Sidang Dadakan

1171 Words
"Ante Nana!" Panggil Yazeen, si ganteng yang sering membuat Maminya dipanggil guru karena hobinya membuat teman-teman perempuannya menangis. Bocah itu berlari ke arah Ariana yang sedang duduk di sofa. Sementara itu, Senja berjalan di belakangnya sambil membawa beberapa kantong berisi makan siang. Ariana langsung merentangkan kedua tangannya, menyambut kedatangan keponakan kesayangannya. "Sayangnya Ante. Ante kangen banget sama Yazeen." "Aku juga kangen banget sama Ante." Pelukan tangan kecilnya memang tidak sampai ke belakang tubuh Ariana, tetapi terasa sangat erat. "Gara-gara Mami masukin aku ke semua tempat les jadinya aku sibuk banget." Mendengar sindiran itu, Senja langsung mendengkus. Putranya memang mirip sekali dengan Papinya. Sama-sama tengil. "Anak kecil memang tugasnya belajar, Dek. Jadi jangan kebanyakan ngeluh." "Tapi nggak tiap hari juga, Mi," protes Yazeen. "Aku kan pengen main sama teman-teman." "Memangnya kurang main di sekolah?" tanya Senja sembari menata makanan yang dibawanya di atas meja. Ariana menahan senyum sambil membantu sahabatnya. Begitulah kalau Senja dan Yazeen datang bersamaan. Pasti ada saja perdebatan yang terjadi. "Beda dong, Mi. Kalau di sekolah mainnya masih bau-bau pelajaran. Aku maunya yang beneran main." Yazeen berpindah duduk di sebelah maminya. Tangannya langsung merangkul lengan Senja dengan manja. Senja memutar bola mata. Putranya memang seperti itu. Padahal setiap hari Minggu dia dibebaskan dari segala macam les dan boleh pergi bermain seharian. Tetap saja merasa waktu bermainnya kurang. "Yang bener dong, Dek. Kamu tuh harus banyak belajar, bukan banyak main." Senja menarik tubuh putranya ke dalam pangkuan, lalu mencubit pelan hidung mancungnya. "Lupa sama cerita Oma? Papi waktu kecil itu belajarnya rajin banget. Bahkan tinggal di luar negeri. Masih mending Adek dibolehin Papi sekolah di Bali." Seketika wajah Yazeen berubah panik. Langsung memeluk maminya erat-erat. "Iya, iya, Mi. Aku nggak akan protes lagi. Janji bakal rajin sekolah dan masuk les." "Dan apa lagi, Adek?" tanya Senja. Yazeen menghembuskan nafas panjang. "Nggak bentak teman perempuan yang kasih hadiah di sekolah atau tempat les sampai nangis." Ariana tak sanggup lagi menahan tawanya. Kalau mengingat Senja yang hampir menjadi langganan dipanggil guru karena ulah Yazeen, siapa pun pasti akan tertawa. Bagaimana tidak? Bocah itu baru berusia empat tahun. Namun penggemarnya sudah sangat banyak. Hampir setiap hari ada saja teman perempuan yang memberinya bunga, cokelat, atau hadiah lainnya. Awalnya Yazeen selalu menolak dengan baik. Tapi karena para penggemarnya terus memaksa, kesabarannya yang setipis tisu langsung habis. Dia akan membentak, bahkan terkadang membuang hadiah itu di tong sampah. "Sabar, Sei," ujar Ariana. "Aku tuh kalau lihat Yazeen kayak lihat versi kecilnya Mas Kai. Cuma yang ini versi upgrade." "Ngeselinnya maksud kamu, kan?" sahut Senja. Tepat saat itu, pintu kamar mandi terbuka. Muncullah Izora yang baru selesai mencuci tangan setelah mewarnai menggunakan crayon. Kedua mata Yazeen langsung membulat. Senyum yang biasanya hanya muncul untuk orang-orang tertentu kini menghiasi wajahnya. "Izora? Kok kamu di sini?" tanyanya. Senja menatap putranya. Lalu menatap gadis kecil yang kini duduk di pangkuan Ariana. Kemudian kembali menatap putranya. "Adek kenal?" "Dia Izora, teman sekolah aku, Mi," jelas Yazeen. "Tapi beda kelas. Jadi Mami belum pernah ketemu." Senja mengangguk pelan. Akan tetapi rasa penasarannya justru semakin besar. Kenapa Ariana bisa begitu akrab dengan gadis kecil itu? Paham dengan tatapan sahabatnya, Ariana pun mulai memperkenalkan Izora. "Izora, say hi sama Ante Senja, Sayang." Dengan patuh, gadis kecil itu langsung melambaikan tangan. "Hai, Ante Senja. Salam kenal. Nama aku Izora Xena Manggala." Kening Senja langsung berkerut. Nama belakang itu terasa sangat familiar. Meski begitu dia memilih membalas sapaan gadis kecil itu terlebih dahulu. "Hai, Cantik. Senang ketemu sama kamu." Lalu Yazeen kembali bertanya, "Izora, kamu ngapain di sini?" "Beli gelato sekalian ngerjain tugas sekolah sama Buna." "Buna?" tanya Senja dan Yazeen bersamaan. Ariana langsung meringis sambil menggaruk pelipis. Penjelasannya akan sangat panjang. Dan jelas tidak boleh didengar anak-anak. Karena itu dia memberi kode kepada Senja. Untungnya, sahabatnya langsung paham. "Eh, gimana kalau kita makan siang dulu? Mumpung makanannya masih hangat," tawar Senja. Semua orang pun setuju. Mereka mulai menikmati makan siang bersama. Ajaibnya, Yazeen yang biasanya sulit akrab dengan orang baru justru memilih makan berdua dengan Izora di meja kecil yang biasa digunakan gadis itu untuk belajar. Keduanya makan dengan lahap dan sangat rapi. Memang terlihat jelas bahwa table manner sudah diajarkan sejak dini. Tak lama kemudian, makan siang pun selesai. Yazeen mengajak Izora bermain puzzle baru yang dibelinya saat ikut Maminya berbelanja tadi. Kini kedua bocah itu duduk di atas karpet bulu yang berada di sudut ruangan. Dari sana mereka bisa melihat pemandangan laut yang membentang luas. "Na, bisa jelasin siapa sebenarnya Izora?" tanya Senja. Wanita itu akhirnya tidak mampu lagi menyembunyikan rasa penasarannya. Sebelum menjawab, Ariana memastikan kedua bocah itu benar-benar fokus dengan permainan mereka. "Dia anaknya Handaru," ujarnya lirih. Bahkan tidak berani menatap wajah sahabatnya. "Hah?" Senja langsung terkejut. "Kapan dia punya anak? Kok Mas Kai nggak pernah kasih tahu?" Ariana sudah menduga Senja tidak tahu apa-apa tentang Izora. Reaksinya pun tak jauh berbeda dengan dirinya saat pertama kali mengetahui kenyataan itu. "Aku juga baru tahu kalau pelanggan setia Kedai Etalase Cinta cabang pinggiran kota ini ternyata putri dari pria itu." Ariana tertawa hambar. "Kadang takdir memang suka bercanda, ya, Sei?" Belum ada balasan dari Senja. Dia masih berusaha mencerna semua yang baru saja didengarnya. Empat tahun lamanya Ariana menghilang dari Bali. Selama itu pula Handaru memilih mengundurkan diri sebagai sekretaris suaminya dan kembali menjalani kehidupannya yang sebenarnya. Pria itu fokus mengurus jaringan restoran yang dirintisnya sejak muda bersama rekan bisnisnya. Setidaknya itu yang diketahui Senja. Meski ayahnya memiliki rumah sakit besar dan dirinya sendiri berprofesi sebagai dokter, Handaru selalu berusaha menjaga jarak dari urusan keluarga Manggala. "Selama kamu pergi, nggak pernah ada kabar kalau Handaru menikah, Na. Sumpah." "Lalu Izora itu anak siapa, Sei?" Ariana balik bertanya. "Minggu lalu aku ketemu langsung sama Handaru. Dia datang ke kedai buat jemput putrinya." Senja terdiam sesaat. "Kamu gimana?" tanyanya hati-hati. "Ah, maksudku... setelah ketemu lagi sama Handaru, kamu baik-baik aja, kan?" "Mana mungkin aku baik-baik aja, Sei?" ujarnya pelan. "Susah payah aku melepaskan diri darinya. Sampai meninggalkan Bali. Eh, sekarang malah ketemu lagi dan justru dekat sama anaknya." Senja melirik sekilas ke arah Izora yang sedang memasang wajah serius sambil menyusun puzzle bersama Yazeen. Lalu dia mendengus kesal. "Kok bisa sih Handaru punya anak?" "Mungkin dia sudah menikah diam-diam dan nggak mengundang banyak orang, Sei." "Nggak mungkin banget, Na," bantah Senja cepat. "Se-private apapun acaranya, pasti keluarga Zavier dan para sahabatnya tetap diundang." "Nyatanya nggak ada yang tahu kalau dia sudah punya anak, kan?" sahut Ariana. Kalimat itu langsung membuat Senja terdiam. Selama ini tidak ada satu pun dari mereka yang pernah mendengar kabar tentang pernikahan Handaru. Anehnya, tiba-tiba pria itu sudah memiliki seorang putri berusia empat tahun. Sepantaran dengan Yazeen, anak bungsunya. "Na—" Senja memicingkan kedua matanya ke arah sahabatnya. Sebuah pikiran liar baru saja melintas di benaknya. "Izora bukan anaknya Handaru dan kamu, kan?" "Astaga, Sei! Mana mungkin?" seru Ariana kaget. Senja mengangkat kedua bahunya. "Soalnya usia Izora hampir sama dengan lamanya kamu pergi dari Bali. Dan... ya, siapa tahu saat meninggalkan Bali kamu sudah, em... itu." "Senja Aleya Hinata!" Ariana langsung memotong ucapan sahabatnya. "Kamu tuh benar-benar, ya!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD