“Arnav, coba kamu cek refleks pupil pasien ini sekarang!”
Suara bariton Dokter Hendra memecah keheningan di dalam kamar rawat VVIP Rumah Sakit malam itu. Arnav langsung menegakkan tubuhnya yang tegap, merapikan sneli yang membungkus kemeja abu-abu ketatnya. Di usia dua delapan tahun, ia sudah memegang posisi sebagai residen senior spesialis mata yang paling diandalkan oleh Konsulennya.
Ia berjalan melewati deretan perawat muda yang sempat mencuri pandang, mengagumi rahang tegas dan tatapan matanya yang selalu tenang seperti air es. Arnav mendekati ranjang pasien, mengeluarkan penlight dari saku dadanya, cahaya kecil itu diarahkan tepat ke pusat mata seorang pria tua yang terbaring lemah di bawah selimut tebal. Pupil mata itu mengecil dengan lambat, sebuah indikasi klinis yang langsung ditangkap oleh otak cerdasnya.
“Refleks lambat, Dok, ada penurunan fungsi saraf optik pasca-operasi,” ucap Arnav dengan nada suara yang tenang, dan tanpa ekspresi.
Dokter Hendra mengangguk, menepuk pundak Arnav yang terasa kaku seperti papan kayu. Konsulen senior itu tahu betul bahwa residen di depannya ini tidak pernah mengenal kata lelah jika sudah berada di area rumah sakit. Arnav lebih memilih mengabaikan rasa kaku di otot lehernya yang sudah berjaga selama hampir delapan belas jam tanpa jeda.
Pikiran Arnav mendadak melayang jauh ke belakang, menembus dinding waktu sepuluh tahun yang lalu ketika ia masih mengenakan seragam putih abu-abu. Sensasi hangat kulit seorang gadis di bawah siraman hujan sore hari mendadak berkelebat di ingatannya, memicu rasa sesak yang sangat akrab di d**a.
I will survive, single, free, and young. Suara lirik lagu barat dari pemutar musik di ruang jaga perawat terdengar samar, memperkuat rasa sepi yang selama ini ia sembunyikan di balik sikap dinginnya.
Arnav mendengus pelan, menertawakan seleranya sendiri yang mendadak melow hanya karena sebuah lagu usang dari masa lalu. Ia segera mematikan kilas balik itu, memaksa logikanya untuk kembali menguasai seluruh kesadarannya. Tidak ada gunanya mengingat masa lalu yang sudah ia bakar sendiri dengan tangannya, meninggalkan abu yang bahkan enggan ia tengok lagi. Ia kembali berjalan menuju meja administrasi tengah, memeriksa lembar rekam medis pasien berikutnya dengan ketelitian tinggi yang mengintimidasi.
Matanya yang tajam menelusuri setiap angka lab, memastikan tidak ada satu pun detail diagnosis yang luput dari pengawasannya yang ketat. Rekan sesama residen sering menyebutnya sebagai robot bernyawa karena ia hampir tidak pernah menunjukkan emosi personal saat bekerja, selalu kaku dan tidak tersentuh.
“Dokter Arnav tidak berniat pulang untuk istirahat? Muka Dokter sudah kelihatan lelah begitu,” tanya seorang perawat muda dengan nada bicara yang sengaja dibuat selembut mungkin, mencoba mencari perhatian.
Arnav tidak mengalihkan pandangannya dari kertas di tangannya, hanya menggelengkan kepala satu kali tanpa minat. Perawat itu tampak sedikit kecewa, lalu mundur perlahan menjauhi meja kerja Arnav. Arnav memang sengaja membatasi interaksi sosialnya dengan siapa pun di lingkungan rumah sakit ini, membangun benteng pertahanan yang super tebal.
Dunia medis adalah tempat di mana ia bisa melupakan status sosial keluarganya yang sempat hancur berantakan karena fitnah di masa lalu. Di sini, ia dinilai karena kemampuan otaknya yang cerdas, bukan karena stigma negatif masa lalu yang pernah menghancurkan mental sang ayah hingga runtuh total.
Arnav membalik halaman rekam medis dengan gerakan cepat, mengabaikan debaran aneh yang terus mengusik dadanya sejak beberapa jam lalu. Ia berjalan menuju jendela besar yang menghadap langsung ke arah jalan raya kota yang basah oleh sisa air hujan, menatap kegelapan di luar sana. Langit malam tampak kelam, seolah sedang bersiap untuk menumpahkan badai yang jauh lebih besar lagi ke atas bumi.
Ia menyilangkan kedua tangan di depan d**a, merasakan detak jantungnya sendiri yang berdetak tetapi terasa kosong. Ingatannya kembali bergolak secara liar, memunculkan bayangan tubuh molek seorang gadis yang sedang meliuk indah di atas lantai kayu studio dansa. Arnav ingat bagaimana jemari tangan remajanya dulu sering menjelajahi lekuk tubuh itu, merasakan gairah yang membakar kulit mereka yang penuh keringat.
Tidak ada yang tahu kekosongan jiwanya, bahkan dirinya sendiri tidak mau mengakui rasa sepi itu. Arnav menatap lurus ke arah kegelapan di luar jendela tebal rumah sakit, mencoba mengusir bayangan tubuh gemulai yang bergerak selaras dengan gesekan biolanya. Ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan bau antiseptik kembali menenangkan isi kepalanya yang mulai kacau ngadi-ngadi.
“Dokter Arnav, Anda dipanggil ke ruang konsulen sekarang juga!” seorang perawat senior mendatangi tempatnya dengan napas yang sedikit memburu.
Arnav langsung membalikkan badannya, menatap perawat senior itu dengan pandangan menyelidik. Aura ketenangan yang tadi melekat pada dirinya mendadak berubah menjadi lebih waspada, membuat perawat di depannya agak salah tingkah. Ia merapikan sneli yang ia kenakan, bersiap menghadapi tugas baru yang mungkin akan menguras tenaganya lagi tanpa ampun.
“Ada masalah dengan pasien VVIP?” tanya Arnav singkat sambil melangkah lebar memimpin jalan menuju ruang konsulen, tidak suka membuang waktu untuk basa-basi busuk.
Perawat senior itu menggeleng cepat, mencoba menyamai langkah kaki Arnav yang panjang dan bergerak sangat cepat di koridor rumah sakit yang sepi. Suasana tenang di lantai atas rumah sakit mendadak terasa sedikit mencekam akibat perubahan mood yang tiba-tiba ini, seperti ada bahaya yang mengintai. Arnav merasakan firasat buruk mulai merayap di balik tengkuknya, membuat bulu kuduknya berdiri tipis.
“Bukan, Dok, ada instruksi langsung dari Dokter Hendra terkait persiapan siaga darurat di lantai bawah,” jawab perawat itu dengan nada cemas yang kentara.
Arnav tidak membalas lagi, ia langsung mendorong pintu kayu ruang konsulen dengan satu gerakan tangan. Di dalam ruangan, Dokter Hendra sedang menatap layar monitor besar yang menampilkan daftar permintaan bantuan tenaga medis untuk menangani keadaan darurat. Gurat-gurat kelelahan terlihat jelas di bawah siraman lampu neon yang benderang, membuat suasana di dalam ruangan terasa semakin menegangkan.
“Arnav, turun ke IGD sekarang juga dan bantu tim triase utama di sana,” ucap Dokter Hendra tanpa basa-basi sedikit pun, nadanya sangat serius.
Arnav menaikkan sebelah alisnya, sebuah reaksi yang jarang ia tunjukkan di depan konsulennya selama masa residensi mata yang ketat ini. Lantai IGD adalah wilayah dokter spesialis bedah trauma dan emergensi, bukan area utama bagi seorang residen senior spesialis mata seperti dirinya yang biasa bermain di ruang operasi steril. Ia tetap mempertahankan posisi berdirinya yang tegap, tidak menunjukkan tanda-tanda penolakan atau keluhan bodoh.
“Ada kecelakaan beruntun yang menelan banyak korban di jalan tol lingkar luar, tiga ambulans sedang meluncur ke sini secara bersamaan,” lanjut Dokter Hendra dengan suara berat yang menembus gendang telinga.
Atmosfer di dalam ruangan langsung berubah menjadi sangat pekat, membuat pasokan udara seolah menipis dalam sekejap dan mengalirkan ketegangan yang magnetis. Arnav merasakan debaran jantungnya mulai berakselerasi dengan cepat, memicu adrenalin yang biasa muncul saat situasi hidup mati manusia melanda di depan mata. Ia tahu betul arti dari kedatangan tiga ambulans secara serentak dari lokasi kecelakaan beruntun, itu berarti genangan darah dan jeritan histeris.
“Siap, Dok, saya segera turun ke bawah untuk memimpin tim bantuan medis,” jawab Arnav dengan nada tenang namun penuh penekanan tegas.
Ia langsung membalikkan tubuhnya yang tinggi, melangkah keluar dari ruang konsulen dengan cepat, lebih cepat dari sebelumnya. Sneli-nya berkibar sedikit saat ia memilih melewati tangga darurat daripada menunggu lift rumah sakit yang jalannya lambat seperti siput. Setiap detik sangat berharga ketika nyawa manusia sedang dipertaruhkan di lantai bawah.
Saat kakinya menapak di lantai dasar koridor IGD, suara bising dan kepanikan langsung menyambut pendengarannya dengan sangat brutal dan tanpa ampun. Beberapa dokter muda dan perawat tampak berlarian menyiapkan brankar kosong serta peralatan resusitasi darurat di setiap bilik yang tersedia. Arnav berjalan lurus menembus kekacauan itu dengan pandangan mata yang dingin, langsung menuju pintu masuk utama tempat drop-off pasien.
Arnav memakai sarung tangan lateksnya dengan gerakan cepat, mantap, dan terdengar suara letupan karet yang ketat di tangannya. Dari kejauhan, lampu rotator merah dari armada ambulans pertama terlihat menembus kaca transparan pintu masuk IGD rumah sakit, membelah kegelapan malam. Sirene ambulans itu meraung memekakkan telinga.
“Pasien pertama, laki-laki paruh baya, trauma toraks hebat, kesadaran menurun!” ucap seorang koas jaga menjelaskan status pasien yang sedang ditransfer ke RS mereka.
Arnav berdiri tegak di depan pintu masuk, menyambut empasan angin malam yang dingin. Matanya mengunci ambulans yang mulai memasuki gerbang rumah sakit menuju IGD.
“Bawa pasien ke bilik satu dua dan tiga, siapkan monitor dan defibrillator sekarang!” perintah Arnav lantang.