Malam di Singapura turun tanpa suara, seolah kota itu mengerti bahwa tidak semua hal perlu diumumkan dengan terang. Cahaya gedung-gedung tinggi memantul lembut di kaca jendela hotel, menciptakan garis-garis tipis yang bergerak pelan ketika awan melintas. Ellya berdiri di sana cukup lama, membiarkan dirinya diam. Hari itu terasa penuh, bukan oleh kejadian besar, melainkan oleh detail kecil yang tertinggal dan tidak ingin ia lepaskan. Di belakangnya, Reza berdiri di dekat sofa. Ia baru saja meletakkan ponselnya, lalu merapikan bantal dengan kebiasaan yang terlalu rapi untuk sekadar mencari nyaman. Ia berhenti ketika menyadari Ellya berbalik dan melangkah ke arahnya. Tidak ada sapaan. Tidak ada senyum pembuka. Hanya jarak yang menyusut, satu langkah, lalu setengah langkah lagi, hingga napas

