POV Bianda
“Neng, ini beneran gak kelihatan kayak babon rambut palsu?”
Aku meraba wig hitam lepek yang terpasang agak miring di kepalaku, menatap nanar pantulan diriku yang menyedihkan di cermin wastafel kosan Oneng. Di dalam cermin, tidak ada lagi Bianda Hana Syuratmadja yang rambutnya selalu berkilau sehabis perawatan jutaan rupiah di salon premium Senopati. Tidak ada lagi gadis yang setiap jengkal pakaiannya bermerek internasional dengan potongan pas di badan. Selamat tinggal Bianda yang modis, dan selamat datang Sri yang tragis.
Oneng yang sedang duduk di atas lantai sambil menggunting label harga kemeja batik kedodoran langsung mendongak. “Babon dari mana? Malah kelihatan natural banget tahu. Tipe-tipe rambut yang jarang kena sampo karena sibuk mikirin cicilan paylater. Udah, lo jangan banyak protes. Sekarang pakai kemeja kurung ini.”
Dia melemparkan sepotong baju kurung bermotif bunga-bunga pudar yang ukurannya tiga kali lipat lebih besar dari ukuran tubuhku. Pakaian itu milik mendiang bibinya Oneng yang tertinggal di gudang. Ketika kupakai, bahu kemeja itu melorot jatuh ke lengan, membuat siluet tubuhku yang biasanya tegak dan ramping langsung berubah menjadi bungkuk dan tak berbentuk.
“Gila, ini baju atau tenda hajatan?” keluhku sambil berkacak pinggang di depan cermin. “Gue berasa tenggelam di dalam tumpukan gorden rumah sakit, Neng.”
“Justru itu poin utamanya, Sri Sutriani!” Oneng bangkit berdiri, berjalan mendekat untuk membetulkan kerah bajuku yang melintir. “Kalau baju lo pas di badan, lekuk tubuh lo yang rajin pilates itu bakal kelihatan. Orang HRD Brama Group itu jeli. Begitu mereka lihat staf lapangan yang badannya kayak model catwalk, mereka pasti langsung curiga. Lo harus kelihatan ... ya, agak buntal dan gak terawat.”
“Tapi kacamata ini bikin pusing, Neng,” keluhku lagi sambil mendorong bingkai plastik murah itu naik ke pangkal hidung. “Mata gue sehat walafiat, dikasih lensa tebal begini malah bikin pandangan ngeblur.”
“Itu kacamata bebas minus, Bi. Cuma kacanya aja yang tebal biar muka lo kelihatan bloon. Udah, tahan dikit.” Oneng menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu mengangguk puas. “Fisik udah seratus persen dapet. Sekarang tinggal masalah krusial kedua.”
“Suara gue?” tanyaku ragu.
“Tepat,” sahut Oneng, menuntunku untuk duduk kembali di atas kasur lipatnya. Di depan kami, sebuah cangkir plastik berisi kopi saset hangat sudah menunggu. “Orang dari daerah itu punya intonasi yang khas. Lebih lambat, lebih lembut, dan ada penekanan di akhir kalimat yang khas. Coba lo tiru kata-kata gue. Iya, Pak. Saya mau mengumpulkan berkas.”
Aku berdeham, mencoba membersihkan tenggorokanku dari sisa-sisa logat anak muda Jakarta yang sudah melekat selama dua puluh dua tahun. “Iya, Pak ... Saya mau ... mau ... ih, aneh banget kedengarannya di kuping gue! Kayak dipaksain banget.”
“Jangan pakai nada sinis lo yang biasa, Bi!” potong Oneng, menepuk lututku gemas. “Suara lo tadi masih kedengaran kayak anak Jaksel yang lagi ngeledek orang. Kurangi pride lo. Coba posisikan diri lo sebagai orang yang bener-bener butuh pekerjaan buat menyambung hidup. Suaranya agak bergetar dikit, pandangan mata agak diturunkan ke bawah, jangan nantang kayak kemarin ke bokap lo.”
“Gue gak nantang bokap, gue cuma membela diri,” gumamku pelan.
“Sama aja. Di depan Magnus atau HRD Brama Group nanti, lo itu keset kaki. Lo butuh duit. Lo gak punya kuasa. Paham?” Oneng menatapku tajam. “Ayo coba lagi. Anggap gue ini manajer operasional yang lagi galak.”
Aku memejamkan mata sejenak. Aku membayangkan jika posisiku benar-benar di bawah. Membayangkan bagaimana rasanya menjadi Sri yang asli, gadis yang terdesak ekonomi, yang harus merantau ke kota demi membantu keluarganya di desa. Rasa tertekan itu mulai merayap masuk ke d**a, menggantikan rasa angkuh yang biasa kupelihara.
“Iya, Pak. Berkasnya sudah siap,” ucapku lagi. Kali ini suaraku lebih pelan, ada nada medok yang tipis namun terdengar jauh lebih alami. Intonasinya meliuk di bagian akhir, persis seperti gaya bicara orang yang terbiasa mengalah.
Oneng terdiam selama tiga detik. Matanya melebar, lalu dia menepuk bahuku heboh. “Nah! Itu dia! Sumpah, Bi, itu dapet banget! Lo kalau ngomong kayak gitu sambil nunduk, si Magnus gak bakal sadar kalau lo itu mahasiswi bimbingannya yang kemarin sore hampir nangis di mejanya.”
“Gue gak hampir nangis ya, Neng. Gue cuma kesal karena draf gue dicoret-coret sesuka hati dia,” bantahku cepat, tetap berusaha mempertahankan sisa-sisa gengsiku.
“Halah, terserah lo deh,” sahut Oneng sambil memutar bola matanya jemu. “Yang penting sekarang lo latih terus itu logat sampai besok pagi. Pokoknya kalau lo refleks ngomong 'literally', 'which is', atau 'prefer', penyamaran lo langsung tamat saat itu juga. Paham?”
“Paham, Mbak Oneng,” jawabku menggunakan aksen baruku, yang langsung dihadiahi tawa renyah dari sahabatku itu.
“Nah, gitu dong. Sekarang kita mulai simulasi wawancara,” kata Oneng, memposisikan dirinya tegak di atasku seolah dia adalah pewawancara paling kejam di industri kosmetik. “Sri Sutriani, kenapa kamu tertarik melamar sebagai staf lapangan di Brama Group?”
Gue menundukkan kepala, meremas ujung kemeja batikku yang kedodoran. “Saya ... saya cari lowongan, Mbak. Eh, maksudnya cari kerja, buat bantu Ibu di kampung.”
“Bagus! Tapi jangan gugup sampai gagap begitu, nanti dikira lo gak bisa kerja,” koreksi Oneng. “Coba buat kalimatnya lebih mengalir, tapi tetep sopan dan kelihatan ulet. Tanya lagi ya. Apa kelebihan kamu dibanding pelamar lain?”
“Saya orangnya rajin, Mbak. Ndak takut panas, ndak takut kerja susah. Kalau disuruh ke pasar, saya pasti berangkat,” jawabku, ingatan masa kecil saat mendengar pembantuku berbicara bahasa Jawa mulai keluar dengan lancar.
“Wah, gila. Lo beneran bakat jadi penipu, Bi,” puji Oneng, menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. “Gestur tangan lo juga dapet banget. Nunduknya, remas bajunya. Sip. Ini kalau Magnus lihat, dia bakal ngira lo kembarannya Sri yang ilang di hutan.”
“Jangan sebut nama dosen gila itu dulu deh, Neng. Bikin mood gue drop aja,” gerutuku sambil meminum kopi saset yang sudah mendingin.
“Lho, kan lo bakal ketemu dia atau orang-orangnya di Brama Group nanti. Lo harus terbiasa dengan tekanan mental,” sahut Oneng santai. Dia melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. “Oke, fisik lolos, suara lolos, gestur tubuh lolos. Sekarang, langkah terakhir yang paling menentukan. Pengiriman berkas.”
Aku merangkak mendekat ke arah laptop yang sejak tadi menyala di sudut kasur lipat. Di layar, situs resmi rekrutmen magang Brama Group sudah terbuka pada halaman pengisian data diri. Dokumen Curriculum Vitae atas nama Sri Sutriani sudah terlampir rapi. Semua riwayat hidup Bianda Hana Syuratmadja telah dihapus bersih tanpa sisa, digantikan oleh latar belakang pendidikan sekolah menengah kejuruan administrasi di daerah terpencil Yogyakarta.
“Tinggal klik tombol submit ini, Bi,” bisik Oneng, menatapku dengan pandangan yang bercampur antara cemas dan bersemangat. “Begitu lo klik ini, gak ada jalan pulang lagi. Lo beneran bakal masuk ke kandang macan pakai kulit domba.”
“Gue tahu risikonya, Neng,” jawabku, jemariku melayang di atas touchpad laptop. Jantungku berdegup kencang, memompa adrenalin ke seluruh ujung jari. “Tapi gue lebih gak tahan kalau harus terus-terusan dibilang remahan rempeyek sama bokap gue sendiri.”
“Tapi kalau bokap lo tahu lo nyamar jadi staf lapangan di perusahaan rival, lo bisa dicoret dari kartu keluarga, Bi,” Oneng mengingatkan, nadanya kini terdengar cemas.
“Biarin aja. Toh selama ini gue di rumah juga cuma dianggap kayak pajangan saham,” balasku getir. “Gue mau buktiin kalau tanpa nama Syuratmadja pun, gue bisa survive.”
“Dan si Magnus?” tanya Oneng lagi. “Lo siap kalau ketemu dia dalam kondisi kayak gini?”
“Gue bakal bikin dia malu sendiri karena udah ngeremehin kemampuan lapangan gue,” jawabku mantap. Aku menekan tombol touchpad, mengirimkan berkas lamaran digital Sri Sutriani langsung ke server Brama Group. Layar laptop kemudian berputar beberapa detik sebelum menampilkan notifikasi berwarna hijau.
“Udah kekirim, Bi,” kata Oneng pelan, mengembuskan napas panjang seolah-olah beban berat baru saja diangkat dari pundaknya sendiri. “Sekarang tinggal tunggu nasib. Kalau keberuntungan lagi di pihak lo, besok atau lusa lo bakal dapet panggilan wawancara.”
Aku tidak menyahut. Aku bangkit berdiri dari kasur lipat, kembali melangkah mendekati cermin wastafel yang buram. Kuperhatikan sekali lagi sosok asing berambut lepek dan berkacamata bulat besar di dalam sana. Gadis di dalam cermin itu tampak begitu polos, rapuh, dan tidak memiliki daya apa-apa untuk bertarung di kerasnya ibu kota. Aku menyentuh permukaan kaca dingin itu dengan ujung jariku, menatap tepat pada manik mata di balik lensa tebal bebas minus tersebut.
“Mulai hari ini, Bianda mati,” gumamku pelan pada pantulan diriku sendiri, suaranya terdengar dingin namun penuh dengan ketegasan yang mutlak. “Yang ada cuma Sri, gadis polos yang butuh kerjaan.”