Pria itu sibuk memperhatikan arus lalu lintas di depannya. Menyetir dengan satu tangan dan sambil memegang ponsel di tangan satunya lagi. Aku sangat marah melihat tampilanku yang sangat menjijikkan ini dan terus mengumpat kesal karena emosi. "Kalau nyetir pakai mata dong!" Umpatku kasar, padahal aku tahu dia tidak akan bisa mendengarnya. Aku juga tidak berharap pria itu dapat mendengar makianku karena mobil itu sudah agak jauh. Akhirnya aku mengeluarkan tisu basah yang ada di dalam tasku, menyeka lumpur di wajahku terlebih dahulu, baru setelahnya aku menyeka lumpur di bagian tubuhku yang lain. Namun yang tidak pernah kubayangkan ternyata pria itu membuka jendela mobilnya dan menatap ke arahku. Selama beberapa detik, kami saling menatap wajah satu sama lain. Walau hanya sekilas saja, t

