BAB 2 – Milyuner Bodoh

1099 Words
Bar itu berubah menjadi ruang permainan yang penuh jebakan. Lampu neon memotong ruangan dengan cahaya biru dan ungu, musik berdentum halus, dan tatapan orang-orang kaya berbaur dengan aroma alkohol yang menusuk. Namun di antara semua itu—di sudut kecil tempat Ellya dan Reza duduk—suasananya terasa berbeda. Lebih sunyi. Lebih pelan. Lebih berbahaya. Reza memegang gelas sodanya dengan dua tangan, seolah takut gelas itu kabur jika dilepas. Pipinya sedikit merah, bukan karena alkohol, tetapi karena gugup berhadapan dengan perempuan cantik yang duduk kurang dari satu meter darinya. Setiap kali Ellya bergerak sedikit saja, Reza menelan ludah dan memalingkan pandangan. “Mau minum lagi?” tanya Ellya, nada suaranya tenang. Reza tersentak kecil. “Eh? Oh—eh—boleh? Tapi aku… aku biasanya nggak minum banyak. Soalnya kalau minum alkohol aku jadi… tambah salah ngomong.” “Ellya tahu,” batinnya sinis. Tetapi wajahnya tetap tenang seperti air di gelas. “Baik,” katanya pelan. “Aku pesan satu.” Ia mengangkat tangan—dan secepat itu, bartender datang. Terlalu cepat. Terlalu siap. Terlalu paham apa yang harus dilakukan. Bartender itu menatap Ellya sepersekian detik—cukup untuk menunjukkan bahwa ia telah diberi instruksi. Entah oleh siapa, entah kapan. Tapi jelas: Tante Maharani telah lebih dulu mengatur permainan ini. Ellya bersandar sedikit di kursi, tidak menunjukkan reaksi. “Satu minuman untuk Reza. Yang manis saja.” Bartender mengangguk. “Baik, Nona.” Reza tampak kebingungan. “Tapi aku—aku nggak mau yang bikin aku mabuk…” “Tenang,” kata Ellya datar. “Yang manis saja.” Reza mengangguk seperti anak kecil yang diberi permen. “Oh… ya sudah.” Saat bartender memutar badan, Ellya melihat gerak kecil tangannya. Botol—label tidak dikenali—dituang ke shaker hanya setetes, lalu disamarkan oleh jus buah dan soda. Satu tetes cukup. Cukup untuk membuat Reza sedikit goyah. Cukup untuk membuatnya terlihat mabuk. Cukup untuk membenarkan skandal yang tante harapkan. Ellya menatap proses itu tanpa reaksi. Ia tidak kaget. Tidak jijik. Tidak terkejut. Ia hanya menahan sesuatu yang menggumpal di dadanya—sesuatu yang sudah lama ia lupakan: rasa bersalah. “Ini,” kata bartender meletakkan gelas di depan Reza. Reza mengambilnya seperti menerima hadiah ulang tahun. “Wah… warnanya lucu…” Ellya mengamati dengan tenang saat ia menyesap. Tidak sadar apa yang ia minum. Tidak sadar siapa yang membuatnya begitu. “Enak!” kata Reza dengan mata berbinar. “Kayak jus. Kamu mau coba?” Ellya menggeleng. “Tidak.” “Oh… oke.” Reza tertawa kikuk. “Aku habisin sendiri.” Reza minum separuh gelas tanpa curiga. Suara musik berganti lagu. Lampu berubah menjadi warna merah. Orang-orang mulai tertawa lebih keras, tetapi Ellya hanya melihat Reza. Setiap gerakan kecil, setiap perubahan ekspresi. Ia mencari tanda—kapan alkohol itu mulai bereaksi. Dan itu terjadi cepat. Reza memiringkan kepala. “Eh… kenapa… lampunya goyang ya?” Ellya mengangkat alis. “Lampunya tidak goyang.” Reza mengucek mata. “Heh… oh… oh… iya… yang goyang aku.” Ia menyentuh meja agar tidak kehilangan keseimbangan. Senyumnya melebar, tidak stabil. Kepalanya sedikit menunduk. “Reza,” panggil Ellya pelan. “Kamu baik-baik saja?” “Baik! Baik banget!” jawabnya terlalu keras. Ia menutup mulut sendiri. “Eh… maaf… aku berisik ya?” Ellya tidak tahu apakah ia harus tertawa atau menyesal. Laki-laki dewasa ini… malah terlihat seperti anak kecil yang baru belajar minum soda keras. Dari kejauhan, Tante Maharani memperhatikan dengan senyum predator. Ia tidak tahu apa pun tentang Reza. Tidak tahu bagaimana suara Reza terdengar. Tidak tahu bagaimana laki-laki ini berpikir. Ia hanya tahu: Reza mabuk. Dan menurut logika tante, itu sudah cukup untuk memulai langkah berikutnya. “Minum lagi?” tanya bartender tiba-tiba. Reza menggeleng keras. “Nggak! Aku udah… uh… muter.” Tapi bartender seperti tidak peduli. Ia menaruh gelas kedua. Gratis. Gratis adalah kata lain dari: “Aku sudah dibayar oleh seseorang untuk memastikan target ini mabuk.” “Ellya…” bisik Reza, wajahnya memerah. “Kok tempatnya… kayak berubah gitu?” Ia memiringkan kepala. “Eh… kamu bercahaya…” “Aku tidak bercahaya,” jawab Ellya datar. “Hah? Masa sih? Kamu kayak… lampu.” Ellya tidak menjawab. Ia hanya memperhatikan bagaimana Reza menepuk pipinya sendiri pelan, seolah sedang memastikan ia tidak sedang berhalusinasi. Kemudian Reza melakukan sesuatu yang membuat Ellya—untuk pertama kalinya—terkejut. Reza menatapnya lama. Lama sekali. Mata itu tidak tajam, tidak cerdas, tidak penuh maksud. Hanya… polos. “Ellya…” katanya lirih. “Kamu baik ya?” Pertanyaan itu begitu sederhana. Begitu tulus. Ellya merasakan dadanya berdenyut. Bodoh. Ia memarahi dirinya sendiri dalam hati. Jangan mulai merasakan apa pun. “Aku tidak jahat,” jawab Ellya. “Hanya realistis.” Reza mengangguk-angguk, lalu seperti anak kecil yang baru belajar rahasia, ia berbisik, “Aku suka orang yang realistis.” Ellya menahan napas. Dari jauh, Tante Maharani melihat Reza mulai goyah, dan ia tersenyum. Senyum kemenangan. Senyum seorang perempuan yang merasa telah mengendalikan papan catur. Ia tidak tahu bahwa dalam permainan itu… Ellya mulai meragukan langkahnya sendiri. “Reza,” kata Ellya perlahan. “Minum lagi.” Reza memandang gelas kedua. “Tapi… aku goyang banget…” “Kamu butuh tenang.” Reza menatap Ellya seperti anak yang butuh restu. “Kalau kamu bilang… ya boleh…” Ia minum. Setengah. Dan saat ia meletakkan gelas itu… jari-jarinya gemetar. “Ellya…” suaranya turun. “Aku… berat.” “Kamu mabuk.” “Ah… masa sih…” Reza meraih meja tapi gagal. Tubuhnya miring perlahan. Terlalu perlahan untuk dianggap kecelakaan. Terlalu tepat waktunya untuk disebut kebetulan. “Ellya…” katanya pelan. “Aku takut…” Kalimat itu menusuk jauh ke dalam d**a Ellya. Ini bukan laki-laki manipulatif yang pantas dijatuhkan. Ini hanya laki-laki polos yang terseret dalam rencana gelap orang lain. “Ellya…” Suara itu pecah. “Kok kamu banyak banget ya?” Reza mengedipkan mata cepat. “Ada dua Ellya…” Ia mencoba mengangkat kepala lagi. Gagal. Lalu tubuhnya ambruk—jatuh langsung ke arah Ellya, kepalanya mengenai bahu perempuan itu. Dan seketika, Ellya menangkapnya. Tangannya memegang lengan Reza agar tidak terjatuh ke lantai. Tubuh pria itu panas, berat, dan tidak stabil. Dari kejauhan… Tante Maharani tersenyum puas. Clickbait terjadi tepat seperti yang ia rencanakan: Reza jatuh ke dalam pelukan Ellya. Dan Ellya, untuk kali pertama malam itu, merasakan sesuatu yang tidak seharusnya ia rasakan: ketidaknyamanan karena harus menjebak orang sepolos ini. “Reza,” bisiknya. “Bangun…” Reza tidak menjawab. Ia hanya menempel pada bahu Ellya—rentan, tak berdaya. Dan dalam pelukan itu… Ellya sadar: Permainan ini baru saja dimulai. Dan tidak ada jalan kembali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD