BAB 5

1246 Words
“Tekanan darah stabil, Dok.” Arnav mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari layar monitor. Malam panjang hampir selesai, sementara jam digital di dinding menunjukkan pukul empat lewat tiga puluh menit fajar. Kesibukan di lantai IGD mulai berkurang, digantikan suara hening yang hanya sesekali diisi oleh deru troli obat yang melintas di koridor luar. Pasien perempuan dari bilik tiga kini sudah berhasil melewati masa kritisnya untuk sementara waktu. Setelah mengalami henti jantung, trauma kepala berat, dan kehilangan banyak darah, fakta bahwa ia masih bernapas terasa seperti keajaiban kecil. Arnav berdiri kaku di samping tempat tidur pasien dengan sepasang mata yang terlihat sangat lelah. Rahangnya sedikit menegang akibat efek lelah fisik yang luar biasa. Waktu tiga puluh enam jam tanpa tidur mulai meninggalkan jejak kelelahan yang sulit disembunyikan dari wajah tegapnya. “Dokter bisa istirahat sebentar ke ruang jaga,” ujar perawat perawat malam dengan nada sungkan. “Nanti,” tolak Arnav pendek. “Kondisi pasien sudah stabil, Dok.” “Nanti saja,” ulang Arnav, membuat perawat itu tidak berani membantah lagi karena tahu persis watak keras kepalanya sang residen senior. Arnav menatap layar monitor beberapa detik lagi sebelum membuka lembar observasi medis terbaru. Sejak awal malam tadi, fokus utamanya hanya satu, yaitu menyelamatkan nyawa pasien kritis yang masuk ke dalam ruang triase. Ia sama sekali tidak tertarik untuk mencari tahu nama atau latar belakang keluarga dari korban kecelakaan beruntun tersebut. Ia menutup map rekam medis dengan sentakan pelan, lalu menyandarkan tubuh tingginya ke kursi di samping ranjang pasien. Untuk pertama kalinya malam itu, ia benar-benar bisa menikmati keheningan tanpa ada instruksi darurat atau teriakan panik dari luar. Matanya tanpa sadar beralih, menatap lurus ke arah wajah perempuan yang terbaring lemah di atas kasur medis. Sebagian besar noda darah kering yang mengotori wajah pasien kini sudah dibersihkan oleh tim perawat. Perban putih tampak menutupi sebagian besar area pelipis dan dahi, menyisakan beberapa luka lecet kecil di sekitar pipi serta leher. Meskipun dipenuhi luka, struktur asli dari wajah perempuan muda itu kini mulai tampak jelas sedikit demi sedikit. Arnav mengernyitkan dahi karena mendadak merasakan ada gurat familiar yang sangat tidak asing dari wajah tersebut. Ia menatap lebih lama, lalu menggelengkan kepala untuk mengusir asumsi konyol yang mendadak muncul di kepalanya. Efek kurang tidur pasti menjadi penyebab utama mengapa otaknya mulai memainkan trik aneh yang tidak logis malam ini. Arnav menarik napas panjang, mencoba mengalihkan pandangan kembali ke arah grafik monitor. Sialnya, bayangan wajah perempuan itu tetap menolak pergi dan terus mengusik ketenangan batinnya dengan rasa tidak nyaman. Ponsel di dalam saku jasnya mendadak bergetar, menampilkan satu pesan singkat berisi instruksi istirahat dari Dokter Hendra. Arnav mendengus pelan, lalu langsung mematikan layar ponselnya tanpa berniat membalas pesan tersebut. Di luar jendela kamar observasi, warna langit malam mulai berubah perlahan dari hitam pekat menjadi abu-abu keperakan. Fajar sebentar lagi akan datang menjemput pagi. Arnav memejamkan matanya yang terasa panas selama beberapa detik untuk merilekskan pikiran. Sialnya, sebuah kenangan lama justru muncul begitu saja menembus kegelapan memorinya tanpa bisa dicegah. Bayangan seorang gadis remaja mengenakan seragam putih abu-abu dengan rambut panjang yang diikat sederhana langsung hadir di kepalanya. Gadis itu memiliki sepasang mata bulat yang sulit dilupakan, serta senyuman manis yang dulu selalu ampuh memperbaiki hari-hari buruknya. Elora. Nama itu muncul begitu saja di benaknya, merusak seluruh benteng pertahanan yang selama sepuluh tahun ini ia bangun untuk move on. Arnav membuka mata dengan sentakan pelan, merasakan detak jantungnya bergerak sedikit lebih cepat dari biasanya. Ia kembali menatap pasien di hadapannya dengan rasa tidak percaya yang amat besar. Hal seperti ini sangat mustahil terjadi karena waktu sepuluh tahun terlalu lama dan Jakarta terlalu luas untuk mempertemukan mereka kembali. Arnav mengusap wajahnya dengan kasar untuk menghilangkan sisa halusinasi akibat kelelahan fisik. “b**o,” umpat Arnav sambil tertawa hambar merutuki isi kepalanya yang mendadak melow. Pintu ruang observasi terbuka, memperlihatkan seorang perawat masuk membawa lembar hasil laboratorium terbaru. Arnav langsung berdiri dari posisi duduknya untuk menerima berkas tersebut dan memeriksanya dengan gerakan cepat. Tidak ada hasil yang mengejutkan karena semua indikator klinis pasien masih sesuai dengan prediksi medisnya. Perawat itu melirik ke arah bed pasien selama beberapa saat sebelum kembali menatap Arnav. “Pasien ini kalau dilihat-lihat lumayan cantik ya, Dok.” Arnav mengangkat sebelah alisnya dengan tatapan dingin, membuat perawat muda itu langsung salah tingkah ketakutan. “Maaf, Dok, saya permisi dulu,” pamit perawat itu buru-buru melangkah keluar ruangan. Ruangan kembali sunyi, meninggalkan Arnav yang matanya kini kembali tertarik untuk menatap wajah pasien. Sinar keemasan dari matahari terbit perlahan mulai masuk menembus celah tirai jendela, menyinari wajah perempuan itu. Untuk pertama kalinya di fajar ini, seluruh fitur wajah sang pasien terlihat dengan sangat jelas tanpa ada yang menutupinya. Arnav membeku seketika dengan napas yang tertahan di tenggorokan. Dunia di sekelilingnya mendadak sunyi, melenyapkan bunyi monitor dan suara pendingin ruangan dalam sekejap mata. Wajah yang selama sepuluh tahun terakhir terus menghantui mimpi buruknya kini berada tepat di depan kedua matanya. Lengkungan alis, bentuk bibir, hingga t**i lalat kecil di dekat dagu pasien, semuanya sama persis dengan sosok Elora. Arnav berdiri dari kursi dengan langkah kaki yang gemetar mendekati sisi ranjang karena jantungnya berdetak sangat keras hingga terasa menyakitkan. “Elora ...?” bisik Arnav dengan suara serak yang hampir tidak terdengar. Perempuan di atas ranjang tetap diam dalam ketidaksadarannya, tidak memberikan respons apa pun terhadap panggilan tersebut. Arnav menelan ludah, merasakan tenggorokannya mendadak kering saat menyadari kenyataan pahit di hadapannya. Tiba-tiba semua kenangan s*****l dan manis di masa sekolah dulu datang bersamaan menghantam isi kepalanya tanpa permisi. Ia teringat suasana ruang kelas, taman kota, hingga alunan melodi biola Elora di sore hari yang dulu selalu menenangkannya. Semuanya masih tersimpan rapi di dalam ingatan, membuktikan bahwa tidak ada satu pun detail yang hilang setelah sepuluh tahun berpisah. Arnav menutup mata dengan d**a kiri yang terasa sesak akibat hantaman kenyataan yang terlalu tiba-tiba ini. Perempuan yang selama ini ia cari ternyata adalah pasien yang beberapa jam lalu ia tekan dadanya saat tindakan RJP darurat. Bagaimana kalau tadi ia terlambat beberapa menit saja atau gagal mengembalikan detak jantung Elora? Untuk pertama kalinya, dr. Arnav merasakan ketakutan primitif yang amat besar akan kehilangan seseorang untuk kedua kalinya. Arnav kembali duduk di kursi samping ranjang, menatap lekat pergelangan tangan Elora yang kini dipenuhi memar dan luka kecil. Langit di luar jendela semakin terang benderang, menandakan rumah sakit mulai memasuki pergantian shift dinas pagi. Kesibukan baru perlahan dimulai di luar sana, namun dunia Arnav seolah berhenti total di dalam ruangan observasi ini. Pintu ruangan kembali terbuka dengan sentakan pelan, memperlihatkan Dokter Hendra yang masuk membawa map pasien baru. “Kamu belum pulang juga, Arnav?” Arnav tidak menjawab pertanyaan konsulennya. Dokter Hendra mengerutkan dahi heran melihat keanehan sikap muridnya tersebut. “Arnav?” Tetap tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Arnav karena pandangannya masih terkunci mutlak pada wajah Elora. Dokter Hendra melangkah mendekat, ikut memperhatikan ke arah pasien wanita muda yang tampak mematung di atas bed. “Ada apa dengan pasien ini?” Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang tegang sebelum Arnav akhirnya membuka suara dengan intonasi yang sangat pelan dan serak. “Aku kenal dia, Dok,” ujar Arnav tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun. “Dia Elora.” Nama itu menggantung di udara, tidak berarti apa-apa bagi Dokter Hendra namun sukses menghancurkan seluruh pertahanan robotik milik Arnav. Perempuan yang terbaring koma di atas ranjang itu adalah satu-satunya sosok yang tidak pernah berhasil ia lupakan dari masa lalu. Setelah sepuluh tahun menghilang tanpa jejak, kini takdir membawanya kembali dalam kondisi kritis di antara hidup dan mati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD