Jandita mengunci pintu kamar dengan cepat. Genggaman tangannya pada Dewangga mengerat, lalu terlepas. Ia berbalik dan menatap Dewangga yang berdiri tak jauh darinya. Matanya yang indah masih memancarkan campuran antara keraguan, amarah, dan gejolak yang tak terhindarkan. “Apa Om yakin dengan apa yang Om katakan tadi?” tanya Jandita. Suaranya bergetar tipis, memecah kesunyian yang tebal. Dewangga tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melangkah maju, menjembatani jarak di antara mereka. Ia menarik tubuh gadis itu dalam dekapan yang hangat dan erat, mengunci lagi bibirnya dengan kecupan dalam, meyakinkan, dan sarat janji. “Aku yakin, Jandita,” bisiknya, melepaskan ciuman hanya sejenak, dahi mereka saling menempel. “Sangat yakin.” Napas Jandita memburu. Tubuhnya yang semula tegang mulai melu

