“Aku sengaja pilih lagu ini buat ujian balet minggu depan, Nav. Bagus, kan? Kalau lulus, aku mau langsung daftar beasiswa ke Singapura.”
Elora berputar kecil di bawah gerimis sore yang mulai turun di halaman belakang sekolah. Rok seragamnya ikut berayun, sementara senyum di wajah gadis delapan belas tahun itu terlihat begitu cerah. Saat itu, dunianya terasa sempurna. Mimpi-mimpinya sedang tumbuh, dan ada satu orang yang selalu ia bayangkan akan berjalan bersamanya sampai akhir.
Arnav. Pria yang sudah menemaninya hampir separuh hidupnya.
Elora tersenyum lebar lalu mengulurkan tangan seperti biasanya, berniat menggenggam jemari sang kekasih. Sayangnya, Arnav justru mundur satu langkah.
“Nav?”
“Kita putus, El.”
Elora tertawa kecil. “Apaan sih? Nggak lucu.” Ia menggeleng sambil tersenyum. “Ujian baletku tinggal seminggu lagi. Jangan bikin aku stres.”
“Aku serius.” Suara Arnav datar. “Kita selesai sampai di sini.”
Senyum Elora perlahan hilang. Ia berkedip beberapa kali, seolah tidak yakin dengan apa yang baru saja didengarnya.
“Kenapa?” Suara gadis itu mengecil. “Kemarin kita masih baik-baik saja.”
Arnav diam.
“Aku ada salah?”
Masih diam.
“Kalau aku salah, bilang sama aku. Jangan tiba-tiba kayak gini.”
“Kamu nggak salah.”
Jawaban itu justru membuat Elora semakin takut. “Lalu kenapa?”
Arnav mengalihkan pandangannya. “Aku cuma sadar kita nggak cocok.”
“Apaan?”
“Aku capek.”
“Capek?”
“Aku nggak punya waktu buat hubungan kayak gini lagi.”
Elora membeku. “Hubungan kayak gini?”
“Hubungan kekanak-kanakan.”
Air mata langsung memenuhi kedua mata Elora. “Kekanak-kanakan?”
Hujan mulai turun semakin deras.
“Sepuluh tahun kita bareng, Arnav.” Suara Elora bergetar. “Sepuluh tahun.”
Ia memukul d**a pria itu dengan kedua tangannya. Tidak keras. Tidak marah. Lebih seperti seseorang yang sedang berusaha membangunkan mimpi buruk.
“Kamu bilang cinta sama aku.”
Bruk. Satu pukulan lagi.
“Kamu bilang kita bakal kuliah bareng.”
Bruk.
“Kamu bilang mau nikahin aku.”
Bruk.
“Kamu bilang ...” Air matanya jatuh semakin deras. “... kamu bilang bakal jadi mataku kalau suatu hari aku nggak bisa lihat.”
Elora terisak. “Kamu bohong?”
Arnav berdiri diam. Biasanya, setiap Elora menangis, pria itu akan langsung menariknya ke dalam pelukan. Biasanya, Arnav akan panik. Biasanya, Arnav akan meminta maaf lebih dulu.
Hari itu, tidak ada pelukan. Tidak ada belaian. Tidak ada kata sayang. Pria itu hanya berdiri mematung, sementara kedua tangannya mengepal kuat di balik tubuhnya. Karena jika ia memeluk Elora saat itu juga, ia tahu dirinya tidak akan sanggup pergi.
“Anggap saja semua yang pernah aku bilang itu bohong.” Suara Arnav terdengar dingin. “Mulai besok, jangan cari aku lagi.”
Dunia Elora runtuh dalam satu kalimat.
“Apa?”
“Kita selesai.”
“Arnav ...”
“Sudah selesai, El.”
“Arnav, lihat aku!”
Pria itu berbalik. Langkahnya pelan, lalu semakin cepat, dan semakin jauh. Meninggalkan Elora sendirian di bawah hujan.
“Arnav!” Elora berlari mengejarnya. “Arnav!”
Kakinya terpeleset. Tubuhnya jatuh terduduk di atas aspal yang basah. Air mata bercampur air hujan membasahi wajahnya.
“Arnav!”
Tidak ada jawaban.
“Arnav, jangan pergi!”
Pria itu terus berjalan. Tidak menoleh, tidak berhenti, tidak kembali.