "Biar aku saja yang mencuci, Dave" Ujarku, mengambil alih piring-piring dari tangannya. "Tidak, aku ingin bantu kamu, sayang." Sahutnya cepat, merebut kembali piring dari tanganku. Ia menyalakan keran dan mulai mencuci piring dengan hati-hati. Aku berdiri di sampingnya, mengeringkan piring yang sudah dicucinya. Kami bekerja dalam diam, hanya suara gemericik air yang menemani. Selesai mencuci piring, suasana terasa sedikit lebih cair. Tidak ada lagi ketegangan yang menyelimuti kami. Aku merasa sedikit lega, seolah beban berat telah terangkat dari pundakku. "Sudah malam, sebaiknya kita tidur, Dave" Kataku, memecah keheningan. Dave mengangguk setuju. "Kamu duluan saja. Aku masih mau menyelesaikan sedikit pekerjaan dulu, sayang." Jawab Dave, kemudian meraih laptopnya yang tergeletak di meja makan. Aku menghela napas. Kebiasaan lamanya belum juga hilang. "Baiklah, Dave." Jawabku singkat, lalu berbalik dan berjalan menuju kamar tidurku. Aku merebahkan diri di tempat tidur, menatap langit-langit kamar. Pikiranku masih dipenuhi dengan percakapan kami tadi. Apakah Dave benar-benar akan berubah? Apakah ia akan memenuhi janjinya? Aku ingin percaya padanya, tapi aku juga takut kecewa lagi. Tak lama kemudian, aku mendengar suara pintu kamar Dave tertutup. Aku tahu ia sudah selesai bekerja dan masuk ke kamarnya. Aku memejamkan mata, mencoba untuk tidur. Namun, bayangan wajah Dave terus berputar di benakku. Aku membuka mata dan meraih ponselku di atas nakas. Aku mengirimkan pesan singkat kepada Dave. "Selamat malam, Dave." Tulisku. Tak lama kemudian, ponselku bergetar. Ada balasan dari Dave. "Selamat malam juga, sayang. Mimpi indah ya." Balasnya. Aku tersenyum kecil membaca pesannya. Aku kembali memejamkan mata, mencoba untuk tidur. Aku berharap, esok hari akan menjadi awal yang baru bagi kami, awal dari hubungan yang lebih baik dan lebih harmonis. Aku berharap, Dave akan benar-benar membuktikan cintanya kepadaku, bukan hanya dengan kata-kata, tapi juga dengan tindakan nyata. Keesokan paginya, aku bangun dari mimpi indahku. Yang tidak biasa adalah, aku mencium aroma makanan. Aku yang penasaran segera bangun dan keluar dari kamar. Mataku langsung tertuju pada sosok Dave yang sedang berdiri di depan kompor, mengenakan celemek berwarna biru langit. Ia tampak begitu fokus membalik-balik sesuatu di atas teflon. "Selamat pagi, sayang." Sapa Dave riang, tanpa menoleh ke arahku. "Aku buatin sarapan, nih." Ucap Dave lagi, masih fokus pada masakannya. Aku tertegun sejenak. Ini seperti mimpi. Biasanya, hari libur seperti ini dia masih tidur pulas, aku yang bangun lebih dulu dan menyiapkan sarapan untuk kami berdua. Tapi sekarang, Dave yang melakukannya. "Pagi juga Dave. Kamu masak apa?" Jawabku, masih sedikit terkejut. "Telur dadar spesial, sayang." Jawabnya, dengan nada bangga. "Aku menambahkan sedikit keju dan jamur di dalamnya. Semoga kamu suka." Lanjut Dave lagi. Aku mendekat dan mengintip ke dalam teflon. Telur dadar itu terlihat menggiurkan, dengan warna kuning keemasan yang menggoda. Aroma kejunya juga sangat menggugah selera. "Sepertinya enak nih" Komentarku, sambil tersenyum lebar. Dave memindahkan telur dadar itu ke atas piring dan menghiasnya dengan irisan tomat dan mentimun. Ia lalu meletakkan piring itu di atas meja makan, yang sudah tertata rapi dengan dua buah gelas berisi jus jeruk dan sekeranjang roti panggang. "Duduklah, sayang. Selamat menikmati, semoga kamu suka." Ujar Dave, sambil menarikkan kursi untukku. Aku duduk di kursi dan menatap hidangan di depanku dengan rasa haru. Ini adalah sarapan terindah yang pernah aku terima dari Dave. Bukan karena rasa makanannya, tapi karena usahanya. Ia benar-benar berusaha untuk membahagiakanku. "Terima kasih, Dave." Ucapku tulus, menatap matanya. Dave tersenyum lembut dan menggenggam tanganku. "Aku yang seharusnya berterima kasih padamu, karena sudah memberiku kesempatan." Ujar Dave. "Aku janji, aku tidak akan mengecewakanmu lagi." Ujar Dave lagi. Aku membalas genggaman tangannya dan mengangguk pelan. Aku ingin percaya padanya. Aku ingin memberikan kesempatan ini untuk kami berdua. Aku ingin melihat apakah ia benar-benar bisa berubah dan menjadi pria yang dulu pernah aku cintai. Kami menikmati sarapan dalam suasana yang hangat dan penuh cinta. Sesekali, Dave bercerita tentang pekerjaannya, tentang proyek-proyeknya yang sedang berjalan. Aku mendengarkannya dengan penuh perhatian, berusaha untuk memahami dunianya. Aku ingin menjadi bagian dari hidupnya, bukan hanya sebagai kekasih, tapi juga sebagai sahabat dan pendukungnya. Selesai sarapan, Dave menawarkan untuk mencuci piring. Aku menolaknya, mengatakan bahwa ia sudah terlalu banyak membantuku hari ini. Tapi ia bersikeras, dan akhirnya aku mengalah. Kami mencuci piring bersama-sama, sambil bercanda dan tertawa. Suasana di dapur terasa begitu menyenangkan dan harmonis. Aku merasa seperti kembali ke masa-masa awal pacaran kami, saat kami masih saling jatuh cinta dan dunia ini terasa begitu indah. Setelah selesai dengan urusan dapur, Dave mengajakku untuk berjalan-jalan di taman kota. Aku setuju dengan senang hati. Aku ingin menghabiskan waktu bersamanya, menikmati setiap momen yang kami miliki. Aku ingin menunjukkan kepadanya bahwa aku mencintainya, dan bahwa aku bersedia untuk berjuang demi hubungan kami. Setelah menyelesaikan pekerjaan rumah, aku dan Dave pergi ke taman kota. Kami berjalan-jalan, menikmati pemandangan sekitar. Udara segar menerpa wajahku, membawa aroma bunga yang semerbak. Aku menggandeng lengan Dave erat-erat, merasakan kehangatan tubuhnya yang menenangkan. Taman itu ramai oleh pengunjung. Anak-anak berlarian sambil tertawa riang, pasangan muda duduk di bangku taman sambil bercengkrama, dan para lansia berjalan santai menikmati pagi yang cerah. Aku merasa damai berada di tengah keramaian ini, seolah-olah semua masalahku hilang ditelan oleh suasana yang menyenangkan. Dave menunjuk ke arah penjual es krim di seberang jalan. "Mau es krim?" Tanyanya, dengan senyum manis. Aku mengangguk setuju. "Boleh, Dave. Rasa cokelat, ya." Jawabku, tersenyum. Dave berjalan menghampiri penjual es krim dan memesan dua buah es krim cokelat untuk kami. Ia kembali dengan membawa dua buah cone es krim di tangannya. Aku menerima es krim darinya dan langsung menggigitnya. Rasa cokelatnya begitu nikmat, membuatku merasa bahagia. "Enak tidak?" Tanya Dave, tersenyum melihat ekspresiku. "Ini enak banget. Makasih ya." Jawabku sambil mengacungkan jempol. Kami berjalan menyusuri taman sambil menikmati es krim kami. Sesekali, kami berhenti untuk melihat bunga-bunga yang berwarna-warni atau mengamati burung-burung yang beterbangan di atas kepala kami. Aku merasa seperti kembali menjadi seorang remaja yang sedang jatuh cinta. Tiba-tiba, Dave berhenti di depan sebuah danau kecil yang tenang. Di tengah danau, terdapat air mancur yang menyemburkan air ke udara, menciptakan pelangi kecil yang indah. "Indah, ya?" Kata Dave, menatap danau dengan kagum. Aku mengangguk setuju. "Iya, indah banget, Dave. Aku suka tempat ini." Jawabku sambil tersenyum. Kami duduk di bangku taman yang menghadap ke danau dan menikmati pemandangan yang menenangkan. Aku menyandarkan kepalaku di bahu Dave, merasakan kenyamanan yang sudah lama tidak aku rasakan. "Laura.." Panggil Dave, lembut. Aku mendongak menatapnya. "Ya Dave, ada apa?" "Aku ingin minta maaf sekali lagi padamu. Aku tahu aku sudah membuatmu kecewa dan sakit hati. Aku janji, aku akan berusaha untuk menjadi pria yang lebih baik untukmu. Aku akan memberikanmu perhatian dan cinta yang pantas kamu dapatkan." Ujar Dave, dengan nada serius. Aku terharu mendengar kata-katanya. Aku tahu ia tulus dalam ucapannya. Aku bisa melihatnya dari matanya yang penuh dengan penyesalan. "Aku percaya padamu, Dave. Aku percaya bahwa kita bisa memperbaiki hubungan ini. Karena aku mencintaimu." Kataku, menggenggam tangannya erat-erat. Dave tersenyum lega dan menarikku ke dalam pelukannya. "Aku juga mencintaimu, Laura." Bisiknya di telingaku. Aku berharap, cinta kami akan tetap bertahan lama. Aku ingin menunjukkan padanya bahwa hubungan ini masih sangat berarti untukku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD