Bab 17. Bukan Sandiwara Pernikahan

1325 Words

“Iya, Sayang. Aku tunggu.” Jandita mematikan telepon usai senyumnya terbit. Seolah-olah seseorang yang ada di seberang telepon melihatnya dari kejauhan. Padahal alasan utamanya melakukan itu adalah karena Kendra. Pria itu tiba-tiba datang ke butik hari ini untuk menemui Jandita. Tepat ketika Dewangga menelepon dan berniat menjemputnya. Jadi, ia sedikit melakukan akting agar pria yang sudah berselingkuh dengan sahabatnya itu sadar diri. Bukan malah terus mendatangi seperti ini. Usai meletakkan ponselnya di meja, Jandita menatap Kendra dengan nyalang. Ia bersedekap dan mengikis sejengkal jarak demi mengetahui apa yang pria itu inginkan kali ini. “Mau apa ke sini?” “Jandita, aku nggak bisa kayak gini terus. Aku masih sayang sama kamu,” katanya. Jandita tersenyum getir. Sungguh hal y

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD