Pintu ruang operasi terbuka dengan suara gesekan yang memecah keheningan koridor yang mencekam. Seorang dokter keluar dengan pakaian hijau yang masih bercak darah, wajahnya tertutup masker, namun sorot matanya yang layu sudah cukup menjelaskan segalanya. Kendra langsung berdiri, seluruh tubuhnya menegang. "Dokter bagaimana istri saya?" suara Kendra nyaris tak terdengar. Dokter itu menghela napas panjang, melepaskan maskernya perlahan. "Bayinya lahir selamat, Pak. Laki-laki. Saat ini sedang ditangani tim pediatrik karena prematur. Tapi Ibu Tara..." Dokter itu menjeda, menatap Kendra dengan simpati yang mendalam. "Terjadi pendarahan hebat yang tidak bisa kami hentikan sepenuhnya. Kondisinya sangat tidak stabil. Beliau ... beliau terus memanggil nama Anda. Silakan masuk, Pak. Pakai baju ste

