Bab 50. Duka yang Datang Bersamaan

1742 Words

Pagi itu, langit Jakarta tampak mendung, seolah turut merasakan beban yang menghimpit d**a Jandita. Sepanjang perjalanan menuju apartemen Tara, Jandita hanya menatap keluar jendela dengan pandangan kosong. Tangannya terus mengusap perutnya sendiri yang mulai membuncit, memikirkan betapa kontrasnya kehamilan yang ia jalani dengan perjuangan maut yang sedang dihadapi adiknya. Dewangga sesekali melirik istrinya dengan cemas. Ia menggenggam tangan Jandita erat. "Jan, aku mohon ... kendalikan dirimu. Jangan menangis di depannya. Tara butuh kekuatan, bukan air mata yang akan membuatnya merasa semakin bersalah. Ingat janji kita semalam, oke?" Jandita tidak menjawab. Ia tidak bisa berjanji. Bagaimana mungkin seseorang bisa tenang saat tahu bahwa setiap detik yang ia lalui bersama saudaranya bisa

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD