Bab 9. Waktunya Membelah Durian

1311 Words
Kamar rias hotel itu dipenuhi aroma hairspray, parfum mahal, dan bunga segar. Lampu-lampu besar mengelilingi cermin, memantulkan bayangan Jandita yang hampir tak ia kenali. Gaun pengantin putih gading yang ia desain sendiri membungkus tubuhnya dengan sempurna. Bahunya terbuka anggun, garis lehernya jatuh tepat dan indah, tapi cukup untuk membuat siapa pun yang melihat terpukau. Rambutnya disanggul rapi, make-up-nya flawless. Mata Jandita terlihat lebih tajam dari biasanya. Ia menatap pantulan dirinya sendiri cukup lama. Lalu membuang napasnya kasar. Jadi ini aku sekarang, batinnya. Pintu kamar rias diketuk pelan dari luar. Arumi menyembul masuk dengan mata berbinar. Hari ini, ia tak kalah cantik dengan kebaya warna maroon yang melekat indah tubuhnya yang masih bagus. Wanita itu berjalan cepat mendekati sang putri yang masih duduk. “Jandita, sudah siap. Tamu-tamu sudah penuh. Wah … kamu cantik banget.” Jandita tersenyum tipis. “Makasih, Ma.” Di luar sana, ballroom hotel sudah dipenuhi orang-orang penting. Rekan bisnis Jatmiko. Partner Dewangga. Teman-teman sekolah lama mereka. Semua hadir tepat waktu, elegan, dan penuh senyum formal yang mengandung banyak penilaian. Dan setelah akad dinyatakan sah, Jandita dan Dewangga dipersilakan duduk di mimbar. Dewangga tampak berbeda hari ini. Jas hitamnya melekat sempurna di tubuhnya. Rambutnya tertata rapi, wajahnya tetap dingin, tapi sorot matanya lebih cerlang. Lebih mantap. Jandita berdiri di sampingnya. Punggungnya tegak dan senyumnya terpasang begitu anggun. Tangan mereka bersentuhan. Bukan menggenggam, tapi hanya bersisian. Sampai … matanya menangkap satu sosok di antara kerumunan para tamu yang datang. Kendra. Langkahnya terhenti sejenak saat melihat mimbar. Tatapannya langsung tertuju pada Jandita yang tampil cantik. Pria itu terkejut, lalu berubah menjadi campuran tak percaya dan terluka. Jandita menegang sesaat. Mata mereka bersirobok sepersekian detik, sebelum akhirnya gadis itu beralih pada Tara yang bergelayut manja di lengan Kendra. Bibir Jandita melengkung perlahan. Oh, kamu datang, batinnya. Tanpa ragu, Jandita menggeser tubuhnya lebih dekat ke arah Dewangga. Tangannya naik, menyentuh lengan pria itu, lalu perlahan menggenggam. Tampak lengket, posesif, dan penuh klaim. Sementara Dewangga menoleh singkat. Alisnya terangkat tipis. Ia menyadari perubahan yang dilakukan istrinya. Jandita mendongak, lalu tersenyum manis pada Dewangga. “Om,” bisiknya lembut, cukup untuk didengar mereka berdua saja. “pegangan dikit, ya.” Dewangga tidak bertanya. Ia juga tidak menolak. Pria itu membiarkan, bahkan sedikit merapatkan lengannya ke tubuh Jandita. Jandita lalu menyandarkan kepala ringan ke bahu Dewangga ketika fotografer mengambil gambar random. Senyumnya makin lebar, tatapannya sengaja diarahkan ke arah Kendra dan Tara. Lihat baik-baik, batinnya. Aku bukan cuma baik-baik saja. Aku menang. Kendra berdiri kaku. Matanya turun ke cincin di jari Jandita. Rahangnya mengeras. Ia mengabaikan Tara yang juga menatap pasangan pengantin baru itu dengan nyalang. Di sisi lain, Dewangga tetap tenang. Wajahnya datar seperti biasa. Sesekali tersenyum ketika disapa tamu-tamunya. Namun, telapak tangannya yang kini berada sangat dekat dengan pinggang Jandita tidak bergeser. Dan tanpa berkata apa pun, ia membiarkan istrinya memamerkan kemenangan kecilnya. Di atas mimbar itu, di depan semua orang, Jandita tersenyum seperti pengantin bahagia. *** Resepsi selesai menjelang malam, Karena saking banyaknya tamu, tumit Jandita bahkan sampai lecet karena terlalu lama memakai hells. “Kamu yakin kita langsung pulang?” Dewangga yang baru saja mengganti bajunya berdiri di samping Jandita yang sibuk mengurut betis. Gadis itu hanya mengangguk lemah. Enggan membuka suara karena terlalu lelah. “Ok.” Dewangga keluar lebih dulu setelah memastikan Jandita selesai dan mengekorinya dari belakang. Namun, setelah sampai di parkiran, ia membukakan pintu untuk gadis itu. Lalu masuk ke kabin kemudi. Dalam perjalanan, tidak ada yang mereka bicarakan. Jandita bahkan terlalu lelah untuk menegakkan punggungnya. Sampai akhirnya, mereka sampai di rumah Dewangga. Jandita menyipitkan mata ketika melihat mobil Kendra terparkir di sana. Ia bahkan menegakkan badannya demi memastikan jika ia tak salah lihat. Dan ternyata memang benar. Rasa kantuknya mendadak lenyap. Ia tahu, harusnya tak perlu sekaget itu. Harusnya ia menghargai Dewangga yang jelas melihat rasa penasarannya ketika tahu ada kendaraan Kendra di sana. “Kita bisa kembali ke hotel kalau kamu mau,” kata Dewangga saat itu. Jandita buru-buru menoleh, lalu menggeleng kasar. Nggak-nggak. Untuk apa? Mau tak mau, Jandita tetap harus masuk. Ini rumahnya sekarang. “Nggak usah, Om. Kita masuk aja. Aku capek banget.” Dewangga hanya mengangguk. Sebenarnya ia tahu sejak awal bahwa Jandita memanfaatkannya. Namun anehnya, ia malah tetap melanjutkan pernikahan ini tanpa bertanya apa-apa pada gadis itu. Dan ketika melihat istrinya terkejut melihat mobil Kendra di halaman rumahnya, ia menawarkan opsi lain yang ternyata langsung ditolak Jandita mentah-mentah. Keduanya lantas masuk. Ketika membuka pintu utama, suara keduanya terdengar dari arah ruang tengah. Jandita merapatkan genggamannya pada tali slempang tasnya. Seolah-olah benda itu bisa menahan degup jantungnya yang bertalu keras. Namun, ketika melihatnya langsung, jantung Jandita makin mencelos. Tara duduk di pangkuan Kendra dengan bibir bertaut mesra. Pakaian mereka sudah tidak lagi sempurna menempel di tubuh. Sementara erang dan desah menggaung di ruangan itu. Jandita refleks berhenti. Kakinya gemetaran. Ia hendak berbalik dan kabur entah ke mana. Namun, Dewangga menahan pinggangnya dan segera membawa gadis itu naik ke lantai 2. Hubungannya dan Kendra sudah lama kandas, tapi persahabatan dengan Tara yang selalu ia sayangkan. Usai masuk ke kamar, Jandita makin tak bisa menahan diri. “Om … aku–” “Kenapa? Kamu nggak tahan liat mereka? Hmm?” Jandita menggeleng lemah. Bukan tidak tahan, tapi ia merasa ada sesuatu yang salah. Karena Jandita bungkam, Dewangga akhirnya mengunci pelan tubuh gadis itu di dinding. Wajahnya begitu dekat hingga napas Dewangga yang hangat menerpa pipi Jandita yang memerah. Apakah pria itu akan menuntut haknya malam ini? “Si–siapa yang nggak tahan. Aku cuma–” “Jangan bohong, Jandita. Kamu terus menggodaku sejak pertama kita bertemu di depan bar. Apa aku salah mengira?” “Om … itu aku–” Jandita memejamkan mata ketika bibir Dewangga menyapu lembut bibirnya yang basah. Itu hanya sekilas, tapi membuat seluruh saraf dalam tubuh Jandita bereaksi cepat. Ia menegang. Refleks mendongak, tapi tidak berusaha menolak. Ia sempat membuka mata dan melihat Dewangga dengan ekspresi gusar, tapi juga berdebar. Ketika pria itu kemudian mundur, Jandita membuka matanya perlahan. Mencoba menetralkan napasnya yang memburu sesaat gara-gara serangan Dewangga yang mendadak. “Kenapa kamu lari waktu melihat mereka berdua?” Akhirnya Dewangga bertanya. Jandita hendak menjawab, tapi pria itu kembali membuat asumsi. “Kamu cemburu karena Kendra memilih Tara?” imbuhnya. “Nggak. Aku nggak cemburu.” “Lalu?” Dewangga tetap memaksa Jandita untuk bicara. Ia perlu tahu karena sekarang gadis itu adalah istrinya. “Ini naluri seorang Ibu, Om. Om nggak liat, anak Om diapain tadi sama Kendra? Ckk … siapa yang nikah, siapa yang kawin?” Saat itu, Dewangga tersadar. Benar. Jandita benar. Mereka tadi sedang …. Pria itu mengendurkan kuncian pada Jandita. Kemudian, mulai berpikir. Sementara Jandita mengamati wajah dingin di hadapannya dengan saksama. Rahangnya tegas, hidungnya bangir, matanya juga indah dengan bulu mata panjang sebagai perisai. Hal yang setiap hari Jandita pikirkan selama sebulan terakhir. Dan malam ini, mereka telah sah menjadi suami istri. Walaupun rasanya agak aneh. “Itu hanya alasanmu saja, kan?” ucap Dewangga kemudian. “Alasan apa? Aku nggak pernah nyesel putus sama Kendra. Aku cuma nyesel persahabatanku sama Tara hancur. Udah, deh, Om. Geser dikit sana.” Jandita mendorong d**a Dewangga perlahan. Mencoba melepaskan diri dari pria itu. Namun, Dewangga keburu menyadarinya. Ia kembali menarik pinggang Jandita, lalu mengangkatnya dan menurunkannya di ranjang. “Eh, tunggu, Om. Ini kita–” “Diamlah! Karena aku sudah menahan diri selama ini. Jadi biarkan aku meluapkannya malam ini.” Jandita kebingungan. Ia hendak menolak, tapi sapuan lembut bibir Dewangga pada rahangnya membuat gadis itu menegang. Ia tak kuasa menahan erangan. Sementara tangan pria itu telah turun dan mengusap pinggang Jandita lembut. Mendekap, lalu menarik tubuhnya makin dekat. Jandita agak gelagapan, sebelum akhirnya Dewangga menatap matanya lekat. “Kamu cantik sekali. Mirip sekali dengan ibumu,” bisik Dewangga yang membuat Jandita mulai sadar sesuatu. Namun, sepertinya ia sudah terlambat ketika Dewangga kembali menyerang dadanya. “Ah … Om.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD