“Aku nggak tahan, Sayang.” Pekikkan itu menggema di ruang tengah. Tara masih bergerak di atas pangkuan Kendra yang hanya bisa mengerang dan sesekali bergerak. Keduanya masih terpengaruh alkohol. Sepulang dari resepsi Dewangga dan Jandita, keduanya membeli minuman keras dan menghabiskan waktu berdua di rumah Tara. Dengan alasan yang berbeda, Kendra dan Tara membuat malam itu jauh lebih gila dari biasanya. Kendra dengan patah hatinya karena Jandita memilih pria yang lebih tua, dan Tara dengan kemarahannya karena lagi-lagi Jandita bisa berdiri di atasnya. Sampai akhirnya seks menjadi pelampiasan paling paripurna. Salahnya, mereka tak tahu tempat. Sementara itu di kamar atas, Dewangga telah sampai pada batas yang ia mampu tahan. Ketika suara lirih Jandita menarik kesadarannya lebih dala

