BAB 4

1243 Words
“Time of death, pukul 02.17.” Suara Dokter Hendra terdengar jelas di tengah kesibukan ruang trauma yang pekat. Beberapa detik lalu semua orang masih berusaha keras menyelamatkan pasien itu, namun kini tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Seorang perawat segera mencatat waktu kematian, sementara perawat lain mulai merapikan alat-alat yang berserakan di sekitar brankar. Arnav berdiri diam di samping tempat tidur dengan sepasang sarung tangan yang masih bernoda darah. Pandangan matanya tertuju lurus pada tubuh pria paruh baya yang kini terbaring tanpa gerakan sedikit pun. Monitor di samping ranjang sudah dimatikan total, membuat ruangan yang tadi dipenuhi instruksi darurat mendadak terasa lebih sunyi. Dokter Hendra melepaskan stetoskop dari lehernya, lalu menatap lembar observasi dengan gurat wajah lelah. “Pastikan semua dokumentasi lengkap,” ujar Dokter Hendra. “Baik, Dok,” sahut perawat cepat. Arnav masih belum bergerak dari posisinya semula. Ia sudah terlalu sering melihat kematian selama menjalani masa residensi, bahkan sudah terbiasa menghadapi kehilangan. Tetap saja, setiap kali kehilangan pasien, selalu ada rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan merayap di dadanya. Apalagi pasien malam ini datang bersama seluruh anggota keluarganya dalam satu mobil yang mengalami kecelakaan beruntun. Kini sang ayah meninggal dunia, istrinya koma di ruang ICU, sedangkan putrinya masih belum benar-benar aman dari masa kritis. Tidak ada satu pun dokter yang menyukai akhir tragis seperti itu. “Arnav,” panggil Dokter Hendra memutus keheningan batin asistennya. Ia menoleh pelan. “Kamu istirahat dulu ke ruang dokter.” “Aku masih kuat untuk berjaga, Dok.” “Kamu sudah siaga sejak kemarin sore, Arnav.” “Aku baik-baik saja,” jawab Arnav dengan nada tenang namun penuh penekanan tegas. Dokter Hendra mengangkat sebelah alisnya, mengamati keras kepalanya sang residen senior. “Kamu selalu saja bilang begitu setiap kali dipaksa istirahat.” Arnav tidak membantah ucapan konsulennya karena hal itu memang benar adanya. Ia selalu mengatakan dirinya baik-baik saja kepada semua orang, meski kenyataan di dalam kepalanya belum tentu sejalan. “Bagaimana kondisi pasien perempuan yang dikirim ke ICU tadi, Dok?” tanyanya mengalihkan pembicaraan. Dokter Hendra menghela napas, tahu betul siapa yang sedang dimaksud oleh Arnav. “Ibu pasien masih belum sadar sampai sekarang.” “Tekanan darahnya?” “Masih stabil dengan bantuan obat-obatan dari tim ICU” “Hasil CT scan kepalanya bagaimana?” “Ada pembengkakan otak yang cukup berat.” Arnav mengangguk pelan menerima laporan klinis tersebut. Jawaban itu sudah lebih dari cukup bagi nalar medisnya untuk memahami kemungkinan buruk yang sedang mereka hadapi. Sebagai manusia biasa, ia hanya bisa berharap prediksinya kali ini keliru. Koridor IGD kembali ramai oleh hiruk-pikuk kepanikan baru yang memecah kesunyian fajar. Brankar baru tampak didorong masuk dari pintu utama, beriringan dengan suara tangis yang terdengar dari ruang tunggu keluarga. Malam terus berjalan seperti biasa karena rumah sakit memang tidak pernah benar-benar tidur. Arnav melangkah keluar dari ruang trauma, memilih berjalan menyusuri koridor menuju ruang ICU lantai atas. Langkah kakinya terdengar tenang dan wajahnya tetap datar seperti air es tanpa ekspresi. Siapa pun yang melihatnya pasti mengira tidak ada satu pun beban yang sedang mengganggu pikiran dokter muda itu. Padahal, sejak tadi ada kegelisahan asing yang membuatnya sangat sulit untuk fokus bekerja. Perasaan aneh itu mendadak muncul saat ia melakukan tindakan RJP pada pasien perempuan muda di bilik tiga beberapa saat lalu. Ia tidak tahu apa penyebab pastinya, dan ia juga tidak mengerti kenapa perasaan mengganggu itu belum hilang dari dadanya. Beberapa menit kemudian ia tiba di depan pintu kaca ruang ICU, membuat seorang perawat jaga langsung menyambutnya. “Selamat malam, Dokter Arnav.” “Malam, bagaimana perkembangan pasien trauma kecelakaan tol?” “Kondisi tanda vital pasien untuk sementara masih terpantau stabil, Dok.” Arnav mengangguk datar, lalu melihat ke dalam ruangan melalui dinding kaca transparan yang membatasi mereka. Perempuan paruh baya itu terbaring diam dengan bantuan ventilator yang menyokong pernapasannya secara mekanis. Monitor jantung di atas bed masih menunjukkan ritme yang teratur, tetapi tetap tidak ada tanda-tanda kesadaran dari pasien. Kondisi menggantung tanpa respons seperti ini sering kali terasa jauh lebih berat bagi pihak keluarga yang menunggu. Mereka dipaksa berada di situasi dilematis, antara harus terus berharap atau bersiap untuk kehilangan selamanya. Arnav melangkah masuk ke dalam ruangan steril untuk melakukan pemeriksaan fisik singkat secara mandiri. Ia memeriksa refleks pupil, respons motorik, serta catatan observasi harian yang ditulis perawat. Semuanya hampir sama seperti hasil pemeriksaan satu jam sebelumnya, tidak memburuk namun tidak juga membaik. Ia menutup rekam medis dengan gerakan pelan, lalu menatap wajah pucat pasien selama beberapa saat. Tanpa sengaja, sekelebat kenangan tentang sang ibu mendadak melintas begitu saja di dalam kepala Arnav. Bau rumah sakit yang khas, pendar lampu neon putih, dan bunyi monitor yang konstan, semuanya terasa terlalu akrab di ingatannya. Arnav segera mengalihkan pandangannya ke arah lain, mencoba mengusir sesak yang tiba-tiba menyerang d**a. Sudah lama sekali ia tidak memikirkan masa lalu keluarganya yang hancur berantakan akibat fitnah b******n di masa lalu. Beberapa kenangan pahit memang tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan manusia. Mereka hanya diam bersembunyi di suatu tempat, lalu mendadak muncul kembali ke permukaan saat pertahanan diri sedang lengah. Ia melangkah keluar dari ruang ICU, berjalan kembali menuju ruang dokter di lantai dasar. Jam dinding menunjukkan pukul tiga lewat sepuluh menit fajar, menandakan malam siaga darurat ini masih panjang. Saat itulah, seorang perawat muda berjalan tergesa-gesa menghampiri langkahnya. “Dokter Arnav,” panggil perawat itu dengan napas sedikit memburu. “Ya? Ada masalah baru?” “Pasien perempuan muda dari bilik tiga yang tadi dokter tangani sudah dipindahkan ke ruang observasi intensif.” Langkah kaki Arnav terhenti seketika mendengar laporan tersebut. Kejadian itu hanya berlangsung selama sepersekian detik, namun cukup untuk membuat perawat di depannya menatap bingung. “Bagaimana kondisinya sekarang?” tanya Arnav dengan intonasi suara yang diatur sedatar mungkin. “Untuk sementara sirkulasinya terpantau stabil, Dok.” Arnav mengangguk formal menerima informasi tersebut. Seharusnya hal itu menjadi kabar baik karena tugas penyelamatan nyawa pasien telah selesai dilakukan dengan aman. Anehnya, d**a Arnav justru terasa semakin tidak nyaman dan sesak tanpa alasan yang logis. “Apakah sudah ada pihak keluarganya yang datang menunggu?” tanya Arnav lagi. Perawat itu menggelengkan kepala. “Belum ada satu pun perwakilan keluarga yang datang, Dok.” Jawaban itu entah bagaimana membuat Arnav merasa semakin gelisah dan tidak tenang. Ia sendiri tidak mengerti mengapa dirinya harus peduli pada detail personal pasien yang tidak ia kenal. Arnav melangkah masuk ke dalam ruang dokter, mengabaikan sisa kebingungan perawat yang masih berdiri di koridor. Ia menjatuhkan tubuh tingginya ke atas sofa pojok, menyandarkan punggungnya yang kaku akibat kelelahan fisik. Baru kali ini ia benar-benar merasakan tenaganya terkuras habis setelah berjaga hampir tiga puluh enam jam tanpa tidur. Ia memejamkan matanya yang terasa panas dan lelah. Sialnya, sebuah kenangan lama yang s*****l justru muncul begitu saja menembus kegelapan pikirannya. Bayangan seorang gadis remaja mengenakan seragam putih abu-abu tampak sedang duduk manis di bawah pohon flamboyan. Gadis itu melemparkan tawa hangat ke arahnya, sebuah senyuman yang dulu selalu sukses memicu gairah mudanya. Arnav langsung membuka mata dengan sentakan pelan, memaksa kenangan lama itu menghilang dari kepalanya. “Halah,” umpat Arnav lirih sambil tertawa hambar merutuki perasaannya sendiri yang mendadak melow. Ia mengusap wajahnya dengan kasar untuk mengembalikan fokus pikirannya yang mulai kacau. Sudah sepuluh tahun berlalu sejak ia memilih pergi meninggalkan masa lalunya yang hancur berkeping-keping. Waktu sepuluh tahun seharusnya sudah lebih dari cukup bagi orang normal untuk melupakan seseorang dan move on. Nyatanya, hidup Arnav tidak pernah berjalan normal, dan beberapa kenangan memang memilih tinggal lebih lama di dalam batinnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD