Bab 40. Dua Putri Jatmiko

1866 Words

Langkah kaki yang tergesa menggema di sepanjang koridor rumah sakit yang dingin dan berbau antiseptik tajam. Jandita tidak memedulikan napasnya yang mulai tersengal. Pikirannya hanya tertuju pada satu nama, sang papa, Jatmiko. Di belakangnya, Dewangga melangkah lebar, tangannya senantiasa siaga di pinggang Jandita, menjaganya agar tidak tersandung dalam kepanikannya yang meluap. Begitu sampai di depan ruang UGD, Jandita melihat sosok Arumi duduk di kursi tunggu dengan bahu yang merosot. Ibu tirinya itu tampak begitu lusuh. Rambutnya sedikit berantakan dan matanya sembab. Begitu melihat Jandita, Arumi langsung berdiri dengan tangan gemetar. "Ma! Papa mana? Bagaimana keadaan Papa?" tanya Jandita dengan suara yang pecah. Air mata sudah menggantung di sudut matanya, siap tumpah kapan saja.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD