Bab 16. Terngiang Ciumanmu

1208 Words

“Peran istri katanya?” Jandita menggumam pelan sambil menatap kosong ke arah cermin besar di sudut butik. Pantulan wajahnya terlihat normal. Ia rapi, tenang, dan profesional. Padahal di dalam dadanya, jantungnya belum juga kembali ke ritme wajar. Tangannya refleks menyentuh bibir sendiri. Ciuman itu … singkat, tapi entah kenapa, rasanya jauh lebih mengacaukan daripada yang ia bayangkan. Dewangga tidak terburu-buru dan kasar, juga tidak ragu. Justru itu yang membuatnya hampir kehilangan keseimbangan di kursi mobil tadi. Cara pria itu mendekat, menunduk sedikit, lalu menyentuh bibirnya seolah-olah itu hal paling natural di dunia,.membuat Jandita sadar satu hal yang telat ia akui. Ciuman pria dewasa ternyata bisa seseram ini. Bukan karena agresif, tapi karena tenang. Karena yakin, hingga

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD