bc

Jodoh Pilihan Mertua Untuk Suamiku

book_age18+
3.3K
FOLLOW
26.8K
READ
HE
opposites attract
arranged marriage
dominant
heir/heiress
drama
bxg
affair
like
intro-logo
Blurb

“Tolong izinkan Jeffry untuk poligami, kasihan Sarita! Bagaimanapun mereka lebih dulu menjalin hubungan sebelum menikah denganmu!"

-

Janna termenung mendengar ucapan perempuan setengah baya bernama Nani yang baru saja menjadi mertuanya 20 menit lalu. Pikiran Janna benar-benar bingung. Ia masih menatap mertuanya dengan pandangan kosong. Aroma melati dari sanggulnya masih tercium wangi, kebaya pengantinnya pun masih ia kenakan. Tak hanya itu, bahkan petugas KUA yang menikahkannya masih ada di sana. Lantas kenapa mertuanya bisa meminta hal seperti itu, hanya karena ada seorang perempuan yang terjatuh dari tangga di gedung pernikahan mereka. Acara akad nikah sederhana yang awalnya berjalan lancar pun menjadi kacau karena perempuan yang terjatuh itu adalah Sarita.

-

Di saat Janna hendak mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, ia ditarik ke sebuah ruangan oleh mertua perempuannya dan langsung diminta untuk melakukan sesuatu hal yang wanita manapun akan berat melakukannya. Mengizinkan suaminya untuk menikah lagi.

-

Para tamu undangan masih tampak ramai hilir mudik mencari tahu apa yang terjadi pada Sarita, sedangkan Janna hanya bisa duduk termenung di pelaminan tanpa pengantin laki-laki yang duduk mendampingi karena suaminya lebih memperhatikan Sarita.

-

Akankah Janna mampu bertahan dalam pernikahannya atau malah melepas Jeffry pergi untuk bersama perempuan yang selama ini menjadi pilihan mertuanya?

chap-preview
Free preview
Istri yang dibuang
“Tolong izinkan Jeffry untuk berpoligami. Kasihan Sarita! Bagaimanapun, mereka sudah lebih dulu menjalin hubungan jauh sebelum Jeffry menikah denganmu!” Janna termenung. Kalimat yang baru saja terlontar dari bibir perempuan setengah baya di hadapannya terasa menghantam d**a dengan telak. Perempuan itu adalah Nani, sosok yang baru resmi menjadi ibu mertuanya tepat dua puluh menit yang lalu. Pikiran Janna mendadak kosong. Ia menatap wanita di depannya dengan pandangan tanpa arah, seolah-olah jiwanya baru saja dicabut paksa dari raga. Aroma melati yang terajut rapi di sanggulnya masih menyebarkan wangi khas pengantin yang segar. Kebaya putih berpayet indah yang ia kenakan bahkan belum tersentuh noda sedikit pun. Di ruang tengah rumah keluarga suaminya, petugas KUA yang baru saja meresmikan pernikahan mereka bahkan masih terlihat sibuk merapikan berkas-berkas di meja akad. Segala sesuatunya masih begitu hangat, namun impian indahnya hancur berkeping-keping dalam hitungan detik. Semua kekacauan ini bermula dari sebuah insiden di tangga gedung acara. Suasana akad nikah sederhana yang semula berjalan khidmat dan lancar mendadak berubah menjadi kepanikan massal. Seorang perempuan jatuh berguling dari tangga hingga tak sadarkan diri. Perempuan itu adalah Sarita, adik angkat Jeffry—suami yang baru saja mengucapkan ijab kabul untuk Janna. Di saat Janna yang masih kebingungan berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, tangan dingin Nani tiba-tiba menariknya paksa ke dalam sebuah ruangan tertutup. Tanpa basa-basi, mertuanya itu mengajukan permintaan gila yang mustahil bisa diterima oleh wanita manapun di dunia ini. “Bicara apa kamu! Sudah, jangan pernah dengarkan ucapannya!” Sebuah suara berat memotong tegas dari arah pintu. Janna yang masih terpukul perlahan menoleh. Itu Naresh, ayah mertuanya. Pria setengah baya itu melangkah maju dengan wajah memerah menahan amarah. Jari telunjuknya teracung lurus ke arah Nani, istrinya sendiri, memberikan ancaman yang tak main-main. “Jangan macam-macam kamu, Nani! Untukku, Sarita hanyalah anak perempuan di rumah ini, dia adik untuk Jeffry! Aku tidak akan pernah mengizinkan mereka menikah, karena dari dulu mereka adalah kakak dan adik!” “Tapi mereka saling mencintai, Mas!” potong Nani dengan nada melengking, tak mau kalah. “Kamu menyiksa mereka berdua dengan memaksa Jeffry menikah dengan perempuan lain!” “Tidak!” bentak Naresh tegas, memotong argumen istrinya tanpa sisa. “Jika Jeffry sampai berani menyentuh atau menikahi Sarita, tidak akan kuberikan sepeser pun harta yang kumiliki untuknya! Dia akan keluar dari rumah ini tanpa membawa apa-apa!” Tanpa menunggu balasan Nani, Naresh segera meraih lengan Janna. Pria tua itu menarik menantu barunya keluar dari ruangan tersebut. Janna hanya bisa berjalan pasrah, melangkah terseret-seret mengimbangi langkah terburu-buru ayah mertuanya menuju pelaminan. Di pelaminan yang megah itu, Janna akhirnya duduk sendirian. Orang-orang di sekitarnya sibuk lalu-lalang dengan wajah cemas, saling berbisik membicarakan kondisi Sarita yang dilarikan ke rumah sakit. Di hari yang seharusnya menjadi hari paling membahagiakan dalam hidupnya, Janna justru berteman dengan sepi dan rasa malu, ditinggalkan oleh pengantin laki-lakinya yang memilih bergegas pergi menemani sang adik angkat. *** Satu tahun berlalu dengan begitu cepat, namun rasanya berjalan sangat lambat bagi Janna. Nyatanya, meski waktu berputar dan statusnya telah berganti menjadi istri sah Jeffry, Janna—yang terkadang dipanggil Ayun oleh keluarga dekatnya—masih merasa seperti orang asing di hidup suaminya. Jeffry tak pernah benar-benar menganggapnya ada. Sebagai seorang istri, Janna tidak pernah mendapatkan kehangatan, kelembutan, apalagi perlakuan istimewa. Pikiran dan perhatian Jeffry seolah telah terikat mati pada sosok Sarita. Pagi itu, Janna melangkah menyusuri lorong rumah sakit yang dingin. Langkah kakinya berhenti di depan sebuah pintu kamar VIP. Di sinilah ayah mertuanya dirawat setelah kondisinya kembali menurun akibat efek terapi yang melelahkan. “Sudah datang kamu, Jan?” sapa Naresh hangat begitu melihat menantunya mendorong pintu. Pria tua itu sudah duduk bersandar di atas ranjang RS sambil memegang sebuah buku. Wajahnya tampak segar setelah dibersihkan, dan piring bekas sarapan paginya sudah bersih melompong. “Tidur nyenyak tadi malam, Pa?” tanya Janna lembut. Ia mendekat dan meletakkan tas serta beberapa dokumen yang dibawanya. Bagi Janna, Naresh bukan sekadar ayah mertua, tetapi juga atasannya di kantor. “Akh, tidur Papa tidak enak sama sekali, Jan. Perut Papa rasanya sakit sekali dan mual,” keluh Naresh sambil mengusap perutnya perlahan dengan raut menahan nyeri. “Sabar ya, Pa... Namanya juga efek samping setelah kemoterapi, pasti ada rasa tidak nyaman di tubuh,” hibur Janna sembari menyerahkan beberapa berkas dokumen kantor yang membutuhkan pengecekan dan tanda tangan Naresh. Setiap pagi, rutinitas Janna selalu sama. Ia melakoni peran ganda: sebagai menantu yang berbakti sekaligus asisten pribadi ayah mertuanya. Takdir memang menggelikan. Dulu, ketika Janna tanpa sengaja melamar pekerjaan di perusahaan besar milik Naresh, pria itu langsung mengenali identitasnya. Tanpa ragu, Naresh segera mengangkat Janna menjadi asisten pribadi, dan tak lama kemudian menjodohkannya dengan Jeffry. Naresh melakukan semua itu bukan tanpa alasan. Ia ingin membalas budi kepada Saiful, ayah kandung Janna yang merupakan sahabat karibnya semasa kuliah. Dulu, Saiful bersedia mengalah dan melepaskan sebuah peluang kerja emas demi memberikan kesempatan itu kepada Naresh. Saiful tahu saat itu Yanti—istri pertama Naresh yang sedang mengandung Jeffry—sedang sakit-sakitan dan Naresh membutuhkan biaya berobat yang sangat besar. Saat pertama kali bertemu Janna di kantor, Naresh langsung jatuh hati pada kepribadian gadis itu. Janna yang periang, sedikit ceroboh, dan berjiwa bebas dinilainya sebagai pasangan yang sangat sempurna untuk Jeffry yang berkarakter kaku, dingin, dan tertutup. Naresh berharap kehadiran Janna bisa membawa warna baru dan membuat hidup Jeffry lebih fleksibel. Namun, karena Jeffry enggan, Naresh terpaksa menggunakan ancaman pencoretan nama dari daftar warisan agar putra tunggalnya itu mau menikahi Janna. “Mungkin Papa ini terlalu banyak dosa ya, Jan... Sampai-sampai Tuhan memberikan teguran dan sakit sebesar ini,” celoteh Naresh lirih sambil membolak-balikkan kertas di hadapannya dan menandatanganinya satu per satu. Janna tidak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis dan memilih mengalihkan perhatian dengan merapikan tumpukan buku di meja samping ranjang. “Sebentar lagi Mama datang kok, Pa. Kata Mama tadi, beliau sekalian mau bawakan beberapa buku baru untuk Papa baca selama di sini,” ujar Janna lembut seraya mengambil kembali file yang sudah selesai ditandatangani. Naresh tak sempat menyahut. Tiba-tiba saja wajahnya pucat. Pria tua itu bergegas turun dari ranjang dan berlari kecil menuju toilet kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya. Janna yang cemas langsung bergerak hendak membantu, namun Naresh melambaikan tangannya di udara, memberi sinyal bahwa ia baik-baik saja, lalu segera menutup pintu toilet. Suara gemericik air dari toilet terdengar samar. Janna kembali duduk di kursi samping tempat tidur, perlahan memejamkan matanya. Pikiran dan ingatannya melayang jauh, kembali ke masa lalu tepat satu tahun yang lalu. Rasa sakit hari ini rasanya belum seberapa dibanding luka yang tergores di hari pernikahannya. Dulu, sebelum hari pernikahan itu tiba, Janna sempat merasa seperti sosok Cinderella di dunia nyata. Bagaimana tidak? Dalam waktu singkat, ia mendapatkan pekerjaan yang bagus sekaligus calon suami yang tampan. Teman-teman sekantornya dulu menatapnya dengan penuh rasa iri ketika tahu bahwa pemilik perusahaan sengaja memilih Janna untuk menjadi menantu dan istri dari putranya. Memory manis sebelum pernikahan kembali terbayang di benak Janna. Perhatian-perhatian kecil yang pernah diberikan Jeffry: "Kamu sudah makan belum, Jan?" "Tunggu aku di situ ya, nanti selesai rapat aku jemput kamu di kantor Papa." "Jika kita menikah nanti, lebih baik kamu tidak usah bekerja lagi. Jarak rumah dan kantor Papa cukup jauh, aku tidak mau kamu kelelahan." Sikap-sikap manis itu sukses membuat Janna jatuh hati dengan sangat cepat. Semua orang memuji betapa serasinya mereka, bahkan menyebut raut wajah Janna dan Jeffry memiliki kemiripan yang menandakan bahwa mereka berjodoh. Segala hal terasa begitu sempurna hingga Janna tak sabar untuk memulai hidup baru sebagai istri Jeffry. Pria yang ia yakini akan menjadi pelindung dan sumber kebahagiaannya. Namun, gaun indah impian itu koyak seketika di hari akad nikah. "Mas Jeff jahat!" Teriakan histeris Sarita tepat setelah prosesi akad nikah selesai masih terngiang jelas di telinga Janna. Hari itu, Sarita berlari sambil menangis sesenggukan, mencoba melarikan diri dari lokasi acara. Naas, kakinya tak sengaja menginjak gaun kaftan panjang yang dikenakannya sendiri. Perempuan itu terpeleset dari tangga, jatuh terguling, dan pingsan tak berdaya. Kejadian traumatis itulah yang membuka tabir rahasia besar yang selama ini disembunyikan. Saat itulah Janna baru menyadari kenyataan pahit bahwa Jeffry—pria yang baru saja menjadi suaminya—memiliki ikatan cinta terlarang dengan adik angkatnya sendiri. Hari itu, rasanya Janna ingin menjerit dan membatalkan pernikahan detik itu juga. Rasa marah, kecewa, dan dikhianati membakar dadanya. Namun, lidahnya mendadak kelu, tak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun. Luka mendalam itu masih menganga hingga detik ini. Kenangan saat ia harus duduk sendirian di atas pelaminan dengan tatapan kasihan dari para tamu undangan sebelum akhirnya salah satu kerabat mengantarnya ke kamar pengantin, selalu berhasil meremukkan hatinya. Sementara Jeffry, suaminya, tanpa ragu berpaling dan memilih panik menemani Sarita di rumah sakit. Bersambung.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Kali kedua

read
223.0K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
196.1K
bc

TERNODA

read
204.2K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
23.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
237.5K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.5K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
23.8K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook