Pertemuan Pertama

1183 Words
Ariana tak pernah menyangka takdir akan mempertemukannya kembali dengan pria yang mati-matian ingin dilupakannya. Saking ingin mengubur semua kenangan tentang pria itu, dia bahkan rela meninggalkan Bali—pulau yang menjadi tempatnya dibuang oleh orang tua kandungnya dan tempat dia berjuang tanpa rasa lelah hingga akhirnya memiliki kehidupan yang layak seperti sekarang. Lebih mengejutkannya lagi, teman kecil yang beberapa minggu terakhir menemaninya makan siang ternyata memiliki hubungan yang begitu erat dengan pria itu. Handaru. Sebenarnya, jika Ariana lebih teliti, sangat mudah baginya menebak kenyataan tersebut. Karena wajah Izora sangat mirip dengan Bu Rima. Wanita baik hati yang dulu pernah memohon kepadanya untuk tidak menyerah memperjuangkan hubungan dengan putranya. Sayangnya, Ariana selalu menolak mengingat apa pun yang berhubungan dengan Handaru. Dia mengubur semua kenangan tentang pria itu begitu dalam hingga mengabaikan petunjuk yang sebenarnya sudah terpampang di depan mata. "Aku sudah tidak mencintaimu lagi." Ariana masih mengingat kalimat itu dengan sangat jelas. Wajahnya saat itu datar tanpa ekspresi. Meski kedua tangannya mencengkeram erat dress yang dikenakannya hingga gemetar. "Aku lelah menjalin hubungan dengan pria yang memiliki ayah sejahat ayahmu. Aku lebih memilih pria yang keluarganya bisa menerimaku apa adanya." "Ariana—" Suara Handaru saat itu nyaris tak terdengar. Kedua matanya dipenuhi air mata yang bahkan tidak berusaha disembunyikannya. Hatinya remuk. "Bukankah kita sudah berjanji, apapun yang terjadi, kita tidak akan mengakhiri hubungan ini?" tanyanya lirih. "Lalu kenapa tiba-tiba kamu jadi seperti ini, Na?" Kenangan percakapan terakhir mereka menyeret Ariana kembali ke masa kini. Dadanya terasa sesak. Takdir seperti apa yang sebenarnya sedang mempermainkan hidupnya? Dia baru saja kembali ke Bali. Sebelumnya, dia bahkan sudah memastikan bahwa Handaru tinggal di pusat kota. Karena itulah dia memilih menetap di daerah pinggiran agar kemungkinan bertemu pria itu nyaris tidak ada. Namun sekarang? Handaru sedang duduk tepat di sebelah Izora. Gadis kecil yang selama beberapa minggu terakhir berhasil mencuri tempat khusus di hatinya. "Hm—" Izora tersenyum lebar sambil menunjuk Ariana. "Dia Buna Ariana." Kemudian Gadis kecil itu menoleh ke arah papanya. "Cantik, kan, Pap?" "Iya, cantik sekali," jawab Handaru. Tatapan matanya tidak bergeser sedikit pun dari Ariana. Izora langsung menarik tangan Ariana yang berada di atas meja. "Padahal, ya, Bun—" katanya. "Paparu pernah bilang, 'Izora, nggak ada wanita cantik selain Oma dan kamu di dunia ini’ begitu.” Bibir mungilnya bergerak menirukan cara bicara sang papa dengan ekspresi mencibir. "Sekarang malah bilang kalau Buna cantik." Lalu dia kembali menatap Handaru. "Benar kata Buna, jangan pernah percaya sama mulut pria. Sekalipun itu orang terdekat kita," lanjutnya. "Dasar pembohong!" Rasanya Ariana ingin membungkam mulut kecil yang sedang aktif berbicara itu. Namun mana mungkin dia melakukannya di depan Handaru? Kalau tidak dihentikan, bisa-bisa Izora membocorkan semua hal yang pernah mereka bicarakan. "Benarkah Buna bilang begitu, Sayang?" Sebelah alis Handaru terangkat. Sudut bibirnya bahkan melengkung menahan senyum. Izora mengangguk dua kali. Wajahnya kembali cerah saat menoleh ke arah Ariana. "Bukankah kita sudah janji akan merahasiakan semua yang kita bicarakan, Izora?" tanya Ariana. Izora langsung menepuk dahinya. Gara-gara terlalu bersemangat, dia sampai lupa dengan janjinya sendiri. Sebenarnya ini juga salah Ariana. Mana mungkin anak berusia empat tahun yang hobi oversharing seperti Izora bisa menyimpan rahasia. Apalagi jika yang bertanya adalah papanya. "Jadi, Paparu ini termasuk pria yang nggak bisa dipercaya?" tanya Handaru. Tangan Izora melepaskan genggamannya dari tangan Ariana. Dia lalu memiringkan sedikit tubuhnya, menopang pipi chubby dengan sebelah tangan sambil menatap wajah papanya dengan mata menyipit. Siapa pun yang melihatnya pasti akan gemas. Pose gadis kecil itu terlalu imut untuk diabaikan. "Awalnya aku kurang percaya karena Paparu selalu jujur sama aku," katanya. "Tapi setelah Paparu bilang Buna cantik, aku jadi curiga." "Curiga kenapa?" tanya Handaru sembari menahan tawa. "Berapa banyak wanita yang pernah Paparu bilang cantik?" tanya Izora penuh selidik. Lalu dia menghitung dengan jari-jarinya. "Selain Oma, aku, dan Buna?" "Gak ada," jawab Handaru tanpa berpikir panjang. "Hanya kalian bertiga." "Kenapa Buna masuk dalam hitungan?" tanya Izora. Tatapannya sempat beralih ke arah Ariana. "Ya, meskipun Buna memang sangat cantik." Lalu dia kembali menatap papanya. "Apa Paparu jatuh cinta sama Buna pada pandangan pertama?" Ariana sontak mengelus dadanya. Dia tak menyangka kepala kecil Izora mampu memikirkan hal semacam itu. Berbeda dengan dirinya, Handaru tampak tetap tenang menghadapi setiap pertanyaan dan gebrakan yang dilakukan putrinya. Mungkin karena pria itu sudah hidup bersama Izora selama empat tahun, jadi dia sudah kebal. "Jawab, Pap," pinta Izora tidak sabar. "Bisa jadi," jawab Handaru. Jawaban yang sangat ambigu. Namun bagi Izora, jawaban itu sudah lebih dari cukup. Setidaknya papanya tidak menolak pilihan. Bak sedang menawarkan dagangan, Izora kembali meraih tangan Ariana. Senyum manis dan puppy eyes andalannya langsung dikeluarkan. Izora adalah definisi gadis kecil yang centil, manis, dan menggemaskan. Hampir tidak ada orang yang tidak menyukainya, kecuali Pak Andra. Memang semenyenangkan itu kehadiran Izora bagi orang-orang di sekitarnya. "Paparu itu meskipun sibuk kerja dan hampir nggak punya waktu libur, dia sayang banget sama keluarganya, Bun," mulailah sesi promosi dari marketing cilik. Sebuah berkah bagi Handaru memiliki Izora. Jadi, dia tidak perlu bekerja keras merayu Ariana. "Uangnya juga banyak. Ini nggak bohong, karena aku pernah lihat di kamar Paparu," lanjut Izora dengan wajah serius. "Yang uang ada gambar kakek botak setengah itu, lho." Yang dimaksud gadis kecil itu tentu saja uang pecahan seratus dolar Amerika. Namun, promosi Izora rupanya belum selesai. "Terus, meskipun sibuk, Paparu pasti nyempetin waktu buat ngajak aku movie night sambil makan keripik buah. Soalnya Paparu trauma makan buah segar.” Di akhir kalimat, ekspresi gadis kecil itu berubah sedikit bingung. Menurutnya, trauma terhadap buah segar adalah hal yang sangat aneh. Karena selama ini yang dia tahu, orang biasanya trauma pada hal-hal menyeramkan, bukan pada stroberi, jeruk, atau semangka. "Wajah Paparu juga ganteng banget. Nggak bikin malu kalau diajak kongkow. Benar, kan, Bun?" tanya Izora sambil mengerling jahil. Napas Ariana tiba-tiba terasa sesak hingga membuatnya kesulitan berbicara. Pada akhirnya, dia hanya menganggukkan kepala. "Nah, kalau begitu Buna mau jadi istrinya Paparu, dong?" Pintar sekali gadis kecil itu menyusun alur promosi hingga mampu membuat orang dewasa terjebak dalam keinginannya. Kini Ariana benar-benar kebingungan harus menjawab apa. Untungnya, Handaru yang sejak tadi hanya diam akhirnya ikut angkat bicara. "Jangan memaksa Buna, Sayang," katanya. "Kasihan, tuh. Wajahnya merah banget." Seketika Izora panik. Dia buru-buru meminta maaf. Menurutnya, wajah Ariana yang memerah pasti disebabkan oleh demam. "Maafkan aku ya, Buna." Ekspresinya begitu tulus hingga Ariana gemas ingin mencubit pipi chubby gadis kecil itu. "Kalau Buna takut sama Paparu, nggak apa-apa kok nggak jadi istrinya," lanjut Izora. "Kita masih bisa berteman. Jangan sakit ya, Buna." "Hah?" Handaru sama sekali tidak mengerti perubahan sikap putrinya yang begitu mendadak. "Kok jadi takut sama Paparu?" tanyanya heran. Izora berpikir sejenak sebelum menjawab. "Kayaknya Buna mirip aku deh, Pap,” ujarnya. "Waktu aku takut sama Barong, kan aku sampai demam. Wajahku juga merah banget." Izora menatap papanya penuh keyakinan. "Paparu ingat, kan?" Ariana langsung menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan wajahnya yang semakin panas. Sementara Handaru hanya bisa memijat pelipisnya. Terkadang cara berpikir Izora memang sulit dipahami oleh manusia biasa. "Pap, jangan sedih, ya," kata Izora saat Handaru tak kunjung menjawab. "Masih banyak wanita cantik di Bali. Kalau Buna takut sama Paparu, ya nggak boleh dipaksa. Cari yang nggak takut aja."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD