Bab 3 - Aku lelah

1578 Words
Sesampainya di supermarket, aku mengambil troli dan mulai menyusuri rak-rak makanan. Aku teringat daftar belanjaan yang sudah aku susun tadi siang. Daging sapi segar, sayuran hijau, buah-buahan berwarna cerah, ikan salmon, dan berbagai macam bumbu dapur. Aku ingin memasak makanan yang spesial dan lezat untuk Dave, makanan yang bisa membangkitkan selera makannya dan membuatnya merasa diperhatikan. Aku memilih daging sapi dengan hati-hati, memastikan tidak ada lemak berlebihan. Kemudian beralih ke rak sayuran dan memilih brokoli, wortel, dan paprika merah. Aku juga mengambil beberapa buah tomat ceri dan daun selada untuk hiasan. Di bagian ikan, aku memilih sepotong salmon segar dengan warna oranye yang menggoda. Aku sudah bisa membayangkan bagaimana harumnya salmon panggang nanti, dipadu dengan saus lemon dan taburan peterseli. Setelah semua bahan utama sudah terkumpul, tidak lupa ke bagian bumbu dapur, mengambil bawang putih, bawang merah, cabai, jahe, kunyit, dan berbagai macam rempah-rempah lainnya, serta saus tiram, kecap manis, dan minyak wijen untuk menambah cita rasa masakan. Aku bahkan membeli sebotol anggur merah, membayangkan kami menyesapnya sambil menikmati makan malam romantis. Sambil menunggu antrean di kasir, aku melihat kembali isi troli belanjaan. Semua terlihat segar dan menggugah selera. Aku berharap, Dave akan menyukai semua yang telah aku siapkan ini. Aku ingin menunjukkan kepada Dave bahwa aku masih peduli dan mencintai Dave, meskipun kami sedang mengalami masa-masa sulit. Aku ingin mengembalikan kehangatan dan keintiman yang dulu pernah ada di antara kami. Setelah kasir selesai menghitung, aku pun segera membayarnya, lalu memesan taksi online dan pulang ke apartemen. Di perjalanan pulang, aku menelpon Helen untuk datang dan membantuku memasak. Untungnya dia sedang senggang, jadi dia bersedia datang membantuku, kebetulan dia itu sangat pandai masak. Rumah Helen tidak terlalu jauh dari apartemenku, jadi ketika aku sampai, Helen juga sudah sampai dan menungguku di depan. Segera kami masuk ke dalam dan kami mulai membersihkan sayur dan buah yang baru ku beli tadi, lalu membersihkan daging dan ikan. Kami akan memasak bermacam-macam jenis makanan. "Helen, kamu kan pandai masak, bantu aku menyiapkan makanan yang lezat, ok!" Ucapku dengan nada memohon. "Tentu saja, Laura. Apapun untukmu! Memangnya kamu mau masak apa saja malam ini? Sepertinya banyak sekali bahan-bahannya." Jawab Helen dengan senyum lebarnya. Aku tersenyum tipis. Kehadiran Helen benar-benar membantu meredakan kegugupanku. "Aku berencana membuat steak salmon dengan saus lemon, daging sapi lada hitam, dan salad sayuran. Terus, sebagai penutup, aku mau bikin puding cokelat kesukaan Dave." Jawabku antusias. Mata Helen berbinar. "Wah, terdengar sangat mewah! Dave pasti senang sekali." "Itulah harapanku, Helen. Aku cuma ingin dia tahu kalau aku masih peduli dan berusaha untuk memperbaiki hubungan kami ini." Ucapku sambil menghela napas. Aku dan Helen mulai bekerja sama di dapur. Aku mencuci sayuran dan buah-buahan, sementara Helen membersihkan daging sapi dan ikan salmon. Helen dengan cekatan memotong bahan-bahan, sementara aku menyiapkan bumbu-bumbunya. Aroma bawang putih, bawang merah, dan rempah-rempah mulai memenuhi ruangan, hingga dapat membuat perut keroncongan. "Helen, menurutmu, Dave akan suka dengan semua ini?" Tanyaku ragu. Helen menoleh dan menatapku dengan tatapan meyakinkan. "Tentu saja, Laura. Siapa yang bisa menolak masakan seenak ini? Apalagi, semua ini kamu masak dengan cinta." Aku tersenyum mendengar kata-kata Helen. Aku berharap, Helen benar. Aku berharap, Dave bisa merasakan cinta dan perhatian yang aku curahkan dalam setiap hidangan yang aku masak ini. Aku berharap, malam ini bisa menghangatkan hubungan kami kembali. Setelah beberapa jam berkutat di dalam dapur, akhirnya semua masakan selesai juga. Meja makan sudah tertata rapi dengan taplak meja putih bersih, lilin-lilin aromaterapi, dan sebotol anggur merah. Aku dan Helen berdiri di depan meja makan, mengagumi hasil kerja keras kami. "Sempurna. Sekarang kamu hanya tinggal menunggu Dave pulang." Aku melirik jam dinding. Sudah pukul sembilan malam. Biasanya, jam segini Dave sudah sampai di rumah. Aku berharap, Dave segera pulang. Aku berharap, Dave tidak terjebak macet atau terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Aku hanya bisa berdoa dan berharap, Dave lekas pulang dan menghargai usaha yang telah aku lakukan untuknya. Aku menatap Helen, lalu menghela napas. "Semoga saja semuanya berjalan dengan lancar. Terima kasih banyak, Helen" Ucapku tersenyum sambil memegang kedua tangan sahabatku itu, mencoba menyembunyikan kegugupanku yang semakin menjadi-jadi. Helen mengangguk pelan, "Jangan sungkan Laura, itulah gunanya sahabat." 'Apa Dave benar-benar pulang cepat? Apa dia akan menyukai semua ini? Apa usahaku ini tidak akan sia-sia?' Batinku. Helen tersenyum dan menepuk pundakku, mencoba menenangkanku. Aroma masakan yang memenuhi ruangan sedikit menenangkan. "Sudah, jangan terlalu dipikirkan, Laura. Dave pasti akan segera pulang. Dia kan sayang sama kamu." Ucap Helen, seolah membaca pikiranku. Aku mencoba tersenyum, tapi bibirku terasa kaku. "Aku harap juga begitu, Helen" Jawabku pelan. Tiba-tiba, terdengar suara pintu apartemen terbuka. Jantungku langsung berdegup kencang. Aku menahan napas dan berjalan ke arah pintu. Sosok Dave muncul di ambang pintu, dengan wajah lelah dan rambut sedikit berantakan. "Aku pulang, sayang." Ucap Dave dengan suara berat. Aku dan Helen saling bertukar pandang. Aku memberi isyarat pada Helen dan dia mengangguk mengerti. "Aku permisi dulu ya, Laura. Semoga sukses!" Bisiknya sambil berlalu menuju pintu keluar. Aku menarik napas dalam-dalam dan menghampiri Dave. "Selamat datang, Dave." Sapaku dengan senyum yang dipaksakan. Dave menatapku dengan tatapan bingung. "Ada apa ini? Kenapa ada lilin-lilin segala?" Tanyanya sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Aku berusaha mempertahankan senyumku. "Aku masak makan malam spesial untukmu, Dave." Jawabku sambil menunjuk ke arah meja makan. Mata Dave sedikit melebar. "Makan malam spesial? Untukku?" Tanyanya dengan nada tidak percaya. Aku pun mengangguk. "Iya. Aku ingin kita bisa menghabiskan waktu bersama malam ini." Dave terdiam sejenak, lalu menghela napas. "Laura, aku lelah sekali. Aku nggak yakin bisa menikmati makan malam romantis seperti ini, karena aku tadi sudah makan malam dengan Klien di luar." Kata-kata Dave bagaikan pisau yang menghunus jantungku. Aku berusaha menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk mata. "Aku tahu kamu lelah, Dave. Tapi, aku sudah berusaha keras menyiapkan semua ini untukmu. Apa kamu tidak bisa menghargaiku sedikit saja? Makan sedikit juga tidak apa-apa." Dave menatapku dengan tatapan bersalah. "Aku tidak bermaksud begitu, Laura. Aku hanya..." "Hanya apa, Dave? Hanya terlalu sibuk dengan pekerjaanmu? Hanya terlalu lupa denganku?" Potongku dengan nada getir. Dave tidak menjawab. Dia hanya menunduk, menghindari tatapanku. Aku merasa air mataku sudah mau menetes. Aku tidak sanggup lagi menahan emosi yang sudah lama ku pendam. "Aku lelah, Dave. Aku lelah merasa diabaikan. Aku lelah merasa tidak berarti bagimu." Ucapku dengan suara bergetar. Aku berbalik dan berlari menuju kamar tidur, meninggalkan Dave yang terdiam di ruang makan. Aku menjatuhkan diri di tempat tidur dan menangis sejadi-jadinya. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku hanya tahu, hatiku sangat sakit saat ini. Aku benar-benar tidak tahu apakah hubungan kami masih bisa diselamatkan. Aku hanya bisa berharap, keajaiban akan datang dan mengubah segalanya. Namun, dalam hatiku yang terdalam, aku merasa harapan itu semakin menipis dari waktu ke waktu. Dave, yang merasa bersalah dan menyesal atas perkataannya, dengan ragu mengetuk pintu kamarku. "Laura? Aku ingin minta maaf padamu." ucap Dave lirih, suaranya nyaris tak terdengar di balik pintu. Tidak ada jawaban. Hening. Hanya isakanku yang samar yang mungkin bisa Dave dengar. "Sayang, buka pintunya, ya? Aku tahu aku salah. Aku yang tidak peka. Maafkan aku, sayang." Dave terus membujuk, mencoba meruntuhkan pertahananku. Aku hanya terisak, memeluk erat bantal, berusaha meredam tangisku. Aku tidak ingin melihatnya. Aku tidak ingin mendengar suaranya. Aku hanya ingin sendiri, meratapi kesedihan dan kekecewaan yang menggerogoti hatiku. Dave tidak menyerah. Aku bisa mendengar dia mencoba membuka pintu, namun pintu telah ku kunci dari dalam. "Laura, please. Aku tahu kamu marah, tapi biarkan aku menjelaskan. Aku tidak bermaksud menyakitimu." Aku tetap diam, tidak bergeming. Aku tahu Dave merasa bersalah, tapi rasa sakit di hatiku terlalu besar untuk diabaikan begitu saja. Aku merasa lelah, lelah berjuang sendirian dalam hubungan ini. "Oke, aku nggak akan memaksamu membuka pintu. Tapi, bisakah kamu mendengarkanku? Aku tahu ini bukan waktu yang tepat, tapi aku ingin kita makan malam bersama. Aku tahu perutku masih kenyang, tapi aku tidak ingin makan malam yang sudah kamu buat dengan susah payah terbuang sia-sia." Kata Dave akhirnya, suaranya terdengar pasrah. Aku terdiam, mempertimbangkan permintaannya. Aku memang memasak semua ini untuknya. Aku ingin menikmati malam yang indah bersama Dave. Tapi, apakah mungkin? Apakah aku sanggup duduk bersama Dave, berpura-pura semuanya baik-baik saja, setelah semua yang terjadi? "Aku akan menunggumu di ruang makan, sayang. Aku akan menunggu sampai kamu datang. Kalau kamu tidak mau keluar, tidak apa-apa. Aku akan mengerti. Tapi, aku harap kamu tahu, aku sangat menyesal. Aku sayang kamu, Laura." Lanjut Dave lagi. Setelah mengucapkan kata-kata itu, Dave menjauh dari pintu. Aku masih terbaring di tempat tidur, membiarkan air mataku terus mengalir. Aku memejamkan mata, mencoba menenangkan diri. Aku tahu jika Dave tulus meminta maaf. Aku tahu Dave mencintaiku. Tapi, apakah itu cukup? Apakah cinta saja cukup untuk mengatasi semua masalah yang kami hadapi? Perlahan, aku bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju cermin. Aku menatap diriku sendiri. Mataku merah dan bengkak, rambutku berantakan. Aku terlihat sangat menyedihkan. Aku menarik napas dalam-dalam dan mencoba tersenyum. Kemudian aku membasuh wajahku dengan air dingin, merapikan rambutku dan keluar dari kamar. Aku berjalan menuju ruang makan. Dave sudah menungguku di sana, duduk di meja makan dengan tatapan kosong. Dave menatapku ketika aku muncul, matanya sedikit berbinar. "Dave." sapaku pelan. "Laura, sini duduk. Mau makan?" Tanya Dave, tersenyum tipis. Aku mengangguk. "Iya." Dave dengan sigap mengambilkan nasi dan lauk pauk untukku, persis seperti yang biasa ia lakukan dulu, saat kami masih dimabuk asmara. Dave menuangkan anggur merah yang telah ku siapkan sebelumnya, aroma anggur itu memenuhi ruangan, sedikit menenangkan hati Dave membujukku seperti membujuk anak kecil yang merajuk, berusaha membuatku tersenyum. Mungkinkah ini adalah penebusan rasa bersalahnya padaku?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD