BAB 2

1349 Words
POV Bianda “Baru pulang, Bianda?” Suara berat Prawiro Syuratmadja langsung menghentikan langkahku di lobi tengah. Pria paruh baya itu bahkan tidak repot-repot mengalihkan pandangan dari tablet finansial di tangannya. Nada bicaranya selalu begitu, berwibawa, penuh tekanan, dan otomatis membuat siapa pun yang mendengar merasa kerdil. Di rumah megah ini, aku memang bukan seorang anak perempuan yang dirindukan, melainkan selembar saham yang sedang dipoles agar nilainya tinggi saat dilempar ke pasar. “Iya, Pa,” jawabku pelan sambil memeluk tas jinjingku lebih erat. Wangi cedarwood dari aromaterapi mahal yang memenuhi ruangan mendadak membuatku mual. “Bianda baru selesai dari kampus.” “Papa sudah dengar dari Magnus,” potongnya dingin. Kali ini dia meletakkan tabletnya ke atas meja kaca dengan ketukan pelan yang disengaja. Mata elangnya menatapku lurus, menusuk, tanpa ada kehangatan seorang ayah. “Katanya draf skripsimu hancur berantakan kemarin. Benar?” Aku menghela napas, berusaha menata debaran jantungku. Sialan si robot es Magnus itu. Belum juga lewat dua puluh empat jam, dia sudah lebih dulu mengadu ke Papa. “Belum sempurna saja, Pa. Tapi Bianda sudah revisi total semalam suntuk. Pagi tadi sudah dikumpulkan kembali.” “Revisi semalam suntuk untuk menambal kebodohan yang salah sejak awal?” Prawiro terkekeh, sebuah tawa pendek yang sangat merendahkan. Dia berdiri dari sofa kulitnya, berjalan mendekat dengan kedua tangan diselipkan ke dalam saku celana. “Itu bukan efisien, Bianda. Itu bodoh.” “Bianda cuma salah mengambil sudut pandang sampel, Pa. Metodologinya tetap benar,” bantahku, mulai merasa gerah karena disudutkan bertubi-tubi semenjak kemarin. “Metodologi?” Prawiro menaikkan sebelah alisnya, bibirnya membentuk segaris senyum sinis. “Itulah akibatnya kalau kamu keras kepala mengambil jurusan Manajemen Bisnis yang penuh teori sampah itu. Kuliah mahal-mahal empat tahun, tapi isi kepalamu cuma penuh dengan definisi buku teks luar negeri yang sama sekali tidak berguna di dunia nyata.” “Jurusan Bianda itu akreditasinya internasional, Pa! Semua kurikulumnya dirancang untuk mencetak pemimpin korporasi modern!” keluhku, tidak terima investasi waktu dan otakku selama tujuh semester ini dilabeli sebagai produk gagal. “Korporasi modern mana yang mau dipimpin anak ingusan yang tidak tahu bedanya grosir pasar tradisional dengan distributor utama?” sahut Prawiro, suaranya meninggi satu oktav, memotong kalimatku tanpa ampun. “Kamu pikir bisa langsung duduk di kursi CEO HanaSyu Cosmetics hanya dengan modal selembar ijazah ber-IPK cantik? HanaSyu itu dibangun pakai darah dan keringat Papa, Bianda! Bukan pakai infografis aesthetic hasil tugas kuliahmu!” Dada ini rasanya sesak luar biasa. Rasanya seperti baru saja ditampar oleh realitas yang sengaja diciptakan oleh ayahku sendiri untuk meruntuhkan duniaku. “Bianda tahu cara kerja HanaSyu, Pa. Bianda sering ikut rapat direksi bersama Papa selama ini,” ujarku, mencoba mencari celah untuk membela diri. “Kamu cuma duduk manis di pojok ruangan sambil mencatat agenda, jangan sok tahu!” bentak Prawiro. Dia melangkah selangkah lagi ke depan, menatapku dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan. “Dengar ya, Bianda. Tanpa nama Syuratmadja di belakangmu, kamu itu cuma remahan rempeyek di luar sana. Kamu tidak akan pernah bisa memimpin HanaSyu tanpa koneksi Papa, tanpa modal Papa, dan tanpa restu dari Papa. Mengerti?” Air mata mulai menggenang di sudut kelopak mataku, terasa panas dan sangat memalukan. Sial, kenapa aku harus menangis di depan pria tebal hati ini? “Papa salah,” bisikku dengan suara bergetar hebat. Aku segera menghapus air mata yang nyaris jatuh dengan punggung tangan secara kasar. “Papa salah besar menilai Bianda.” Prawiro melipat tangannya di d**a, menatapku jemu. “Salah di sebelah mana? Realitasnya memang begitu. Kamu itu cuma anak manja yang hidup di dalam tempurung emas yang Papa buat.” “Bianda bukan anak manja!” seruku lantang, menantang langsung mata elang yang selama ini selalu membuatku ciut. “Dan Bianda bakal buktiin ke Papa, ke Magnus, dan ke semua orang di perusahaan itu kalau Bianda bisa sukses dengan usaha Bianda sendiri! Tanpa sepeser pun uang Papa, dan tanpa nama besar Syuratmadja!” “Lalu kamu mau apa? Mengemis pekerjaan di luar?” tanya Prawiro dengan nada mengejek yang sangat kentara. “Lihat saja nanti, Pa. Bianda tidak butuh belas kasihan Papa untuk membuktikan kualitas diri Bianda,” jawabku ketus, lalu berbalik dan melangkah cepat menuju tangga, mengabaikan tatapan tajamnya yang terus menusuk punggungku. Malam itu, kamarku yang luas berubah menjadi markas pemberontakan. Aku melempar tas desainerku ke atas kasur, lalu menyambar laptop dengan gerakan kasar. Amarah yang membakar dadaku sejak sore tadi kini berubah menjadi bahan bakar adrenalin yang luar biasa. ‘Lu pikir gue gak bisa hidup tanpa uang lu, Pa?’ pikirku murka sambil membuka berbagai situs pencari kerja. ‘Gue bakal buktiin kalau nama Bianda tetap punya nilai, bahkan tanpa embel-embel Syuratmadja.’ Aku menyaring pencarian secara acak di internet. Aku sengaja menghindari posisi manajer, supervisor, atau apa pun yang membutuhkan koneksi tingkat tinggi. Aku justru mencari posisi paling bawah, tempat di mana tidak ada yang peduli siapa ayahku atau dari mana aku berasal. Mataku tiba-tiba tertuju pada satu lowongan kerja di sebuah perusahaan distribusi kosmetik lokal kelas menengah yang kantornya terletak di daerah pinggiran kota yang padat. Dibutuhkan: Anak Magang Divisi Operasional Lapangan. Syarat: Mampu bekerja di bawah tekanan, bersedia turun ke pasar tradisional, jujur, dan ulet. Aku tersenyum sinis melihat layar laptop. “Ini dia. Panggung yang sempurna buat bikin Papa sama Magnus bungkam.” Tanpa berpikir dua kali, aku langsung membuat dokumen Curriculum Vitae yang baru. Aku menghapus semua riwayat organisasi elit kampus, menyamarkan nama belakangku menjadi hanya 'Bianda Hana', dan mengirimkan lamaran itu dengan sekali klik. Keesokan paginya, suasana di ruang makan terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Aku turun dengan pakaian kasual yang sangat sederhana—hanya kaus polos dan celana jins—sebuah pemandangan yang sangat langka di rumah ini. Prawiro sudah duduk di kepala meja, sedang menikmati kopi paginya sambil membaca koran bisnis harian. Dia melirikku sekilas dari balik korannya, menilai penampilanku dengan pandangan meremehkan yang sama seperti kemarin malam. “Sudah puas menangis semalaman, Bianda?” tanya Prawiro tanpa menurunkan korannya. “Atau kamu mau minta maaf sekarang dan meminta Papa menelepon Magnus agar skripsimu segera diluluskan?” Aku menarik kursi di ujung meja yang paling jauh darinya, lalu duduk dengan tegak. “Bianda tidak menangis, Pa. Dan Bianda tidak butuh Papa menelepon siapa pun.” Prawiro menurunkan korannya perlahan, menatapku dengan kening berkerut. “Lalu? Mau sampai kapan kamu memakai pakaian seperti gembel begitu di rumah ini?” “Bianda sudah diterima magang di perusahaan luar, Pa,” kataku dengan nada sedatar mungkin, membalas tatapannya dengan ketenangan yang matang. “Perusahaan distribusi kecil yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan Brama Group atau HanaSyu.” Prawiro terdiam beberapa saat, menatapku seolah-olah aku baru saja mengatakan bahwa bumi itu kotak. “Perusahaan kecil? Kamu bercanda?” “Bianda serius, Pa. Mulai minggu depan, Bianda bakal kerja di sana sebagai staf operasional lapangan biasa. Tanpa difasilitasi mobil dari rumah, dan tanpa nama besar Syuratmadja,” lanjutku, menegaskan setiap kata dengan keyakinan penuh. Prawiro menatapku selama beberapa detik, mencari kebohongan di mataku. Namun ketika dia hanya menemukan keseriusan yang mutlak di sana, sebuah tawa sinis yang sangat keras langsung lolos dari mulutnya. Dia bersedekap, menatapku dingin dengan pandangan yang seolah-olah sedang melihat badut yang sedang melucu di atas panggung sirkus. “Silakan coba, Bianda,” ucap Prawiro sambil tersenyum merendahkan, menggelengkan kepalanya pelan seolah keputusan yang kuambil adalah lelucon paling konyol tahun ini. “Kita lihat berapa hari kamu bisa bertahan di dunia luar tanpa nama Syuratmadja di belakangmu.” “Bianda pasti bertahan, Pa. Lebih dari yang Papa kira,” sahutku tajam, bangkit dari kursi tanpa menyentuh sarapan sedikit pun. “Dunia luar itu kejam, Bianda. Jangan merengek pulang ke rumah ini saat kulit mulusmu itu mulai terbakar matahari pasar,” sindir Prawiro lagi, kembali mengangkat korannya tinggi-tinggi, memutuskan obrolan secara sepihak. Aku mengepalkan tangan di samping tubuh, menarik napas dalam-dalam untuk meredam emosi yang kembali tersulut. “Kita lihat saja nanti siapa yang bakal menarik kata-katanya duluan, Pa.” Tanpa menunggu jawaban darinya, aku melangkah lebar keluar dari ruang makan. Tekadku sudah bulat. Perang terbuka dengan realitas yang diciptakan ayahku baru saja dimulai, dan aku tidak punya rencana untuk kalah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD