Jandita menuntun Dewangga dengan langkah gemetar masuk kembali ke dalam gedung. Pegangannya pada lengan Dewangga sangat erat, seolah ia takut jika dilepaskan sedikit saja, suaminya itu akan menghilang atau celaka lagi. Sepanjang jalan menuju lift hingga masuk ke ruang kerja, air mata Jandita tidak berhenti mengalir. Isak tangisnya terdengar halus namun sarat akan beban emosi yang tumpang tindih. Antara rasa cemburu yang masih menyisakan perih dan rasa ngeri melihat darah yang membasahi lengan kemeja putih Dewangga. Sesampainya di dalam ruangan, sekretaris yang tadi, yang sempat membuat pikiran Jandita gelap, sudah berdiri dengan wajah cemas. Ia dengan sigap membawakan kotak P3K yang cukup besar. Bibirnya tampak bergerak, ingin segera meluruskan kesalahpahaman yang terjadi agar namanya tid

