BAB 3 – Jebakan Kamar Hotel

1185 Words
Malam itu berjalan terlalu mulus—terlalu sesuai rencana—hingga Ellya seharusnya curiga. Namun kehadiran Reza dengan semua kepolosan dan kebodohannya membuat kewaspadaannya melemah. Ia tidak pernah membayangkan bahwa lelaki polos itu akan dijadikan pion dalam permainan kelam yang dirancang oleh tante kandungnya sendiri. Bar eksklusif mulai sepi ketika jam mendekati tengah malam. Suara gelas, tawa palsu, dan musik jazz yang tadinya ramai kini meredup, menyisakan beberapa tamu yang tampak tenggelam dalam dunia pribadi masing-masing. Reza duduk di kursinya, memainkan sedotan jus yang sudah tak ada isinya, wajahnya memerah sedikit karena dua minuman yang tadi ia minum tanpa protes. Ia terlihat seperti anak kecil yang diberi terlalu banyak gula. Namun Ellya tahu—itu bukan gula. Tante Maharani-lah yang datang membawa kedua minuman itu, tersenyum manis sambil berkata lembut, “Ini jus madu. Tidak ada alkohol. Dia tidak akan menolak.” Reza percaya. Itu kesalahan besar—dan bagian dari rencana yang sangat gelap. Reza mulai goyah saat berdiri. “Ellya… kepalaku… ringan sekali.” Ia tertawa pelan, tanpa kendali. “Rasanya seperti balon.” Ellya langsung memegang lengannya. “Reza, kamu okay?” “Okay. Tapi… lantainya… bergerak?” Reza menatap lantai seperti benda hidup. Ellya panik. Ia hendak memintanya duduk kembali ketika Tante Maharani tiba-tiba muncul di samping mereka. “Reza tampaknya terlalu lelah,” katanya sambil tersenyum manis, padahal matanya penuh kalkulasi. “Ayo kita antar dia ke kamar hotel. Sudah aku siapkan.” “Kamar hotel? Tante, ini tidak—” “Ellya.” Tante Maharani menatapnya tajam dengan senyum yang tidak berubah. “Kamu ingin bebas dari aku, kan? Ini kesempatanmu.” Ellya membeku. “Tanpa alasan,” lanjut tante, suaranya serendah bisikan setan, “kamu tidak akan pernah bisa keluar dari hidupku.” Jantung Ellya berdetak keras. Ia menatap Reza yang kini bersandar ke bahunya seperti anak kecil yang mengantuk. Tubuhnya hangat dan berat, nafasnya lambat dan tidak stabil. Ia mabuk. Bukan sedikit—bukan euforia manis orang yang minum wine—tapi mabuk dalam arti sebenarnya. Padahal Reza sudah bilang ia tidak pernah minum alkohol. Dan ia tertipu hanya karena percaya bahwa orang dewasa tidak mungkin membohonginya begitu saja. Reza menggumam, “Ellya… kamu dua. Eh, tiga. Kamu banyak.” Ellya memejamkan mata frustasi. Dia benar-benar mabuk. Tante Maharani memberi isyarat pada pelayan yang sudah ia bayar untuk membantu membawa Reza. Dua orang staf hotel mengangkat Reza perlahan, mengarah menuju lift. Reza sempat melambaikan tangan pada bartender sambil berkata, “Mas… terima kasih jus jeruknya… yang pahit manis pahit.” Bartender mengerutkan dahi. Ellya ingin tertawa, tapi bibirnya tak mampu bergerak. Lift bergerak naik. Reza bersandar pada dinding lift, kemudian jatuh perlahan ke pundak Ellya. Tangannya mencoba mencari pegangan dan justru mencengkeram rambut Ellya lemah. “Ellya…” gumamnya. “Jangan hilang. Kamu… wangi.” Tante Maharani tersenyum. “Bagus, dia sudah sangat mabuk.” “Tante,” Ellya berbisik cemas, “apa ini tidak keterlaluan?” Tante tidak menjawab. Pintu lift terbuka di lantai mereka. Pelayan membawa Reza masuk ke kamar hotel mewah. Kamar itu luas—ranjang besar, sofa panjang, jendela yang menghadap kota, dan suasana temaram yang mengerikan dalam konteks malam itu. Reza dijatuhkan perlahan ke atas ranjang. Tubuhnya terkulai seperti boneka kain. Ia menggumam sesuatu dalam bahasa yang tidak jelas, lalu tertawa sendiri. Ellya berjalan mendekat, melihat tubuh Reza yang terlihat kecil namun hangat, rapuh namun kuat. Wajahnya merah, matanya terpejam, bibirnya sedikit terbuka seakan kesepian. “Beres,” ujar salah satu staf hotel. Tante Maharani mengeluarkan uang dari tasnya, memberikan pada mereka, dan mengusir mereka keluar. Pintu ditutup. Kini hanya ada tiga orang: Ellya, Reza yang pingsan, dan tante yang berdiri seperti raja iblis yang sedang menagih jiwa. “Ellya,” kata tante lembut, seolah memberi kabar baik. “Inilah kesempatanmu.” Ellya menatap Reza. “Aku tidak akan melakukan apa pun,” katanya tegas. “Reza mabuk. Ini salah.” Tante mendekat, ekspresinya berubah dingin. “Kamu akan mengikuti apa yang aku katakan. Kamu ingin kebebasan? Atau ingin hidupmu tetap seperti ini?” Ellya menggigit bibir. “Dekati dia,” perintah tante pelan. “Tidak.” “Ellya,” nada tante turun, mengancam. “Lakukan. Aku butuh foto. Dunia butuh melihat mereka di ranjang yang sama.” Ellya tersenyum getir. “Tante benar-benar gila.” “Gila demi masa depanmu,” balas tante. Lalu, sebelum Ellya sempat melangkah mundur, tante menekan bahunya. “Buka kancing bajunya.” Ellya membeku. “Tante… dia—” “Buka.” Dengan tangan gemetar, Ellya mendekat ke ranjang. Reza terbaring miring, napasnya panjang, d**a naik turun pelan. Ia terlihat seperti malaikat bodoh yang tidak sadar hidupnya sedang dimanipulasi. Ellya menyentuh kancing kemeja Reza. Pelan—sangat pelan—ia membuka satu kancing. Lalu satu lagi. Lalu satu lagi. Tante mengarahkan ponselnya. Ketika kemeja Reza terbuka, Ellya terdiam. Tubuh Reza… tidak sesuai kelakuannya. Dibalik kepolosan dan kebodohannya, ia memiliki tubuh yang terawat: d**a bidang, garis otot halus, kulit bersih, dan lekuk pinggang maskulin yang kontras dengan sikap canggungnya. Ellya menelan ludah. “Dia… tidak terlihat bodoh.” Tante tersenyum miring. “Tentu saja. Dia bukan bodoh. Tapi dunia harus menganggap begitu.” Ellya gemetar. “Sekarang,” tante melanjutkan, “kamu buka bagian atasmu.” “Apa? Tidak!” Ellya memeluk tubuhnya. “Ellya,” suara tante berubah dingin seperti baja. “Ini cuma untuk foto. Kamu masih memakai bra. Tidak ada yang terjadi. Kamu ingin bebas atau tidak?” Air mata menggenang di mata Ellya karena marah… terjebak… sakit hati. Perlahan, ia melepas bagian atas bajunya dan menyisakan bra satin yang menutupi secukupnya. Tante mengangguk puas. “Bagus. Ke sampingnya. Dekatkan tubuhmu.” Ellya duduk di samping Reza. Ranjang bergoyang kecil. Reza bergerak sejenak, lalu—seperti refleks alamiah tubuh orang mabuk—ia meraih pinggang Ellya, menariknya hingga tubuh mereka menempel. Ellya terkejut. “Reza—!” Sebelum ia sempat menjauh, Reza menekan wajahnya ke leher Ellya, menghirup aroma rambutnya seperti anak kecil mencari kehangatan. “Ellya…” gumamnya. “Jangan pergi… hangat.” Lalu, tanpa peringatan—Reza mengangkat wajahnya dan menempelkan bibirnya ke bibir Ellya. Ciuman itu tidak dalam. Tidak menggunakan lidah. Hanya ciuman mabuk—hangat, goyah, namun mengejutkan. Ellya membeku. Ini… bukan bagian dari rencana. Ini… terlalu nyata. Klik. Klik. Klik. Tante Maharani memotret dari luar, dari celah pintu, mengambil angle yang menunjukkan tubuh Reza yang setengah telanjang, Ellya yang hanya memakai bra, dan posisi mereka yang tampak seperti pasangan baru saja melakukan sesuatu lebih dari sekadar ciuman. “Bagus…” bisik tante. “Sempurna.” Reza meletakkan kepalanya di d**a Ellya, terlelap dalam kehangatan tubuh perempuan yang bahkan belum benar-benar disentuhnya. Napasnya stabil, polos, tidak sadar dunia sedang menghancurkan reputasinya. Ellya menatapnya—percampuran antara iba, marah, dan hancur. Ia tidak menyangka rencana ini akan sejauh ini. Ia tak menyangka Reza akan jadi korban paling besar. Dan ia tidak menyangka bahwa di balik kepolosan itu… sesuatu dari dirinya—sesuatu kecil dan berbahaya—mulai merasa bersalah. Sangat bersalah. Tante tersenyum puas sambil menutup pintu perlahan, meninggalkan keduanya terjebak dalam jebakan yang tidak bisa mereka tarik kembali. Esok pagi— dunia akan berubah. Dan semua ini baru permulaan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD