Para Manusia Berwajah Seribu

1260 Words
Hal yang paling menyebalkan bagi Handaru adalah mengikuti rapat tahunan para pemegang saham Rumah Sakit Manggala Medika. Karena di sana nanti dia akan bertemu dengan sekumpulan manusia berwajah seribu. Wajar saja jika Pak Andra dikelilingi oleh orang-orang seperti itu. Sebab pria itu sendiri memiliki sifat yang sama. Rencananya, Handaru akan datang saat pembahasan penting saja. Dia akan melewatkan bagian basa-basi yang menurutnya tidak diperlukan. Sebelum berangkat, dia menyempatkan diri menyapa putri kecilnya yang hari ini terpaksa tidak masuk sekolah karena demam akibat terlalu banyak makan gelato…. begitulah menurutnya. "Selamat pagi, Putri Keripik," sapanya sambil menahan senyum. Izora sedang memakai plester penurun demam di dahinya. Hidungnya memerah seperti tomat, sementara pipi chubby yang biasanya merona merah kini tampak pucat. "Jangan ketawa, Raja Keripik!" serunya kesal. Bibir mungilnya mengerucut. "Semua ini gara-gara Paparu. Aku jadi demam." Handaru duduk di tepi ranjang, lalu menarik pelan pipi chubby putrinya yang kehilangan rona merahnya. "Bukankah ini salah kamu sendiri? Siapa yang sekarang hobi kongkow di kedai gelato?" "Bukan," bantah Izora sambil menggeleng kuat. "Aku demam karena kelamaan nunggu Paparu di kolam renang." Ya, keduanya memang selalu punya bahan untuk berdebat. Versi Handaru, Izora demam karena terlalu banyak makan gelato. Versi Izora, dirinya demam karena terlalu lama berada di kolam renang sambil menunggu papanya. Begitulah kehidupan mereka sehari-hari. Ketimbang ayah dan anak, keduanya lebih mirip musuh bebuyutan. "Maaf, Putri Keripik. Bukan sengaja. Kemarin Paparu terjebak macet saat pulang." Izora memutar bola matanya. "Alasan klasik." "Ya sudah, sebagai gantinya kamu boleh minta apa saja." Handaru memasang wajah memelas. Namun gadis kecil itu tidak mungkin luluh begitu saja. Karena Papanya pasti akan mengulangi kesalahan yang sama. Melihat putrinya tetap cuek, Handaru akhirnya mengeluarkan jurus pamungkas. "Kalau mau kongkow lagi di kedai gelato, harus sembuh dulu. Kalau masih demam, Paparu nggak bakal kasih izin." Kedua mata Izora langsung mendelik. "Kok nggak boleh sih?!" protesnya. "Boleh. Asal demamnya sembuh dulu," koreksi Handaru sambil merapikan rambut panjang putrinya yang berantakan. "Nggak boleh menolak makan dan minum obat." Helaan nafas panjang keluar dari mulut Izora. Dia memang tidak punya pilihan. Dia benci bubur tanpa rasa dan lebih benci lagi minum obat. Tapi demi bertemu Tante Cantik pemilik kedai gelato, dia harus segera sembuh. "Paparu suapi, ya?" "Hm." Handaru mengambil mangkuk bubur yang berada di atas nakas. Bubur itu masih hangat, pertanda Sus Merry baru saja meletakkannya. "Buka mulut yang lebar, Sayang," godanya. Izora mendengkus kesal, tetapi tetap membuka mulut. Suapan demi suapan bubur masuk ke dalam mulut gadis kecil itu hingga hampir setengah mangkuk habis. Melihat putrinya mulai mual karena memaksakan diri makan bubur hambar, Handaru akhirnya menghentikannya. "Udah?" Izora mengangguk. "Kenyang, Pap." "Oke. Sekarang waktunya minum obat." "Huh—" Izora menghembuskan nafas pasrah. Dia meminum sedikit air hangat sebelum menelan obatnya. "Pahit banget, Pap." Handaru langsung mengambil beberapa butir anggur dan menyuapkannya. Dengan wajah meringis, Izora mengunyah buah itu lalu menelannya. "Gimana?" tanya Handaru. "Sangat tidak enak, tapi aku harus memakannya." Handaru tertawa. Lalu membantu putrinya berbaring kembali. Pria itu mengecup kening Izora yang ditempeli plester penurun demam sebelum merapikan selimut hingga sebatas perut. Tatapannya melembut saat menatap wajah cantik yang sangat mirip dengan Bundanya. Sayangnya, Bu Rima kini memilih menetap di Australia untuk menenangkan diri. "Oma titip salam buat cucunya yang cantik," kata Handaru setelah beberapa saat terdiam. Senyum langsung terbit di bibir mungil Izora. "Benarkah? Apa Oma sudah nggak marah lagi sama aku?" "Memangnya Oma pernah marah sama kamu?" "Entahlah. Aku nggak tahu karena belum pernah ketemu. Lagipula Oma nggak pernah mau bicara langsung sama aku." "Tapi Oma sayang sekali sama cucunya." "Ya syukurlah," balas Izora. "Meskipun Paparu bohong, aku tetap akan pura-pura senang." Seketika senyum Handaru memudar. Kalimat itu membuat sudut hatinya terasa nyeri. Apa yang dia katakan memang benar. Bu Rima selalu menanyakan kabar Izora. Dan wanita itu memang sangat menyayangi cucunya. Sayangnya, sampai sekarang Bu Rima belum sanggup bertemu dengan Izora. "Paparu harus berangkat ke kantor." "Hati-hati di jalan, Raja Keripik. Jangan lupa pesan keripik buah lagi. Aku lihat stoknya sudah menipis. Aku nggak mau movie night kita batal gara-gara kehabisan keripik." "Movie night kita mau nonton film apa?" "Barbie and the Diamond Castle," jawab Izora. "Aku belum pernah nonton. Jadi aku mau nonton biar kalau teman-temanku cerita aku nggak kelihatan bodoh." Lihatlah. Bahkan gadis kecil itu sudah punya circle pertemanannya sendiri di sekolah. Handaru sering khawatir putrinya akan menjadi ketua geng dan membuli teman-temannya. Untungnya sampai sekarang kekhawatiran itu belum terbukti. "Oke, siap. Kita movie night. Dan Paparu akan pesan keripik buah sebagai teman ngemil." "Semoga Raja Keripik nggak ingkar janji dan tiba-tiba bilang ada kerjaan dadakan di luar kota." "Sayang, minggu kemarin Paparu sudah minta maaf. Kenapa diungkit lagi?" Namanya juga perempuan. Meskipun masih piyik, tetap saja suka mengungkit kesalahan pria. "Soalnya aku masih kecewa berat." Nah, kan? Bahasanya sama sekali tidak sinkron dengan wajah imutnya. Handaru mengangkat kelingking. Mengajak Izora melakukan pinky promise. "Paparu janji nggak akan ingkar lagi. Sabtu malam kita movie night." Dengan malas, Izora mengaitkan kelingking mungilnya pada kelingking besar milik sang papa. "Kalau bohong, aku akan ngekos." "Astaga, Sayang." Handaru terkesiap. "Mana ada anak umur empat tahun ngekos?" *** Kedatangan Handaru ke ruang rapat membuat senyum seorang wanita merekah lebar. Saking bahagianya, semua orang dapat melihat tatapan penuh cinta yang terpancar dari kedua matanya. Sayangnya, Handaru sama sekali tidak peduli pada tatapan mendamba milik dokter spesialis mata bernama Aurella itu. Sepanjang rapat berlangsung, dia hanya fokus pada layar LCD yang menampilkan perkembangan Rumah Sakit Manggala Medika, beserta visi dan misi yang dirancang untuk membuat rumah sakit tersebut berkembang lebih besar lagi. Hingga setengah jam kemudian, rapat pun selesai. Acara dilanjutkan dengan makan siang di ruangan sebelah yang telah disulap menjadi restoran VIP. Berbagai hidangan mewah tersaji di atas meja panjang yang membentang di tengah ruangan. "Daru." Pak Andra berjalan mendekati putranya bersama Aurella. "Tolong temani Aurel mengambil makanan," pintanya. Sebelah alis Handaru terangkat. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang sarat sindiran. "Memangnya dia orang baru di rumah sakit ini sampai harus ditemani mengambil makanan?" Sarkas sekali. Memang seperti itulah Handaru setiap kali berhadapan dengan ayahnya. Apalagi jika pembahasannya menyangkut wanita yang digadang-gadang akan menjadi calon istrinya. "Jangan bikin malu Ayah, Daru!" "Kalau begitu jangan bertingkah memalukan, Tuan Andra." "Kamu—" Handaru menoleh ke arah Aurella. "Kalau tidak berani mengambil makanan sendiri, kamu bisa meminta bantuan waiter untuk mengambilkan apa yang kamu mau." Kedua tangan Aurella langsung menggenggam sisi dress yang dikenakannya. Meski begitu, senyum manis masih terpasang di wajahnya. Lahir dari keluarga terpandang dan dibesarkan dengan didikan yang ketat membuat Aurella terbiasa menjaga sikap. Dia tidak boleh meluapkan emosi di depan umum. Karena sekali saja kehilangan kendali, nama keluarganya yang akan ikut tercoreng. "Iya, Kak," jawab Aurella lembut. "Bagus." Setelah itu Handaru melangkah pergi. Dia malas berlama-lama melihat wajah para penjilat yang memenuhi ruangan itu. Terutama wajah Pak Andra. Namun saat baru sampai di depan lift, suara ayahnya kembali terdengar. "Daru!" Handaru tidak menoleh. "Kalau kamu melangkah masuk ke lift itu, berarti kamu sedang menantangku, Handaru," ancam Pak Andra yang kini berdiri di sampingnya. Handaru mendengkus pelan. "Tuan Andra ingin menjodohkanku dengan wanita manja tadi?" "Bicara yang benar, Daru!" "Kalau begitu bersikaplah yang benar," sahut Handaru. "Karena sikapku akan selalu mengikuti apa yang Tuan Andra lakukan." Rahang Pak Andra langsung mengeras. "Kamu sudah bosan melihat Izora?" Tatapan Handaru berubah dingin seketika. "Kalau begitu, sepertinya Anda yang sudah bosan hidup tenang di atas kemewahan." "Handaru—" Ting! Ucapan Pak Andra terputus ketika pintu lift terbuka. Handaru langsung melangkah masuk. Saat pintu lift perlahan menutup, dia sempat melayangkan tatapan mencemooh ke arah ayahnya. Tatapan yang penuh tantangan. Seolah mengatakan bahwa ancaman apa pun tidak akan lagi membuatnya tunduk.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD