“Permisi. Dewa ada di dalam?” tanya Jatmiko yang baru saja tiba di kantor Dewangga.
Ia bertanya pada resepsionis mengenai keberadaan sang sahabat yang ia ketahui menghubunginya sejak semalam. Alih-alih membicarakan bisnis yang sudah lama mereka rencanakan, Jatmiko akhirnya memutuskan untuk datang saja ke kantor Dewangga pagi-pagi buta.
“Mobilnya sudah terparkir, sepertinya sudah sejak semalam Pak Dewa ada di ruangannya, Pak,” katanya.
“Baik. Kalau begitu aku masuk saja.”
Jatmiko berterima kasih dan berniat langsung menuju ke ruangan Dewangga. Namun, baru dua langkah menuju lift, ia dikejutkan dengan Tara yang memanggilnya dari pintu lobby.
“Om ada urusan sama Papa, ya? Kok, pagi-pagi udah di sini?” tanya Tara usai mereka berdiri bersisihan.
“Iya. Semalam Papamu telepon Om berkali-kali. Tapi ponsel Om lagi mati. Baru pagi ini notifikasinya masuk. Karena Om pikir penting, jadi Om langsung ke sini aja,” jelasnya.
Tara mengangguk, lalu menambahkan penjelasan.
“Iya, Papa di kantor. Sejak semalam nggak pulang kayaknya. Pasti ada yang urgent. Ya, udah. Tara antar Om ketemu sama Papa,” kata gadis itu semangat.
Karena sudah kenal sejak kecil, Tara yang notabene adalah gadis yang mudah akrab bisa langsung mendominasi situasi. Ia dan Jatmiko naik lift menuju ke ruangan Dewangga di lantai atas. Tidak ada yang mencurigakan ketika kemudian mereka sampai di depan pintu.
“Papa pasti di dalam.”
Tara tersenyum, lalu mendorong pintu kaca buram di ruangan Dewangga. Bersamaan dengan Jatmiko yang juga melangkah memasuki ruangan.
“Pa … ada Om Jatmiko. Dia datang—”
Tara tergemap. Tangannya refleks menutup mulut. Dia dan Jatmiko kompak terhenyak ketika melihat Jandita dan Dewangga dalam satu ruangan yang sama. Terlebih, penampilan mereka yang bisa dikatakan tidak wajar.
“Apa yang kalian lakukan?”
Jatmiko bertanya bertanya dengan sedikit geram. Ia mungkin tidak begitu dekat dengan Jandita, tapi dia tahu anak sulungnya itu tidak mungkin melakukan hal-hal di luar batas. Namun, Dewangga? Dia duda sejak lama. Pria dewasa yang pasti masih normal dan memiliki orientasi seksual yang normal juga. Jadi, mugkinkah mereka melakukan itu semalam?
“Pa … Papa ngapain sama Jandita?”
Kali ini, Tara yang membuka suara. Semalam, ia yang membuat Jandita kalah telak dengan merebut Kendra dari sisinya. Namun, pagi ini dia yang dibuat terkejut dengan kenyataan di depan matanya. Mungkinkah Jandita menggoda papanya yang selama ini dikenal kaku dan dingin?
“Aku hanya membantu Jandita semalam. Dia—”
“Om Dewa bantu aku, Pa. Semalam kami … sudah melakukannya,” sahut Jandita cepat.
Tara dan Jatmiko terkejut bukan main mendengar ucapan Jandita. Sementara Dewangga memaku gadis itu dengan tatapan tajam penuh tanya. Untuk apa Jandita berbohong? Untuk apa gadis itu mengarang cerita di depan papanya? Akibat dari pengakuannya yang spontan itu, tidak akan main-main.
“Apa? Dewa, Jandita itu anakku. Kenapa kamu tega melakukannya? Apa nggak ada wanita lain yang bisa membuatmu tertarik. Astaga.”
Jatmiko tampak frustrasi. Dia bahkan mengusap wajahnya dengan kasar karena kesal campur kecewa. Ia tahu, bagaimana sikap Dewangga sejak lama. Namun, tindakannya kali ini sama sekali tidak bisa ia prediksi.
“Pa … Papa ngapain, sih, sama Jandita? Kalau Papa mau nikah lagi, jangan sama dia. Aku nggak setuju. Aku nggak mau punya ibu tiri seumuran sama aku.”
Tara ikut meradang. Dia bahkan terlihat begitu emosional ketika mengetahui apa yang dilakukan Dewangga dan Jandita di ruangan itu. Bayangan mengenai apa yang terjadi semalam membuatnya makin kalut. Sementara Dewangga masih diam. Dia memindai Jandita yang kemudian maju dan mendekat ke sisi Dewangga.
“Pa … Om Dewa nggak maksa aku. Kami … sama-sama mau. Jadi … tolong jangan berlebihan begini. Aku udah dewasa. Aku tahu apa yang aku lakukan,” jelas Jandita.
Sembari menjelaskan, gadis itu menatap nyalang sang sahabat yang makin emosi. Ya, Jandita menangkap peluang untuk membuat Tara dan Kendra mati kutu usai kepergok satu ruangan semalaman dengan Dewangga. Kalau semalam mereka membuat seluruh dunia Jandita hancur, pagi ini Tara akan merasakannya juga.
“Diam kamu, Jandita. Kamu pasti merayu papaku, kan? Kamu itu memang jalang nggak tahu diri,” umpat Tara kesal.
“Kita sama-sama tahu, Tara. Siapa yang nggak tahu diri,” sahut Jandita cepat.
Napas Tara naik turun. Jelas perkataan Jandita mengenainya dengan telak. Ia memang merebut Kendra karena lelah selalu menjadi yang nomer dua. Namun ini, kenyataan bahwa Papanya bahkan tidak menampik semua yang Jandita katakan membuat Tara makin kesal.
“Aarrgh ….”
Tara memilih berlalu dari ruangan itu. Meninggalkan Dewangga yang masih mencoba membaca situasi dan pengakuan Jandita yang tiba-tiba. Ia bisa saja mengelak. Namun, ia mau tahu sejauh mana gadis di hadapannya ini bertanggung jawab atas apa yang dikatakannya barusan.
“Pulang, Jandita. Sopir Papa ada di depan. Papa yang akan selesaikan masalah ini,” ucap Jatmiko kemudian.
Sata itu, Jandita menoleh ke arah Dewangga yang juga menatapnya dengan nyalang. Kedipan matanya pada pria itu adalah ganti isyarat bahwa dia mau semuanya berjalan seperti yang sudah dia katakan tadi. Namun, entah. Apakah Dewangga paham atau tidak.
Jandita kemudian mengambil tas dan sandalnya. Sebelum akhirnya pergi meninggalkan ruangan Dewangga.
Sepeninggal Jandita, Jatmiko yang berusaha menenangkan dirinya sejak tadi akhirnya membuka suara. Sebelum itu, dia membuang napas dengan kasar, lalu menggeleng lemah.
“Jelaskan, Dewa! Apa semua ini?” tanya Jatmiko. Suaranya ditahan serendah mungkin karena paham bagaimana sifat sahabatnya itu sejak lama.
Dewangga sendiri masih belum paham apa yang terjadi. Mau dijelaskan bagaimanapun, ia dan Jandita memang tidak melakukan apa-apa semalam. Namun, yang dikatakan gadis itu, sedikit banyak membuat Dewangga paham. Belum lagi perseteruan singkatnya dengan Tara yang ia tahu, keduanya adalah sahabat sejak lama.
“Jandita sudah bilang, kan, apa yang terjadi. Jangan minta aku mengulanginya.”
“Astaga, Dewa. Apa kamu nggak mikir, Jandita masih muda. Kenapa kamu … Ya Tuhan. Apa semua ini balas dendam untuk masa lalu kita?”
Dewangga menoleh. Ia tak mau melibatkan masa lalu mereka. Namun, jika boleh mengungkit, ia mau semuanya terbuka dan apa yang terjadi dulu terang-terangan dijelaskan. Nyatanya, kejadian itu sudah terlalu lama. Jadi, ia tak akan mengingatnya lagi.
“Jangan berlebihan. Aku sudah melupakannya.”
“Lalu ini apa?” Jatmiko membuang napas, lalu melanjutkan ucapannya, “aku memang sudah menikah lagi, tapi perasaanku pada Nirima tidak akan pernah pudar sampai kapanpun.”
Dewangga menunduk. Ada sesuatu yang tiba-tiba terasa mencubit hatinya. Pengakuan Jatmiko dan semua yang terjadi di masa lalu berkelebat lewat seperti film yang diputar ulang. Namun, ia tak mau kembali ke masa itu. Jadi, ia mendongak dan menatap sahabatnya itu lekat.
“Aku akan menikahi Jandita,” ucapnya yang membuat Jatmiko terhenyak.
Sementara di depan pintu ruangan itu, d**a Jandita hampir meledak mendengar ucapan Dewangga. Pria itu dengan mantap mengucapkan kata pamungkas, yang bahkan tidak disangka-sangka oleh Jandita. Gadis itu menelan ludah, lalu menekan dadanya perlahan.
“Apa … Om Dewa serius mengatakannya?”