BAB 11

2031 Words

“Aku nggak mau makan. Tolong keluar.” Perawat Rani seketika menghentikan langkahnya. Semangkuk bubur hangat yang masih mengepul di atas nampan itu mendadak terasa berat. Aroma kaldu yang biasanya menggugah selera, justru membuat lambung Elora bergejolak mual. “Mbak Elora, dari pagi belum ada makanan yang masuk,” bujuk Perawat Rani lembut. “Nggak lapar.” “Sedikit saja, Mbak.” “Nggak mau.” Perawat itu hanya bisa menghela napas pelan. Sudah hari keempat sejak Elora tersadar dari masa komanya. Hari keempat yang berjalan lambat, terasa persis seperti neraka yang dingin. Tidak ada lagi teriakan histeris yang memekakkan telinga seperti di hari pertama. Tidak ada lagi lemparan vas bunga mika atau gelas plastik yang membentur dinding. Elora justru berubah menjadi sangat diam—jenis diam yang

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD