BAB 12

1810 Words

“Madame bilang kaki itu harus bicara, Elora. Bukan mulutmu.” Suara tegas itu hadir begitu jelas di dalam kepalanya, menggema di antara keheningan malam yang sunyi. Elora memejamkan mata. Namun, tidak ada bedanya. Terbuka atau tertutup, semuanya tetap sama, hitam, kosong, dan hampa. Di sisinya, suara monitor rumah sakit masih berdenting pelan secara teratur. Bau antiseptik yang tajam menusuk indra penciumannya, memenuhi seluruh penjuru udara. Selimut tipis yang menutupi tubuhnya terasa hangat, tetapi entah mengapa, dadanya tetap terasa sedingin es. Ia tidak menangis lagi. Air matanya sudah terlalu banyak terkuras habis selama beberapa hari terakhir. Yang tersisa di dalam dirinya sekarang hanyalah rasa lelah. Lelah yang sangat dalam, yang menghimpit seluruh raganya. Malam itu, setelah ef

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD