“Ya ampun, aku ngapain, sih?”
Jandita memukul kepalanya sendiri usia membuang tubuhnya ke ranjang. Tatapannya terpaku pada langit-langit kamar yang didominasi dengan warna putih gading. Pikiran gadis itu masih terpancang pada tindakan gila yang tadi ia lakukan.
Bagaimana mungkin ia mengaku pada papanya jika ia telah melakukan hubungan suami istri dengan Dewangga?
“Kayaknya aku udah bener-bener gila. Kenapa tadi spontan ngomong begitu? Mana Om Dewa langsung bilang mau nikahi lagi. Apa-apaan coba?”
Seakan-akan terjebak oleh situasi yang ia kendalikan sendiri, Jandita kini semakin bingung. Niat hati ingin membuat sang sahabat mati kutu, kini dia sendiri yang harus menerima konsekuensinya.
Dewangga bukan hanya tidak mengelak ketika Jandita mengaku telah tidur dengannya, pria itu bahkan berniat bertanggung jawab. Apa dia gila? Bahkan dalam angan pun Jandita tidak pernah berpikir untuk menikah dengan pria yang lebih tua.
“Kalau udah kayak gini, aku harus gimana?” bisiknya lebih kepada dirinya sendiri.
Pikiran Jandita buntu. Otaknya tak mau diajak bekerja. Nasi sudah menjadi bubur, dan bubur itu kini harus tetap Jandita telan. Entah apa yang harus Jandita lakukan setelah ini.
Sementara itu di kantornya, Dewangga masih duduk di kursi kerjanya setelah Jatmiko pamit. Tatapannya tajam menembus layar laptop yang sejak tadi berpendar. Banyak data dan angka yang semalam ia selamatkan bersama tim IT-nya muncul di sana dengan aman. Namun, pikirannya tak berada di sana.
Sepeninggal sang sahabat tadi, pria itu termenung. Dewangga mulai menyusun satu per satu kejadian yang kemudian membawanya pada keputusan paling gila yang pernah ia ambil. Mulai dari bertemu Jandita di depan bar. Lalu membawanya ke kantor. Dan pagi ini, ketika gadis itu mendadak bilang jika semalam mereka telah memadu kasih di depan papa sekaligus sahabat Dewangga.
Yang benar saja? Ia bahkan tak sempat memikirkan hal demikian setelah sekian lama menikmati kesendirian.
Namun, Dewangga malah mengikuti permainan gadis itu.
“Kita lihat saja. Apa yang akan Jandita lakukan setelah ini,” bisiknya.
Dewangga membuang tubuhnya ke bahu kursi seraya memejamkan mata. Angannya berkelana membelah labirin kenangan yang sudah puluhan tahun ia kubur dalam-dalam.
Tentang seseorang yang sosoknya seolah-olah lahir kembali pada sosok Jandita. Matanya, bibirnya, caranya tersenyum bahkan ketika gadis itu terlelap.
Berkali-kali ia menampik kenyataan itu, tapi hatinya tak pernah benar-benar yakin. Kini, semesta membelitnya dengan Jandita. Entah apa yang terjadi setelah ini.
***
Siang itu, Jatmiko pulang ke rumah usai menyelesaikan pekerjaannya di kantor. Sepanjang pagi, ia memikirkan kegilaan yang dilakukan sang putri dan sahabatnya sendiri. Jatmiko tak habis pikir, kenapa dari sekian banyak wanita, harus Jandita yang Dewangga pilih.
Oke, ia dulu juga mantan playboy. Namun, tidak pernah terlintas sedikitpun dalam pikirannya untuk memakan anak teman sendiri. Namun, Dewangga?
“Astaga … apa ini karma?” bisik Jatmiko usai mematikan mesin mobilnya.
Ia masih bertahan di dalam kabin saat Arumi keluar dari rumah.
“Mas, kamu ngapain masih di sana?”
Jatmiko tersentak. Ia mengendurkan rahangnya, lalu menarik sudut bibirnya perlahan demi menghilangkan rasa cemas di mata istrinya.
Ia kemudian membuka pintu mobil dan mendekati Arumi yang berdiri tak jauh dari sana.
“Nggak ada apa-apa, Sayang.”
“Ya, udah. Ayo masuk,” ujar Arumi seraya menggandeng lengan sang suami.
Ketika baru memasuki ruang tamu, Jatmiko mendongak. Tadi, ia meminta Jandita untuk pulang. Jadi, apakah gadis itu ada di kamarnya?
“Apa Jandita masih di atas?” tanyanya pada Arumi kemudian.
“Masih. Dia nggak ke mana-mana sejak pulang tadi. Oh, iya, Mas. Kok, pakaian dia kayak gitu, sih? Kamu tahu dia dari mana? Aku cemas, loh. Dia, kan, anak cewek,” jelas Arumi kemudian.
Arumi memang menyayangi Jandita seperti anak sendiri sejak dulu. Walaupun respons gadis itu kadang sangat dingin. Namun, Arumi tidak pernah membedakan perlakuannya kepada Jandita maupun anak kandungnya sendiri.
“Nanti saja aku jelasin. Aku mau ketemu Jandita dulu,” ucap Jatmiko.
Arumi mengangguk lemah. Ia melepas kepergian sang suami menapaki tangga untuk naik ke kamar Jandita. Jatmiko berjanji akan menjelaskan semuanya setelah bertemu dengan anak gadisnya. Jadi ia menunggu dengan sabar di meja makan sampai suaminya kembali.
Tepat ketika Jatmiko berada di depan pintu kamar Jandita, Gadis itu membuka perabot kayu itu dari dalam. Keduanya bersirobok tegang. Hening membungkam keduanya beberapa saat. Sampai akhirnya Jatmiko membuka suara.
“Papa mau bicara sama kamu,” katanya.
“Jandita harus ke butik, Pa. Ada yang mau ambil pesenan gaun.”
“Sebentar saja. Papa mau dengar semuanya dengan jelas darimu, Jandita. Sejak kapan kamu menjalin hubungan dengan Dewa?”
Jandita terdiam. Pertanyaan sang Papa benar-benar menjebak. Sejak kapan? Ia bahkan tidak punya pikiran sedikitpun untuk menjalin hubungan dengan teman Papanya itu. Lantas, bagaimana ia menjelaskan situasinya sekarang?
Jatmiko membuang napasnya dengan kasar. Ia mencoba menelisik wajah sang putri yang tampak pias. Antara takut dan kebingungan yang entah karena alasan apa. Jadi, ia mencoba lebih lunak bertanya agar gadis itu mau terbuka.
“Jandita, Papa nggak marah kalau kamu memang punya hubungan sama Dewa. Dewa juga udah bilang sama Papa kalau dia serius sama kamu. Tapi setidaknya jangan berbuat sesuatu yang akan kamu sesali di kemudian hari.
Papa pernah muda. Papa pernah nakal dan Papa nggak mau kamu mengikuti jejak buruk ini.”
Jandita mendongak. Ia menatap ke dalam mata Jatmiko yang cerlang. Tatapannya tampak begitu tulus. Walaupun keduanya tidak dekat selama ini, tapi Jandita bisa merasakan jika perkataan Papanya tadi benar-benar datang dari hatinya.
“Papa kenal Dewa sejak lama. Sejak sekolah. Dia orang yang baik. Papa nggak akan khawatir kalau dia yang kamu pilih. Tapi … apa kamu nggak mau memikirkannya lagi? Oke, Papa nggak tahu sejauh mana hubungan kalian. Tapi setidaknya, kamu harus punya satu alasan bagus, kenapa Dewa yang … usianya sama dengan Papa yang menjadi pendampingnu.”
Jandita masih diam. Ia bingung harus bilang apa. Semuanya terasa ganjil dan salah. Salah karena ia seperti sedang bermain-main dengan api. Nyatanya, api itu malah membuat hubungan yang awalnya dingin dengan sang papa menjadi kembali hangat.
“Maafin Jandita, Pa.”
Akhirnya Jandita membuka suara. Gadis itu menunduk dan tidak berani menatap ke dalam mata Papanya.
Sementara Jatmiko mengusap bahu sang putri lembut. Hal yang sangat jarang ia lakukan sejak Jandita beranjak remaja. Dan sampai sekarang.
“Nggak perlu minta maaf. Cinta itu nggak pernah salah alamat. Papa nggak masalah kamu mau punya hubungan sama siapa aja. Asalkan kamu bahagia,” kelas Jatmiko.
Jandita mendongak, lalu tersenyum. Dengan ragu-ragu dia maju sejengkal dan memeluk tubuh Jatmiko erat.
“Terima kasih, Pa,” bisiknya kemudian.
“Iya. Sama-sama. Dewa sudah bilang kalau dia akan melamarmu secara resmi besok, lalu kalian akan menikah sebulan kemudian,” imbuh Jatmiko.
Jandita reflek melepaskan pelukan sang Papa. Gadis itu mundur sejengkal lalu menatap Jatmiko dengan nanar.
“Secepat itu, Pa?” tanyanya.