Kembalinya Masa Lalu

964 Words
Dua minggu yang lalu... Handaru sedang membaca laporan hasil pencarian Ariana yang dilakukan oleh sekretarisnya, Surya. Wajahnya tampak datar, tetapi beberapa kali dia menghembuskan nafas kasar. Dia tidak menyangka mencari seorang wanita bisa sesulit itu. Selama empat tahun, tak satupun hasil yang memuaskan berhasil didapatkannya. Segala upaya telah dia lakukan. Tak sedikit uang yang dikeluarkannya untuk membayar detektif profesional. Namun, keberadaan Ariana tetap tak terlacak. Dan kini... Saat dirinya mulai menyerah, tiba-tiba saja Ariana kembali ke Bali dengan kehidupan yang tampak baik-baik saja. Berbeda dengannya yang masih terjebak dalam rasa sakit karena dikhianati oleh wanita yang selama tiga tahun dicintai dan diperjuangkannya mati-matian agar hubungan mereka mendapatkan restu. "Dia tidak di Kedai Etalase Cinta pusat?" tanya Handaru tanpa mengalihkan pandangannya dari layar tablet. Surya menggeleng, meski bosnya tidak mungkin melihat. "Tidak, Mas. Mbak Ariana memilih mengelola cabang gelato yang paling sepi karena letaknya jauh dari pusat kota." "Tapi?" Handaru mendongakkan kepala dan menatap sekretarisnya dengan sebelah alis terangkat. "Kedai yang dipegang Mbak Ariana dekat dengan lokasi restoran HK Dining Group yang sedang proses pembangunan," jelas Surya tenang. Handaru berdecak pelan. Takdir sepertinya kembali mempermainkan hidupnya. "Mas Daru nggak berniat ketemu sama Mbak Ariana?" tanya Surya. "Buat apa?" "Ya melepas kangen lah. Kan orangnya sudah ketemu. Masa dianggurin gitu aja?" Handaru langsung menatap tajam ke arah sekretarisnya. "Bicara apa lo, Sur?!" "Hehe." Surya meringis. "Gue cuma mikir, Mas. Kalau nggak dikejar, nanti makin jauh nggak sih?" "Memangnya siapa yang mau balikan sama mantan, ha?!" Kening Surya langsung berkerut. "Lah, bukannya selama empat tahun ini Mas nyari Mbak Ariana buat diajak balikan?" "Keluar dari ruangan gue, Sur!" bentak Handaru. "Kerjaan lo masih banyak, kan?" Tanpa berkata apa-apa lagi, Surya langsung keluar dari ruangan bosnya. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan pria itu. Bertahun-tahun mencari keberadaan mantan kekasihnya. Begitu ketemu, malah sok jual mahal. Baru saja Surya mendudukkan diri di kursi kerjanya, suara langkah sepatu menggema di koridor. Saat mendongak, ternyata Pak Andra yang datang. Dengan wajahnya yang selalu menyeramkan…. Surya sering bertanya-tanya bagaimana pria itu bisa menjadi dokter spesialis ternama di Bali jika bahkan tersenyum saja tidak pernah. Atau jangan-jangan sikap itu memang khusus ditujukan kepadanya karena dia sekretaris Handaru? Sepertinya begitu. "Selamat pagi, Pak," sapa Surya sambil berdiri. Seperti biasa, tidak ada balasan. Pak Andra berjalan begitu saja melewati meja kerjanya lalu masuk ke ruangan putranya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Surya pun mengusap d**a. "Gak anak, gak bapak, sama-sama bikin jantung gue kerja rodi setiap ketemu," gerutunya. Sementara itu, Handaru yang kedatangan tamu paling tidak diinginkannya memilih tetap fokus pada pekerjaannya. Sengaja membiarkan sang ayah duduk di sofa tanpa berniat mengajaknya berbicara. Dia sudah tahu alasan kedatangan pria itu. Pasti tidak jauh-jauh dari kemarahan karena dirinya kembali mangkir dari acara makan malam berkedok perjodohan. "Kamu pikir bisa hidup bergelimang harta seperti ini tanpa warisan keluarga?" Mendengar itu, Handaru langsung tertawa sinis. Dia menatap tajam ke arah ayahnya. "Perlu aku garis bawahi, Tuan Andra yang terhormat. Jaringan restoran yang sekarang aku kelola bukan warisan keluarga. Itu bisnis yang dibangun olehku dan Kalingga. Hanya saja ada orang yang tidak tahu malu mengambil alihnya begitu saja." "Jangan menyebut nama itu di hadapanku lagi!" bentak Pak Andra. "Kenapa?" tanya Handaru dengan senyum mencemooh. "Takut karma datang terlalu cepat karena sudah sengaja membunuh putramu sendiri?" "Diam kamu!" Pak Andra semakin tersulut emosi. "Sekali lagi kamu membicarakan dia, aku pastikan gadis kecil yang kamu tampung itu akan menyusul—" "Kalau berani menyentuh putriku, aku tidak akan segan memotong tangan kotormu itu, Tuan Andra." Suara Handaru terdengar rendah dan berbahaya. Rahangnya mengeras. Tatapannya menunjukkan bahwa ancaman barusan bukan sekadar gertakan. "Kamu pikir bisa melawan orang tuamu, Daru?" Pak Andra tak bergeming meski putranya baru saja mengancamnya. "Dan kamu pikir aku sebodoh Kalingga?" balas Handaru dengan tatapan menantang. Pak Andra menyandarkan punggungnya ke sofa. Kedua tangannya menyilang di depan d**a. Ekspresi wajahnya sejak datang sama sekali tidak berubah. Hanya saja, nada bicaranya semakin meninggi, dikarenakan emosinya telah mencapai puncak. "Serahkan gadis kecil pembawa sial itu pada sekretarisku. Biar dia dibawa jauh dari Bali." Handaru tertawa sinis. "Atas dasar apa aku harus menyerahkan putriku padamu?" "Dia hanya akan mempermalukan keluarga Manggala!" "Justru kamu yang akan mempermalukan keluarga Manggala jika semua orang tahu apa yang telah kamu lakukan selama puluhan tahun ini, Tuan Andra." Kedua tangan Pak Andra mengepal kuat. Dia tidak menyangka bahwa selama empat tahun terakhir Handaru telah mencari tahu begitu banyak hal tentang dirinya. Padahal sebelumnya, putra sulungnya itu tidak pernah peduli dengan kehidupannya. Handaru hanya pulang ke rumah untuk menemui ibunya. Itu pun sering kali harus dipaksa. "Kenapa diam saja?" tanya Handaru. Bukannya menjawab, Pak Andra justru bangkit dari sofa. Sebelum keluar, dia membenarkan jas yang dikenakannya, lalu berkata, "Ingat, nanti malam ada pertemuan penting dengan para petinggi rumah sakit. Kamu harus ikut." Setelah mengatakan itu, Pak Andra pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban dari putranya. Langkahnya tetap tenang dan penuh wibawa. Seolah perdebatan sengit yang baru saja terjadi tidak pernah ada. Brak! "s**t!" umpat Handaru setelah menggebrak meja kerjanya. Rahangnya kembali mengeras, sementara amarah yang sedari tadi ditahannya kini meluap tanpa bisa dibendung. "Pria tua sialan!" Beberapa detik kemudian, Surya kembali masuk ke dalam ruangan sambil membawa sebuah stopmap cokelat yang baru saja diberikan oleh anak buahnya. Tak peduli bosnya sedang berada dalam mode senggol bacok, dia tetap melangkah mendekat dan menyerahkan berkas itu. Setelahnya, Surya langsung merapatkan kedua telapak tangan di depan d**a. Tubuhnya bahkan sedikit membungkuk. "Mohon Mas Daru baca dulu sebelum mengeluarkan sumpah serapah," katanya. Handaru memutar bola mata melihat tingkah sekretarisnya. "Kalau nggak penting, gue buang lo ke penangkaran hiu, Sur." "Siap, Mas." Handaru pun membuka stopmap tersebut. Namun, baru beberapa lembar dibacanya, kedua matanya langsung membelalak. Ekspresi kesal yang sejak tadi menghiasi wajahnya perlahan menghilang, berganti keterkejutan. Di sisi lain, senyum tipis mulai terbit di bibir Surya. "Gak jadi marah, kan, Mas?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD