BAB 2

1417 Words
“Dokter Arnav! Ambulans pertama sudah masuk drop-off! Pasien laki-laki paruh baya, trauma toraks!” Teriakan perawat triase menambah kesibukan di selasar depan IGD. Malam yang semula hanya diisi hawa dingin, mendadak koyak saat pintu otomatis rumah sakit terbuka paksa dengan sentakan kasar. Deru angin malam berbaur rintik hujan sisa badai langsung menerobos masuk, membawa serta aroma aspal basah dan amis darah yang begitu pekat. Arnav melangkah lebar, memimpin barisan dengan cekatan. Matanya yang tajam langsung memindai pasien di brankar pertama yang didorong tergesa-gesa oleh petugas paramedis. Di atas ranjang besi itu, seorang pria tua berpakaian mewah compang-camping tampak kesulitan bernafas dan tidak sadarkan diri. Ada jejak hantaman setir yang meninggalkan bekas memar dadanya. Arnav memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan pria itu, merasakan aliran lambat yang tersendat. “Bawa ke bilik satu! Pasang monitor dan siapkan intubasi sekarang!” perintah Arnav lantang, memberikan instruksi pada dokter-dokter muda dan para koas yang berjaga. “Tensi drop di angka delapan puluh per lima puluh, Dok!” sahut perawat sambil berlari mendorong brankar. “Jangan banyak tanya, masukkan cairan hangat dua jalur cepat!” balas Arnav, mempercepat langkah kakinya tanpa memedulikan cipratan darah yang mulai m*****i lantai porselen steril. Belum sempat roda brankar pertama berbelok masuk bilik, raung sirene dari dua ambulans berikutnya langsung menyusul dari arah pelataran luar. Suasana IGD dalam sekejap berubah menjadi makin riuh ramai, dipenuhi oleh para tenaga medis yang sedang berkejaran dengan waktu untuk menyelamatkan nyawa pasien. Arnav berdiri di tengah ruang triase utama, menatap dua brankar berikutnya yang didorong masuk secara bersamaan oleh tim penyelamat tol. Di atas brankar kedua, seorang wanita paruh baya mengerang kesakitan dengan pendarahan hebat di area paha atas yang robek menganga akibat pecahan kaca. Pakaian sutra mahalnya basah kuyup oleh cairan merah, kontras dengan pucatnya kulit wajah yang mulai kehilangan suplai oksigen. Sementara di brankar ketiga, seorang wanita muda terbujur kaku dengan wajah yang tertutup total oleh lumuran darah segar yang terus mengucur dari dahinya. “Dok, ini manifes identitas dari dompet korban yang ditemukan polisi di TKP!” Petugas administrasi berjalan dengan cepat, menyodorkan selembar kertas yang agak basah ke arah Arnav. Arnav menyambar kertas itu dengan satu sentakan cepat, mengabaikan getaran aneh yang mendadak merayap di ujung jemarinya yang terbungkus lateks. Matanya menyipit tajam menelusuri deretan nama yang tertulis di atas lembar putih tersebut. Sedetik kemudian, jantungnya seolah berhenti berdetak, memicu hantaman syok yang luar biasa hebat di dalam rongga dadanya sendiri. Seluruh tubuh tegapnya menegang kencang, membuat darahnya terasa membeku dalam sekejap mata. Tiga korban kritis yang terkapar tak berdaya di hadapannya ini berasal dari satu kartu keluarga yang sama. Mereka adalah keluarga pengusaha properti paling ternama, pengembang bisnis dan properti yang paling disegani di kota ini. Pikiran Arnav mendadak melompat liar pada memori studio balet mewah dan wangi parfum mahal yang sangat akrab di masa lalunya. Rasa sesak yang amat pekat mendadak mencengkeram ulu hatinya, menghancurkan benteng ketenangan yang selama ini ia banggakan di depan rekan sejawatnya. “Sial,” umpat Arnav sangat lirih, rahangnya mengeras hingga urat-urat di sekitar lehernya menonjol tegang karena frustrasi yang memuncak. Tragedi yang menimpa keluarga itu terlalu besar untuk dipahami dalam satu malam. Mereka yang biasanya hidup dalam kemewahan dan dihormati banyak orang, kini terbaring tak berdaya di ambang maut. Ironisnya, nasib mereka berada di tangan Arnav. Perasaan yang berputar di dalam dadanya begitu kacau. Ia berusaha tetap tenang sebagai dokter, tetapi tekanan yang menghimpit membuat dadanya terasa sesak. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, menggerus ketenangan yang selama ini selalu ia banggakan. Di tengah dinginnya ruang gawat darurat, Arnav justru merasa seolah berada di dalam pusaran panas yang tak terlihat—panas yang lahir dari ketakutan, tanggung jawab, dan kenyataan bahwa tidak semua nyawa bisa diselamatkan. “Arnav! Jangan melamun! Ambil kendali triase sekarang juga!” Suara Dokter Hendra mengelegar dari arah bilik satu, memutus keterkejutannya yang sempat menahan langkah kaki Arnav. Arnav menarik napas panjang, berusaha menekan keterkejutan yang sempat mengguncangnya. Dalam hitungan detik, ia memaksa dirinya kembali fokus. Wajahnya kembali tenang, nyaris tanpa emosi, seperti sosok dokter yang selama ini dikenal semua orang. Ia berbalik dengan langkah mantap, menatap para residen junior dan perawat yang mulai terlihat panik di tengah situasi yang semakin kacau. Sorot matanya tajam dan penuh kendali. Seketika, kehadirannya mengembalikan ketertiban yang sempat goyah. Di tengah kepungan darah dan ketegangan, Arnav kembali menjadi sosok yang diandalkan semua orang untuk memimpin. “Residen bedah, pegang wanita paruh baya di bilik dua! Hentikan pendarahan femoralisnya, kesadarannya mulai menurun karena syok hipovolemik!” perintah Arnav cepat. “Siap, Dokter Arnav! Bagaimana dengan kebutuhan transfusi darahnya?” tanya residen bedah itu dengan nada panik. “Golongan darah O, minta bank darah keluarkan empat kantung sekarang, jangan pakai lama!” gertak Arnav tanpa menerima bantahan. “Bagian pernapasan ambulans ketiga bagaimana, Dok? Nadi karotis wanita muda ini sangat lemah dan napasnya mulai dangkal!” teriak perawat yang menahan brankar di dekat pintu masuk. “Pertahankan jalan napasnya dulu, pasang collar neck dan bersihkan jalur napasnya dari sumbatan!” balas Arnav tanpa bertele-tele. “Tapi Dok, grafiknya mulai tidak stabil, dia bisa henti jantung kapan saja!” perawat itu kembali membalas dengan kepanikan yang kian menjadi. “Saya tahu! Lakukan apa yang saya perintahkan tim bedah trauma akan melakukan pemeriksaan lebih lengkap!” ancam Arnav dengan tatapan mata mengunci yang mengintimidasi. Tanpa membuang waktu, Arnav segera melangkah menuju bilik satu, tempat kepala keluarga pengusaha properti itu sedang berjuang di ambang maut. Suasana ruang trauma terasa begitu menekan. Bau khas rumah sakit bercampur dengan aroma darah memenuhi udara, sementara bunyi monitor jantung yang tidak lagi stabil menambah ketegangan yang menggantung di setiap sudut ruangan. Waktu seakan berjalan lebih lambat. Detik demi detik terasa panjang, memperberat beban yang menekan d**a Arnav di tengah malam yang sunyi dan mencekam. Ia mengambil posisi di sisi ranjang pasien, menatap pria tua yang terbaring tak berdaya di hadapannya. Bersama konsulennya, ia bersiap menghadapi pertarungan paling berat malam itu, pertarungan untuk merebut kembali nyawa yang perlahan mulai menjauh. “Bagaimana kondisinya, Dok?” tanya Arnav sambil memeriksa refleks pupil pasien pertama yang kini sudah tidak memberikan respons maksimal terhadap cahaya. “Buruk, Arnav, pendarahan dalam di rongga dadanya terlalu banyak, kita berpacu dengan waktu yang hampir habis,” jawab Dokter Hendra dengan napas terengah berat. Arnav menahan napas sambil menatap monitor di hadapannya. Gelombang yang sebelumnya bergerak stabil kini perlahan melemah, seolah ikut menyeret harapan yang tersisa di dalam ruangan itu. Wajahnya tetap tenang, tetapi di balik ketenangan tersebut, emosinya sedang runtuh sedikit demi sedikit. Tidak ada seorang pun yang mengetahui rahasia yang menghubungkannya dengan malam ini. Bahkan Dokter Hendra pun tak akan pernah mengerti mengapa dadanya terasa begitu sesak. Kenangan lama yang selama ini tersimpan rapat mendadak hadir tanpa diundang, membawa rasa bersalah yang tak pernah benar-benar hilang. “Siapkan epinefrin satu ampul, kita lakukan stimulasi terakhir,” ucap Arnav dengan nada suara yang bergetar ketat, menahan ledakan emosi yang hampir meruntuhkan egonya. “Arnav, kamu urus pasien wanita muda di bilik tiga sekarang, biar bapak ini saya yang pegang bersama tim bedah!” perintah Dokter Hendra tiba-tiba. Arnav terdiam sejenak. Ada sesuatu yang seolah menarik perhatiannya ke arah koridor luar, ke tempat seorang wanita muda yang wajahnya berlumuran darah sedang terbaring di atas brankar. Perasaan tak nyaman yang sejak tadi mengusiknya mendadak semakin kuat. Tanpa berkata apa pun, ia berbalik dan melangkah cepat meninggalkan bilik satu. Dadanya terasa semakin sesak oleh ketegangan yang sulit dijelaskan. Langkahnya panjang dan tergesa, meski ada beban aneh yang membuat setiap pijakan terasa berat. Saat tiba di depan pintu bilik tiga, sebuah teriakan histeris tiba-tiba memecah suasana. Suara itu begitu nyaring hingga membuatnya berhenti seketika. Jantungnya berdegup lebih kencang. Tanpa sadar, jemarinya menegang saat firasat buruk yang sejak tadi mengintainya terasa semakin nyata. “Dokter Arnav! Pasien bilik tiga flat line! Nadi karotisnya hilang!” teriak perawat dari balik pintu geser yang terbuka setengah. Arnav langsung mendorong sekat pembatas bilik tiga dan masuk tanpa ragu. Pemandangan di hadapannya membuat suasana ruangan terasa membeku. Wanita muda yang tadi masih berjuang bertahan kini terbaring tak bergerak. Di samping ranjang, monitor jantung mengeluarkan bunyi panjang yang menusuk telinga, pertanda bahwa detak jantungnya telah berhenti. Naluri sebagai dokter mengambil alih sepenuhnya. Tanpa sempat memikirkan apa pun, apalagi mengenali siapa pasien itu sebenarnya, Arnav segera bergerak ke sisi ranjang. Ia memosisikan diri dengan sigap, meletakkan kedua tangannya di tengah d**a pasien, lalu mengunci jemarinya dengan erat. “Siapkan defibrilator, sekarang!” teriak Arnav. Napasnya memburu saat ia mulai melakukan kompresi d**a pertama, mengerahkan seluruh tenaga yang dimilikinya untuk menyelamatkan pasien itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD