“Nadi karotis tidak teraba, Dok!”
Teriakan perawat dari bilik tiga membuat Arnav langsung menoleh. Ia baru saja melangkah keluar dari bilik satu setelah memastikan kondisi kepala keluarga Wijaya untuk sementara di bawah pengawasan Tim Bedah Trauma. Belum sempat menarik napas, suara panik itu kembali terdengar.
“Asistol!”
Arnav tidak menunggu penjelasan. Ia berbalik dan melangkah cepat menyusuri koridor IGD. Pintu bilik tiga terbuka keras saat didorong, lalu suasana di dalam ruangan langsung menyergapnya. Bunyi monitor yang memanjang memenuhi udara, menampilkan satu garis lurus yang terpampang di layar.
Tidak ada aktivitas jantung. Tidak ada denyut. Tidak ada waktu.
“Defibrilator. Dua ratus joule,” perintah Arnav cepat.
Perawat bergerak tergesa. “Siap, Dok.”
Arnav sudah berada di sisi ranjang sebelum alat itu selesai dipersiapkan. Di atas brankar, seorang wanita muda terbaring diam dengan wajah yang tertutup darah. Aliran merah itu membasahi pelipis hingga ke rahang, membuat fitur wajahnya nyaris tidak terlihat. Arnav tidak mengenalinya, bahkan tidak berusaha mengenalinya karena saat ini pasien itu hanyalah satu nyawa yang sedang berusaha lolos dari tangannya.
“Semua menjauh.”
Pedal defibrilator menempel ketat di d**a pasien.
“Shock.”
Tubuh wanita itu terangkat sesaat, namun layar monitor tetap datar dan tidak menampilkan perubahan.
“Isi lagi.”
Shock kedua diberikan, tetapi hasilnya tetap sama. Ruangan menjadi semakin sunyi, sebuah kesunyian yang menyesakkan dan hanya diisi bunyi alat medis serta napas orang-orang yang mulai cemas. Arnav membuang napas kasar.
“Mulai RJP,” perintahnya tegas sambil segera mengunci kedua tangannya di tengah d**a pasien.
Satu. Dua. Tiga. Empat.
Kompresi dilakukan dengan ritme yang stabil. Bahunya bergerak naik turun, sementara otot lengannya mulai menegang kencang. Keringat muncul di pelipis meskipun pendingin ruangan bekerja maksimal.
“Ambu bag,” seru Arnav.
“Sudah, Dok.”
Perawat di bagian kepala pasien terus memberikan ventilasi. Arnav tidak berhenti, ia terus menghitung di dalam hati untuk memaksa jantung yang diam itu agar bekerja kembali.
Lima belas. Enam belas. Tujuh belas. Dua puluh.
Dadanya tiba-tiba terasa sesak dan aneh. Ia sudah berkali-kali menghadapi pasien henti jantung, mulai dari bayi, remaja, lansia, korban kecelakaan, hingga korban kriminalitas. Tidak pernah ada satu pun pasien yang membuatnya bereaksi sepsikis ini.
“Dokter, tekanan darah belum terbaca.”
“Teruskan.”
“Nadi masih nihil.”
“Teruskan.”
Nada suara Arnav terdengar lebih keras dari biasanya, membuat perawat itu langsung terdiam seketika. Arnav sendiri tidak menyadarinya karena pikirannya mulai terganggu oleh sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Perasaan asing itu membuat tengkuknya meremang saat ia kembali menekan d**a pasien.
Satu. Dua. Tiga. Empat.
Tangannya mulai pegal, tetapi bukan itu yang mengganggunya. Ada kegelisahan yang perlahan merayap naik dari dasar dadanya, seolah ia sedang kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Arnav menggeleng tipis untuk mengusir pikiran itu.
Ia seorang dokter yang tidak percaya firasat, melainkan percaya data, monitor, dan ilmu kedokteran. Perasaan aneh yang muncul tiba-tiba di tengah resusitasi ini sungguh tidak logis.
“Dok, mau cek ritme?”
“Cek.”
Semua pergerakan berhenti sesaat dan mata mereka tertuju ke layar monitor. Garis lurus itu masih sama, belum ada perubahan grafik sedikit pun. Perawat menelan ludah, sementara salah satu residen junior terlihat pucat. Arnav mengusap keringat yang mulai turun ke pelipisnya.
“Lanjut.”
Kompresi dimulai lagi karena tidak ada pilihan lain. Di luar ruangan, suara roda brankar berlalu lalang beradu dengan telepon IGD yang berbunyi dan suara keluarga pasien yang menangis samar. Malam terus berjalan, memperlihatkan kehidupan dan kematian yang terus bergantian datang.
Begitulah rumah sakit, sebuah dunia yang sudah dipilih Arnav sejak lama. Dunia yang membuatnya kehilangan banyak hal, termasuk dirinya sendiri. Ia bahkan sudah lupa kapan terakhir kali merasa benar-benar bahagia. Tiga tahun lalu? Lima tahun lalu? Atau sepuluh tahun lalu?
Arnav tidak tahu, bahkan dirinya sendiri tidak mau mengakui kekosongan itu. Seasisten menjadi dokter, hidupnya hanya berisi ruang operasi, bangsal, dan ruang jaga. Ia bekerja, belajar, dan tidur beberapa jam, lalu mengulang semuanya lagi hari demi hari.
Kadang ia merasa seperti mesin yang diprogram untuk menyelamatkan orang lain, hingga lupa bagaimana caranya hidup.
“Dok!” Suara perawat kembali menarik kesadarannya. “Masih belum ada respons.”
“Aku lihat.”
Arnav memeriksa pupil pasien yang masih minim respons, lalu menggertakkan giginya dengan ketat. Pasien ini masih muda, dan ia tidak pernah suka kehilangan pasien muda karena mereka selalu meninggalkan pertanyaan tragis yang tidak pernah punya jawaban.
Arnav kembali melakukan kompresi dengan napas yang mulai memburu dan lengan yang terasa semakin berat. Residen junior di sampingnya tampak gelisah melihat kondisi tersebut.
“Dok, saya ganti?”
“Tidak usah.”
“Tapi dokter sudah hampir sepuluh menit.”
“Aku bilang tidak usah,” gertak Arnav tegas.
Residen itu langsung bungkam. Semua orang di ruangan tahu bahwa Arnav jarang kehilangan kesabaran. Jika nadanya berubah sekeras ini, berarti ada sesuatu yang tidak beres, meskipun Arnav sendiri tidak tahu apa penyebabnya.
Dadanya semakin sesak, dan pandangannya sesekali jatuh pada wajah pasien yang tertutup darah. Ada sesuatu yang terasa familiar secara samar, seperti kenangan lama yang mencoba muncul ke permukaan.
Tiba-tiba sebuah potongan memori melintas di kepalanya. Seorang gadis remaja berdiri di bawah pohon flamboyan dengan rambut panjang, mata cerah, dan senyum hangat. Arnav langsung mengerjap keras, memaksa kenangan itu menghilang agar ia bisa kembali fokus pada pasien yang sedang sekarat.
“Ayo ...” Kata itu keluar begitu saja dari bibirnya tanpa ia sadari. “Ayo. Kembali.”
Perawat di sampingnya saling berpandangan karena mereka belum pernah melihat Arnav sekerat kepala dan seemosional ini saat mempertahankan satu pasien. Biasanya Arnav selalu tenang, dingin, dan terukur. Malam ini terasa sangat berbeda.
Pintu bilik tiba-tiba terbuka, memperlihatkan Dokter Hendra yang masuk dengan langkah cepat. “Bagaimana?”
“Asistol berkepanjangan.”
“Sudah berapa lama?”
“Hampir dua belas menit,” jawab perawat cepat.
Dokter Hendra mengangguk dengan wajah serius sambil melihat monitor, lalu beralih menatap Arnav. “Arnav.”
Tidak ada jawaban.
“Arnav.”
Arnav mengabaikannya dan terus melakukan kompresi d**a.
“Arnav,” panggil Dokter Hendra lagi, kali ini sambil memegang bahu sang residen.
Arnav akhirnya menoleh.
“Kalau tidak ada respons, kita harus mulai mempertimbangkan untuk menghentikan ...”
“Tidak,” potong Arnav cepat.
Dokter Hendra terdiam, sementara Arnav kembali menatap pasien di bawahnya. “Tidak sekarang.”
“Arnav.”
“Tidak.”
Dokter Hendra menghela napas panjang karena ia mengenal muridnya itu dengan sangat baik. Ia bisa melihat ada sesuatu yang sedang terjadi pada psikologis Arnav, meskipun ia tidak tahu apa masalahnya.
Ruangan kembali tenggelam dalam ketegangan yang magnetis, membuat semua orang memilih diam menunggu keajaiban. Arnav masih melakukan kompresi sampai akhirnya salah satu perawat berkata pelan.
“Dok, wajah pasien perlu dibersihkan.”
Arnav tidak menjawab, memberikan keheningan bagi perawat itu untuk mengambil kasa steril dan menuangkan cairan saline. Darah yang menutupi wajah pasien mulai dibersihkan sedikit demi sedikit. Semua orang tetap fokus pada layar monitor, kecuali Arnav yang pandangannya mendadak tertarik ke arah gerakan kasa tersebut.
Kasa itu bergerak menyapu darah di pelipis, pipi, dan di dekat mata hingga kulit wajah pasien mulai terlihat. Arnav masih melakukan kompresi, tetapi ritme tangannya perlahan mulai melambat.
Perawat kembali menyeka sisa darah, memunculkan bagian alis, hidung, dan sebagian bibir pasien. Jantung Arnav mendadak berdegup sangat keras, membuat tangannya berhenti bergerak selama sepersekian detik.
Perawat melakukan usapan terakhir, membuat wajah itu kini terlihat semakin jelas di bawah lampu neon IGD. Dunia seolah mengecil di sekitar Arnav, melenyapkan suara monitor dan obrolan orang-orang di sekitarnya.
Perempuan itu tidak mungkin berada di sini setelah bertahun-tahun menghilang.
“Dokter Arnav?” Suara perawat terdengar sangat jauh.
Arnav menatap kosong wajah yang telah bersih dari darah tersebut, wajah yang pernah mengisi seluruh masa mudanya sekaligus menghancurkan hatinya. Bibirnya bergerak pelan, mengucapkan satu nama yang selama sepuluh tahun ini berusaha ia lupakan.
“Elora ...?”
Seketika itu juga, kedua tangannya membeku total di atas d**a pasien.