Janna termenung dengan gelisah, jemarinya saling bertautan menahan gejolak rasa yang berkecamuk di dalam d**a. Beberapa waktu yang lalu, ayah mertuanya memberikan sebuah kabar yang mendadak menjadi beban baru di pundaknya. Naresh memberitahu bahwa Jeffry akan kembali dalam beberapa hari lagi. Tak hanya itu, Naresh dengan tegas meminta agar Jeffry langsung tinggal bersama Janna di rumah yang dulu dibelikan sebagai hadiah pernikahan mereka.
Jangankan untuk tinggal satu atap dan berbagi ranjang, untuk sekadar bertemu dan saling bertatapan muka saja Janna benar-benar tidak tahu harus bersikap bagaimana.
Sejak hari pertama mereka terikat dalam tali pernikahan, Jeffry tak pernah sekalipun tidur sekamar dengannya. Di malam pertama yang seharusnya penuh kehangatan, Janna justru meringkuk sendirian di dalam kamar pengantin yang asing dan dingin di rumah baru mereka. Rasa sepi malam itu seolah meramalkan bagaimana kelanjutan nasib rumah tangganya kelak.
Hingga saat ini, memori keesokan harinya masih terbayang dengan sangat jelas di benak Janna. Pagi itu, Jeffry baru kembali ke rumah. Pria itu melangkah masuk ke dalam kamar dengan kondisi yang masih mengenakan celana pengantin yang dipakainya kemarin. Tanpa mempedulikan kehadiran istrinya, Jeffry bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, lalu mengganti pakaiannya dengan terburu-buru agar bisa segera kembali ke rumah sakit untuk menemani Sarita.
“Apa-apaan kamu, Mas?!” tanya Janna penuh kemarahan yang tertahan, menatap tajam ke arah Jeffry yang tengah mengancingkan kemejanya di depan lemari.
Jeffry tidak menjawab. Pria itu hanya diam membisu, melanjutkan gerakannya dengan acuh tak acuh seolah-olah Janna hanyalah seonggok benda mati di sudut ruangan.
“Mas, tolong berikan penjelasan padaku! Ada apa sebenarnya di antara kalian?!” rentet Janna lagi. Kali ini ia melangkah maju, merentangkan kedua tangannya di depan pintu, menghalangi langkah Jeffry yang hendak keluar.
Jeffry menghentikan langkahnya. Ia mengacak rambutnya perlahan dengan raut wajah yang tampak sangat frustasi, lalu menatap Janna dalam-dalam. Sesaat, guratan rasa bersalah melintas di matanya; ia sadar bahwa ia berhutang penjelasan pada wanita yang baru dinikahinya ini. Dengan helaan napas berat, Jeffry memegang pundak Janna, mengajaknya duduk di sisi ranjang pengantin mereka yang masih rapi, lalu menggenggam jemari tangan istrinya dengan erat.
“Maafkan aku, Janna... Aku tidak tahu harus menjelaskannya mulai dari mana,” ucap Jeffry perlahan namun terdengar begitu pasti. “Tapi... sebenarnya, aku menjalin hubungan cinta dengan Sarita.”
Janna seketika terdiam. Jantungnya mencelos. Ia mendadak enggan memercayai indra pendengarannya sendiri. Namun, pengakuan langsung dari bibir Jeffry membuktikan bahwa semua kalimat yang ia dengar dari kedua mertuanya kemarin adalah kebenaran yang mutlak. Suaminya menjalin cinta terlarang dengan adik angkatnya sendiri.
“Aku dan Sarita sudah saling mencintai sejak lama. Tapi Papa tidak pernah merestui kami, karena bagi Papa, aku dan Sarita lebih baik selamanya menjadi adik dan kakak saja.”
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat telak di pipi Jeffry, dilesatkan oleh tangan Janna yang gemetar hebat. Jeffry tidak membalas. Ia hanya bisa menundukkan pandangannya dalam-dalam, menghindari sorot mata Janna yang berkilat penuh amarah dan luka.
“Lalu untuk apa kamu menikahiku, Mas?! Untuk apa?!” pekik Janna dengan suara serak, dadanya terasa sesak oleh rasa sakit hati yang teramat sangat.
“Jann...”
“Ceraikan aku sekarang! Ceraikan!” teriak Janna histeris sambil memukuli d**a dan bahu Jeffry dengan sisa-sisa kekuatannya.
“Jan! Tenang dulu, Jan!”
“Ceraikan aku, Mas!” jerit Janna semakin menjadi-jadi.
“Tidak, Jan! Aku tidak bisa menceraikanmu! Tidak bisa!” bentak Jeffry tiba-tiba dengan suara yang tak kalah keras, berusaha meredam kehisterisan Janna.
“Aku tidak mau menikah dengan pria yang tidak setia!”
“Siapa yang tidak setia?! Aku setia pada Sarita! Kamulah orang ketiga di antara kami!”
Kalimat menohok yang meluncur dari mulut Jeffry seketika membuat gerakan tangan Janna terhenti. Ia mematung, menatap suaminya dengan pandangan tak percaya.
“Kamulah orang ketiga di antara aku dan Sarita! Kamu harus tahu, Jan, kalau aku tidak menikahimu, Papa mengancam akan menghentikan semua biaya sekolah Sarita! Kalau aku tidak menikahimu, aku tidak akan mendapatkan sepeser pun harta dari Papa! Aku sendiri tidak tahu apa yang sudah kamu janjikan pada Papa sampai Papa begitu memujamu seperti itu!” cecar Jeffry bertubi-tubi hingga ia berdiri tegak di hadapan Janna.
Jeffry menarik napas dalam, mencoba meredakan emosinya yang sempat meledak. “Maafkan aku, Janna. Aku tahu sikapku kepadamu saat ini sangat salah. Tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri kalau aku teramat mencintai Sarita. Dia adalah segalanya untukku. Aku berjanji akan tetap menafkahimu dan bertanggung jawab penuh atas kebutuhanmu, tapi aku tidak bisa memberikan perasaanku kepadamu.”
Tubuh Janna berguncang hebat mendengar untaian kalimat jujur yang begitu kejam itu.
“Kalau kamu tidak bisa menceraikan aku, biar aku yang menggugat cerai kamu!” tantang Janna penuh emosi yang meluap-luap.
“Lakukan saja! Lakukan saja apa pun yang kamu mau! Jika kamu yang menggugat cerai, itu justru akan jauh lebih baik bagiku! Karena keputusan itu berasal darimu, bukan dariku. Papa tidak akan bisa berbuat apa-apa atau menyalahkanku!”
“Apa...?” Janna terkesiap.
“Tapi tolong bantu aku, lakukan prosesnya secara perlahan. Minggu depan aku akan pergi mengantar Sarita kembali ke Kuala Lumpur dan aku akan mencoba mencari pekerjaan di sana. Jika semua rencanaku lancar, kita bisa bercerai dengan cepat. Jadi, kalau Papa pada akhirnya menghentikan semua fasilitas untukku, aku sudah punya penghasilan sendiri untuk menafkahi Sarita.”
Byuur!
Segelas air dingin yang berada di atas meja nakas samping tempat tidur kini telah berpindah ke wajah Jeffry. Janna menyiramnya tanpa ragu. Amarahnya sudah mencapai ubun-ubun mendengarkan bagaimana suaminya menyusun rencana masa depan bersama wanita lain di atas air matanya. Janna melemparkan gelas kosong itu ke arah tembok di samping Jeffry hingga hancur berkeping-keping.
Tanpa sepatah kata pun, Janna segera berlari masuk ke dalam kamar mandi, membanting pintunya, dan menguncinya dari dalam. Di atas lantai yang dingin, ia meluapkan segala rasa terhina, berteriak, dan menangis histeris sendirian.
Ia menangis tersedu-sedu, meratapi nasibnya yang begitu malang. Rasa sesal yang teramat sangat menyergap hatinya karena telah terlanjur jatuh cinta pada sosok Jeffry. Namun, kemarahan yang membakar jiwa itu perlahan mengubah keputusannya. Janna yang awalnya menggebu-gebu ingin bercerai, kini justru mengurungkan niatnya. Dengan rahang mengeras dan mata sembab, ia bertekad akan bertahan. Ia tidak akan pernah mengajukan perceraian. Janna ingin menjadi batu sandungan, egoisnya bangkit demi melihat Jeffry dan Sarita tersiksa karena menyisakan dirinya di tengah-tengah hubungan mereka.
Jeffry pun akhirnya pergi bersama Sarita beberapa hari kemudian. Di awal kepergiannya, Jeffry masih sempat mengirimkan pesan menanyakan kapan Janna akan mendaftarkan gugatan cerai. Namun, Janna membalasnya dengan dingin.
“Aku akan menjadi duri dalam daging hubungan kalian, Mas! Aku tidak akan pernah mengajukan cerai kepadamu!” balas Janna dalam salah satu pesan singkatnya kepada Jeffry.
Tak sampai di situ, karena rasa sakit hatinya yang mendalam, Janna melaporkan seluruh sikap buruk Jeffry kepada Naresh. Laporan itu memicu amarah besar Naresh hingga pria tua itu terkena serangan jantung yang fatal. Mengetahui hal tersebut, Nani—sang ibu mertua—tentu saja melimpahkan seluruh kesalahan kepada Janna. Nani menuding Janna sebagai menantu pembawa sial yang membuat suaminya sakit, sembari terus-menerus menyanjung Sarita sebagai sosok wanita yang baik, saleha, dan penyabar; sosok yang dianggap Nani jauh lebih pantas mendampingi Jeffry ketimbang Janna.
***
“Kok melamun, Jan?”
Suara lemah Naresh membuyarkan lamunan panjang Janna. Ia tersentak kecil, lalu mengalihkan pandangannya dari luar jendela kamar perawatan rumah sakit. Sudah menjadi rutinitasnya, setiap pagi Janna selalu menyempatkan diri untuk menjenguk mertuanya sebelum berangkat ke kantor untuk bekerja.
“Oh, tidak apa-apa, Pa. Janna cuma sedang mengingat beberapa pekerjaan kantor yang belum sempat diselesaikan,” jawab Janna spontan sembari tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan gundah gulana di hatinya. Ia melangkah mendekati ranjang mertuanya yang tampak luar saja sehat, padahal aslinya digerogoti penyakit parah.
Beberapa bulan yang lalu, Naresh divonis menderita kanker perut stadium tiga. Sejak saat itu, tubuhnya harus bertahan melewati serangkaian pengobatan medis dan kemoterapi yang menguras tenaga.
Seminggu yang lalu, Naresh sempat berdiskusi dengan Janna. Pria tua itu berniat menyuruh Jeffry pulang ke Indonesia untuk mulai mengelola perusahaan bersama Badra—keponakan Naresh yang sengaja ditarik lebih dulu untuk membantu bisnis keluarga. Naresh sadar, jika takdir menjemputnya kelak, perusahaan tersebut harus jatuh ke tangan Jeffry dan Badra agar roda bisnis tetap berputar.
Naresh juga tahu betul bahwa keputusan ini pasti akan membuat Janna merasa tidak nyaman. Namun baginya, bagaimanapun juga Janna adalah istri sah Jeffry. Putra semata wayangnya itu harus dipaksa pulang untuk bertanggung jawab atas pernikahan yang telah dimulainya.
“Selama Papa masih bernapas di dunia ini, Papa akan terus menentang hubungan mereka berdua! Kamu tenang saja, Jan,” ucap Naresh tegas, seolah mencoba membaca kegelisahan di wajah Janna dan menenangkannya.
Janna menatap mertuanya dalam-dalam, ada keraguan yang menyelinap di relung hatinya.
“Apa Papa benar-benar yakin? Bagaimana kalau mereka sebenarnya sudah menikah secara siri di luar sana? Mungkin saja, di dalam hati Mas Jeffry, sudah ada kalimat talak yang terucap untukku,” tanya Janna lirih, meragukan keputusan sang mertua yang memintanya tinggal bersama Jeffry lagi.
Naresh menggelengkan kepalanya dengan pasti.
“Jeffry memang anak yang pembangkang, Jan. Tapi untuk urusan sakral dan hukum agama seperti ini, Papa yakin dia tidak akan berani macam-macam. Papa selalu menyuruh orang kepercayaan Papa untuk mencari tahu tentang mereka di sana. Sampai saat ini, mereka belum menikah siri. Tempat tinggal mereka pun terpisah walau setiap hari selalu bersama. Papa juga percaya pada Sarita, bagaimanapun dia adalah wanita muslimah yang taat. Dia tahu cara menjaga dirinya dengan baik.”
Mendengar pembelaan Naresh terhadap Sarita, rasanya Janna ingin mencibir dan mencaci-maki adik ipar angkatnya itu detik ini juga. Ingin sekali ia berteriak lantang menyebut Sarita sebagai seorang pelakor. Namun, ia teringat lagi pada kalimat kejam Jeffry setahun lalu, kenyataan pahit bahwa dialah yang masuk belakangan sebagai orang ketiga di antara hubungan mereka.
“Kenapa sih, Pa, Papa dulu memilihku untuk menjadi istri Jeffry? Berada di dalam situasi seperti ini rasanya benar-benar tidak enak,” tanya Janna spontan, meluapkan sedikit sesak yang mengganjal.
Naresh menghela napas panjang dan berat. Ia menoleh, menatap menantunya dengan pandangan penuh rasa sayang sekaligus penyesalan yang mendalam.
“Karena kamu adalah anak dari Saiful, sahabat karib Papa. Papa sangat ingin membalas budi kepada ayahmu, Jan. Kalau dulu ayahmu tidak memberikan kesempatan kerja itu kepada Papa, mungkin cerita hidup Papa tidak akan sesukses sekarang. Selain itu, Papa benar-benar tulus menilai kamu adalah sosok yang paling cocok untuk Jeffry... Papa sendiri sama sekali tidak menyangka kalau pada akhirnya hubungan kalian akan menjadi serumit ini.”
Janna terdiam. Ia memilih menyudahi pembicaraan itu dan mengalihkan pikirannya dengan merapikan letak selimut yang membungkus tubuh mertuanya.
“Janna pamit ya, Pa. Sudah saatnya Janna berangkat ke kantor. Apa ada hal atau berkas khusus yang harus Janna kerjakan nanti di kantor?” tanya Janna, sengaja mengalihkan topik ke urusan pekerjaan.
“Tidak ada. Kamu berangkat saja ke kantor sekarang. Tapi tolong, suruh Pak Min datang ke sini ya, Papa mau bicara dengannya. Oh ya, kemarin malam Jeffry menghubungi Papa lagi. Dia bilang akan kembali dua minggu lagi. Jadi, siapkan mentalmu baik-baik, Jan! Bertahanlah sampai Papa sudah tidak ada lagi di dunia ini... setelah itu, Papa bebaskan keputusan kalian berdua.”
Mendengar kalimat terakhir Naresh, hati Janna dirayapi rasa sedih yang amat mendalam. Di satu sisi, ia menemukan sosok ayah mertua yang begitu menyayanginya layaknya anak kandung sendiri. Namun di sisi lain, ia terjebak bersama seorang suami yang jangankan memberikan rasa cinta, bahkan jika bisa memilih, ingin melihat Janna lenyap secepat mungkin dari kehidupannya.
Bersambung.