“Pintu belakang saja.” Reza menyebutkannya sambil menuruni dua anak tangga terakhir. Ellya mengikuti dari belakang, sedikit heran. Rumah utama keluarga Suryadinungrat jarang sekali dilalui lewat dapur, kecuali oleh para pekerja. Reza membuka pintu kayu yang lebih kecil, engselnya berdecit pelan. Aroma bawang goreng dan air panas menyambut. Beberapa perempuan berhenti bergerak. Ada yang sedang mencuci piring, ada yang memotong sayur. Mereka menoleh hampir bersamaan. “Mas Reza.” Sapaan itu bukan formal. Bukan pula terkejut. Lebih seperti menyebut nama seseorang yang lama tak pulang tapi tetap diingat. Reza tersenyum kecil. “Lagi ramai.” “Ini jamnya,” jawab salah satu dari mereka. “Mas mau minum?” “Nanti.” Ia melangkah lebih jauh, menyusuri dapur yang lebar dan terang. Ellya berdiri c

