“Jandita. Jandita bangun!”
Panggilan itu bahkan tidak menggoyahkan sedikit pun kelopak mata Jandita. Ia sudah benar-benar tumbang usai ambruk tepat di hadapan Dewangga. Napasnya berat, kulitnya pucat, dan aroma minuman keras begitu menusuk. Dewangga berdiri di samping tubuh yang kini tergeletak di jok belakang mobilnya. Ia mengusap wajah sambil mengumpat pelan dalam hati. Pada akhirnya, ia menyerah. Gadis itu tidak mungkin bisa dibangunkan.
Tanpa banyak pertimbangan, Dewangga masuk ke kursi pengemudi. Ia menyalakan mesin, lalu membawa mobilnya meninggalkan lokasi. Tangan kirinya menggenggam setir dengan kuat, sedangkan tangan kanannya sibuk menekan layar ponsel.
Ia mencoba menghubungi Jatmiko—sahabat lamanya, sekaligus ayah dari gadis yang saat ini sedang tak sadarkan diri di belakang. Namun panggilannya tak juga tersambung. Jangankan diangkat, nada sambung saja tidak muncul. Sementara itu pekerjaan di kantornya sudah menunggu. Tim IT-nya membutuhkan dirinya segera, satu kesalahan kecil saja bisa membuat sistem perusahaannya hilang seperti asap.
“Merepotkan saja,” gumam Dewangga, suaranya setengah geram.
Ia melirik sebentar ke kaca spion. Jandita terlelap dengan posisi miring, rambutnya acak, pipinya memerah, dan bibirnya tampak kering. Sekalipun mabuk berat, gadis itu tetap saja menyimpan aura rapuh yang entah kenapa menusuk Dewangga lebih dalam dari yang ia harapkan.
Beberapa menit kemudian, mobil Dewangga memasuki area parkir VIP. Satpam yang berjaga langsung menghampiri.
“Malam, Pak.”
“Malam. Tim IT ada di atas?” tanya Dewangga cepat.
“Ada, Pak. Sudah dari tadi.”
Dewangga mengangguk, baru melangkah dua langkah ketika ia teringat sesuatu. Lebih tepatnya, seseorang. Ia kembali menoleh ke mobil. Sebuah desahan berat lolos dari bibirnya. Ia jarang bersikap lembut, apalagi peduli. Namun, Jandita adalah anak sahabatnya. Dan kondisi gadis itu … terlalu kacau untuk dibiarkan.
Ia membuka pintu belakang dan seketika itu juga, Jandita memuntahkan isi perutnya. Tepat mengenai pakaian dan kemejanya.
“Sial! Kamu benar-benar merepotkan, Jandita,” decaknya spontan.
Satpam refleks ingin membantu, tetapi Dewangga langsung mengangkat tangan untuk menolak.
“Nggak perlu. Biar aku saja.”
Dengan susah payah Dewangga mengangkat tubuh Jandita dan membawanya menuju ke ruangannya. Begitu sampai, ia menidurkan gadis itu di sofa. Kemejanya yang kotor langsung ia lepaskan. Ia merasa risih, tapi bukan itu yang membuat napasnya tercekat.
Karena tepat ketika kemejanya terbuka, mata Jandita bergerak. Meski samar dan sekejap, tatapan itu menatap langsung ke dadanya. Otot-otot tegang yang tak sengaja ia pamerkan. Juga tatto di lengan atas yang tidak terlihat jelas di mata Jansita.
Gadis itu mendecak pelan. Entah geli, entah bingung. Tubuhnya bereaksi aneh. Terlalu panas dan liar.
Apakah karena alkohol? Atau memang pria itu terlihat terlalu menggoda untuk seorang duda kepala empat?
Dewangga tidak mau memikirkan hal itu. Ia masuk ke kamar mandi, membasuh bekas muntahan, lalu keluar dengan kemeja bersih dari lemari kantor. Ia mengancingkannya sambil menatap Jandita yang tertidur pulas, pakaian gadis itu sudah basah dan lengket.
Namun menggantinya? Mustahil. Itu sama saja cari mati.
Jadi ia membiarkan gadis itu tertidur, sementara dirinya melangkah keluar dan bergabung dengan tim IT.
***
Jandita membuka matanya yang berkabut ketika mendengar suara sirine pemadam yang kebetulan lewat di depan perusahaan Dewangga. Ia mengerjap sebentar, lalu mengurut keningnya yang terasa nyeri. Efek minuman keras masih menggantung di tubuhnya yang terasa lemas. Namun, ia mencoba menyadarkan diri.
Ruangan Dewangga yang didominasi warna hitam menjadi pemandangan pertama yang ia lihat. Rak buku raksasa dengan banyak koleksi buku tebal yang berjajar dan disusun berdasarkan abjad. Lalu, lukisan abstrak. Kemudian meja hitam mengilat dengan nama yang tertulis jelas di sana. Dewangga Atmaja.
Nama itu jelas begitu familiar bagi Jandita. Sudut bibirnya tanpa terasa bergetar pelan. Bahkan ia hampir tergelak mengingat semesta begitu asyik mempermainkannya.
Semalam, ia baru saja memutuskan hubungan persahabatannya dengan Tara, tapi beberapa jam berikutnya ia malah dipertemukan dengan Dewangga. Bahkan ditolong dan dibawa ke kantornya. Sialan memang.
Takdir memang begitu licik menyeretnya dalam pusaran patah hati yang dalam. Namun, bagi Jandita itu bukanlah akhir. Tak peduli ia kehilangan kekasih atau sahabat. Hidupnya di dunia tetap harus ia jalani. Sampai akhirnya, ia ingat ketika tanpa sengaja ia melihat Dewangga melepas kemeja di hadapannya semalam.
Mendadak, d**a Jandita berdegup dengan kencang. Oke, ia tahu ini reaksi wajar dari seorang wanita yang dengan sadar melihat bagian tubuh pria yang menggoda, tapi ini Dewangga. Pria seusia papanya yang seharusnya ia hormati. Namun, malah ia lecehkan di dalam kepala.
“Astaga, Jandita. Otakku pasti sudah tidak waras karena kebanyakan minum-minuman keras,” bisiknya pada diri sendiri.
Gadis itu pun menggeleng lemah, lantas beranjak menuju ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Setidaknya, ia harus mengenyahkan pikiran gilanya mengenai Dewangga yang tadi sempat terlintas dalam lobus frontalnya.
Di depan cermin wastafel, Jandita menatap pantulan dirinya di cermin. Sadar jika dia begitu kacau usai mendapati kenyataan mengenai Kendra dan Tara yang berselingkuh di belakangnya. Sisi sentimentilnya mendadak keluar.
Ia memang tidak menangis, tidak berteriak. Ia bisa mengendalikan diri. Namun, siapa yang tahu remuk hatinya. Setelah bertahun-tahun percaya jika cinta akan bermuara pada sebuah ikatan rumah tangga, nyatanya Kendra memilih tawaran Tara dan tidak bisa menahan dirinya. Lantas, apakah ia harus diam saja?
Tak ingin larut dalam kesedihan mendalam, Jandita akhirnya memilih untuk melepas dres kotor dan lengket yang ia kenakan, lalu mengambil kemeja bersih yang ada di lemari ruangan Dewangga. Alih-alih meminjam walaupun tanpa persetujuan.
Wajahnya sudah bersih tanpa riasan. Hanya menyisakan warna lembut lipstik yang masih menempel samar di bibirnya. Sementara rambutnya dicepol asal ke atas. Memperlihatkan lehernya yang putih bersih bak pualam.
Ketika Jandita keluar, matahari sudah muncul sempurna. Dengan kaki telanjangnya, ia melangkah mendekati jendela kaca yang menampilkan lalu lintas kota yang mulai padat. Sejenak, ia memperhatikannya. Sebelum akhirnya tersentak ketika tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dari luar.
Dewangga muncul dengan mata panda dan muka lelah. Namun, tatapannya terpaku pada sosok Jandita yang dengan tidak sopannya menarik atensinya lebih dalam.
Kemejanya yang kebesaran, kakinya yang telanjang dan tampak jenjang. Juga ekspresinya yang menantang, seolah-olah membuat Dewangga lupa jika Jandita adalah anak dari sahabatnya. Gadis yang ia bantu semalam.
Sementara Jandita yang menyadari ekspresi Dewangga yang tak biasa, buru-buru mendekat dan menangkupkan tangannya di d**a.
“Om. Maaf sudah merepotkan,” katanya.
Saat itu juga, Dewangga kembali dari kelana angan. Pria itu mengangguk dengan tergagap dan membuang napasnya dengan kasar.
“Iya,” sahutnya singkat.
“Aku akan minta sopir jemput sebentar lagi.”
Jandita hendak mengambil ponsel di tas ketika kemudian Dewangga mendekat dan hendak membuka suara. Sialnya, saat itu pintu ruangannya tiba-tiba terbuka dari luar. Dewangga dan Jandita kompak menoleh.
Dua kepala menyembul dari luar. Salah satunya berbicara dengan nada ceria seperti biasanya.
“Pa … ada Om Jatmiko. Dia da ….”
Tara terdiam melihat pemandangan di dalam ruangan kerja sang papa. Jandita dengan kemeja kebesaran milik sang papa dan papanya sendiri yang juga tampak berantakan. Pikirannya segera terbang dengan asumsi paling gila.
Tak jauh beda dengan Tara, Jatmiko yang sengaja datang pagi karena ada proyek besar dengan Dewangga ikut terhenyak. Ekspresinya juga terkejut dan tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Hingga rasa geram yang memuncak di kepalanya.
“Apa yang kalian lakukan?” katanya geram.