BAB 3

1700 Words
POV Bianda “Jadi maksud lo, bokap lo beneran nantang lo kayak gitu?” Suara Renata Mayangsari memecah keheningan di kamar kosnya yang pengap. Perempuan yang sejak zaman orientasi kampus dipanggil 'Oneng' itu masih sibuk mengunyah keripik singkong dengan berisik. Kamar berukuran tiga kali tiga meter ini berantakan setengah mati. Sebaskom mi instan yang sudah membengkak karena kuahnya mengering dibiarkan begitu saja di atas lantai tegel. Baunya bercampur aduk dengan tumpukan buku kuliah yang susunannya menyerupai menara Pisa. Ide gila memang selalu lahir dari tempat seperti ini, kamar kos berantakan, mi instan dingin, dan sahabat yang otaknya agak geser. “Gue gak peduli dia tega apa gak, Neng,” sahutku ketus, jemariku masih lincah menyapu layar ponsel untuk memeriksa status puluhan lamaran kerja yang kukirim asal-asalan. “Yang jelas, harga diri gue udah diinjak-injak sampai habis. Gue dibilang remahan rempeyek sama bokap sendiri. Gue disebut anak manja yang cuma bisa hidup di dalam tempurung emas. Sialan banget, kan?” Oneng menelan keripiknya lalu menunjukku dengan sisa patahan singkong. “Ya emang lo manja, Bi. Sadar diri dong. Lo ke kosan gue aja tadi naik Porsche. Itu mobil kalau parkir di depan gang, abang tukang parkirnya langsung sujud syukur berasa dapet THR awal tahun.” Aku menyambar bantal sofa bludru yang warnanya sudah memudar, lalu melemparnya tepat ke wajah Oneng. “Gue serius, Oneng! Gue butuh solusi nyata, bukan butuh diledekin! Lamaran yang gue kirim kemarin ke perusahaan-perusahaan mikro itu ditolak semua. Alasan mereka kocak banget, kualifikasi gue kemahalan buat staf lapangan. Mereka minder lihat ijazah kampus luar negeri gue.” Oneng menyingkirkan bantal dari wajahnya, lalu bergeser mendekat ke arah laptopku yang tergeletak di atas kasur lipat. “Ya lagian lo bego sih. Siapa suruh masukin riwayat kuliah mentereng gitu kalau mau lamar jadi kuli panggul kosmetik? Orang HRD juga mikir lo mau kudeta posisi manajer mereka. Nih, coba liat. Perusahaan yang beneran lagi buka lowongan magang divisi operasional lapangan skala besar tuh cuma ini.” Jari telunjuk Oneng yang agak berminyak menunjuk ke arah satu logo perusahaan yang sangat kukenal di layar. Jantungku mendadak berdegup kencang. “Brama Group?” pekikku. Suaraku naik dua oktav. “Lo gila ya, Neng? Itu kan rival abadi HanaSyu! Itu perusahaannya keluarga Magnus! Bokap gue sama bokapnya Magnus itu emang lagi ada aliansi bisnis di tingkat atas, tapi di pasar bawah, produk kita itu musuh bebuyutan!” “Justru karena itu, Malih!” Oneng menepuk jidatnya frustrasi. “Brama Group itu punya sistem distribusi pasar bawah paling kuat se-Indonesia. Kalau lo mau belajar cara megang pasar tradisional sampai pelosok daerah yang riil, ya cuma di sana tempatnya. Si Magnus kan selalu nyindir lo gak tahu lapangan. Nah, lo masuk dan buktiin di perusahaannya dia!” “Masalahnya gak sesederhana itu, Oneng sayang,” ujarku sambil mengurut kening yang mulai berdenyut. “Gue gak mungkin melamar pakai nama Bianda Hana Syuratmadja ke Brama Group. HRD mereka pasti langsung tahu siapa gue dalam waktu tiga detik. Entah gue langsung didepak karena dianggap mata-mata industri, atau gue malah dilaporin ke bokap gue. Dua-duanya bikin gue mati kutu!” Oneng terdiam, menopang dagunya dengan kedua tangan. Matanya berputar-putar, tanda kalau otak gesernya sedang bekerja ekstra keras untuk merumuskan sesuatu. “Koneksi nama belakang lo emang sialan sih,” gumam Oneng pelan, wajahnya tampak serius untuk ukuran orang yang sering dicap bodoh. “Syuratmadja itu terlalu mencolok. Kayak lo naro lampu neon raksasa di atas kepala lo.” “Nah, makanya! Terus sekarang gue harus gimana? Masa gue harus bikin KTP palsu ke pasar Pramuka? Itu kriminal, Neng. Bokap gue bisa punya alasan makin kuat buat masukin gue ke rumah sakit jiwa,” keluhku sambil menyandarkan punggung ke dinding kosan yang agak lembap. “Bentar, bentar ...” Oneng tiba-tiba menjentikkan jarinya dengan semangat. Matanya berbinar-binar liar. “Gue punya ide. Dan ide ini dijamin seratus persen legal, aman, dan gak bakal terdeteksi sama radar intelijen bokap lo maupun si robot es Magnus.” Aku memicingkan mata curiga. “Ide apa? Jangan aneh-aneh ya, Neng. Gue lagi gak mood main detektif-detektifan atau agen rahasia.” Oneng tidak menjawab. Dia malah bangkit berdiri, berjalan menuju lemari pakaian plastiknya yang salah satu pintunya sudah copot. Dia mengaduk-aduk laci bagian bawah, lalu mengeluarkan selembar amplop cokelat lecek. “Nih, lo liat ini dulu,” kata Oneng sambil melempar amplop itu tepat ke pangkuanku. Aku membukanya dengan ragu. Di dalamnya ada beberapa lembar fotokopi berkas legalitas diri. Surat keterangan dari desa, fotokopi kartu keluarga, dan sebuah pasfoto berlatar belakang merah. Di foto itu, tampak seorang gadis berambut dikepang dua, tanpa riasan sama sekali, mengenakan kemeja batik yang ukurannya terlalu besar. Ekspresi wajahnya tampak sangat kuper. “Ini siapa?” tanyaku bingung, membalik lembaran fotokopi KTP yang tertera di sana. “Sri Sutriani? Lahir di Gunungkidul?” “Itu sepupu desa gue, Bi,” ujar Oneng dengan senyum lebar yang terlihat sangat mencurigakan. “Dia baru minggu lalu ngirimin berkas itu ke gue. Minta tolong dicarikan kerjaan apa aja di kota, jadi pembantu rumah tangga atau buruh cuci juga dia mau. Tapi anaknya mendadak gak boleh merantau sama emaknya karena mau dinikahin sama juragan tanah di desanya.” Aku masih menatap fotokopi KTP itu, lalu beralih menatap Oneng bergantian. Koneksi di otakku mulai tersambung, dan seketika itu juga bulu kudukku meremang. “Neng ... jangan bilang lo mau gue ...” “Tepat sekali, wahai sahabatku yang cerdas!” Oneng memotong kalimatku dengan nada dramatis. “Lo lamar ke Brama Group pakai identitas si Sri. Berkasnya asli, orangnya ada, KTP-nya terdaftar di dukcapil, dan yang paling penting, gak ada satu pun orang di Brama Group yang bakal mengira kalau staf magang lapangan berpenampilan kuper asal Gunungkidul ini adalah putri mahkota HanaSyu Cosmetics!” “Lo beneran gila ya!” Aku langsung melempar amplop itu kembali ke arahnya. “Gue? Jadi Sri? Staf lapangan kuper dari Gunungkidul? Neng, muka gue ini langganan perawatan klinik kecantikan bintang lima di Senopati! Suara gue ini suara anak Jaksel yang medoknya internasional! Gimana caranya gue bisa nipu orang-orang Brama Group?!” “Aksen bisa dipelajari, Bi! Tinggal lo tambahin cengkok daerah dikit, beres. Lagian lo kan anak teater pas SMA dulu, masa akting jadi orang susah aja gak bisa?” Oneng terus menghujaniku dengan argumen-argumennya yang aneh tapi sialnya terdengar sangat masuk akal di situasi kepepet ini. “Inget tantangan bokap lo. Inget muka songong si Magnus yang udah nyoret skripsi lo kemarin sore. Lo mau nyerah gitu aja dan nerima nasib jadi pajangan korporat yang gak dianggap?” Kata-kata Oneng menembus ego terdalamku. Bayangan wajah Prawiro yang tertawa merendahkan di ruang makan kembali melintas di pikiran. 'Kita lihat berapa hari kamu bisa bertahan di dunia luar tanpa nama Syuratmadja di belakangmu.' Kalimat itu memicu amarah yang tadinya sempat meredup kini berkobar kembali menjadi komitmen mutlak. Aku menarik napas panjang. Menatap baskom mi instan yang sudah dingin, lalu menatap laptop yang menampilkan lowongan magang Brama Group. “Kalau gue ketahuan gimana, Neng? Risiko bisnisnya terlalu gede,” tanyaku, suaranya mengecil, tanda kalau pertahananku mulai runtuh. “Gak bakal ketahuan kalau lo totalitas dari ujung rambut sampai ujung kaki,” sahut Oneng meyakinkan. Dia melangkah menuju kasur lipatnya, lalu berlutut di lantai. Dia meraba-raba area kolong tempat tidur yang gelap dan berdebu. Aku memperhatikannya dengan kening berkerut. “Lo lagi nyari apa sih di bawah kasur? Jangan bilang ada bangkai tikus.” “Bukan tikus, tenang aja,” jawab Oneng dari bawah kasur. Dia menarik sebuah kotak kardus sepatu yang sudah berdebu tebal. Dia meniup debu di atas kotak itu hingga membuat kami berdua terbatuk-batuk selama beberapa saat. Dengan senyum penuh kemenangan yang tampak sangat licik di bawah temaram lampu kosan, Oneng membuka tutup kotak tersebut. Di dalamnya, terdapat sebuah gumpalan rambut palsu berwarna hitam kusam yang bentuknya sangat menyedihkan, berdampingan dengan sepasang kacamata dengan bingkai plastik bulat yang lensanya sangat tebal. Oneng mengeluarkan benda-benda itu dari dalam kotak, lalu mengarahkannya tepat ke depan wajahku. “Gue punya wig lepek sama kacamata bulat tebal sisa teatrikal kampus,” ucap Oneng dengan nada bicara yang berubah jadi misterius. Dia menatapku lurus dari balik lensa tebal itu, memamerkan seringai lebarnya. “Lo siap jadi Sri?” Aku menatap dua benda sialan itu dengan pandangan horor. “Neng, itu wig kayaknya udah dihuni kutu dari zaman kerajaan Majapahit. Lo serius menyuruh gue pakai itu?” “Demi kemerdekaan lo dari Prawiro Syuratmadja, Bi! Kutu dikit gak bakal bikin otak lo yang 3,9 itu mengkerut,” sahut Oneng tanpa rasa bersalah. Dia menyodorkan kacamata itu lebih dekat ke hidungku. “Coba lo pakai dulu. Gue mau lihat kadar kekuperan lo.” Dengan ragu, aku mengambil kacamata bulat itu lalu mengenakannya. Pandanganku langsung kabur dan pusing karena lensanya yang terlalu tebal. “Gue gak bisa lihat apa-apa, Neng. Semuanya ngeblur.” “Nanti lensanya kita ganti pakai kaca biasa di optik pasar malam, gampang,” kata Oneng santai. Dia meraih wig lepek itu lalu memasangkannya ke kepalaku tanpa permisi. Dia merapikan beberapa helai rambut palsu yang mencuat acak-acakan. “Nah! Sekarang coba lo ngomong pakai bahasa Jawa atau aksen daerah. Apa aja.” Aku berdeham, mencoba memanggil kembali memori masa kecilku saat sering mendengarkan mbak pengasuhku di rumah berbicara. “Nuwun sewu, Pak Magnus ... niki draf revisi kulo,” ucapku dengan nada yang dipaksa medok. Oneng langsung menjerit tertahan sambil memukul pahaku heboh. “Gila! Cocok banget! Suara lo berubah drastis, Bi! Sumpah, kalau bokap lo lewat di depan lo sekarang, dia bakal ngira lo itu mbak-mbak jamu yang nyasar ke rumahnya.” Aku berjalan menuju cermin kecil yang tergantung di dekat kamar mandi. Begitu melihat pantulan diriku, aku hampir tidak mengenali wanita di dalam cermin. Rambut hitam lepek sebatas bahu, kacamata bulat besar yang menutupi separuh wajah, ditambah kaus oblong longgar milik Oneng. Citra Bianda Hana Syuratmadja yang glamor dan anggun runtuh seketika, digantikan oleh Sri Sutriani, gadis polos dari Gunungkidul yang siap mengadu nasib di kerasnya ibu kota. “Gue kelihatan menyedihkan banget, Neng,” bisikku, meraba bingkai kacamata tebal itu. “Menyedihkan itu bagian dari penyamaran, Bi,” sahut Oneng sambil menepuk pundakku bangga. “Sekarang, duduk lagi di laptop. Kita submit lamaran lo ke Brama Group sebelum lowongannya ditutup tengah malam ini. Selamat datang di dunia nyata, Sri.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD