“Ke mana dulu?” tanya Reza sambil berdiri di depan cermin kamar hotel, merapikan kerah kemejanya yang sebenarnya sudah rapi sejak lima menit lalu. Ellya mengangkat bahu. “Kamu yang tentukan. Katanya mau jalan-jalan.” “Oh.” Reza mengangguk, tampak berpikir terlalu serius untuk sesuatu yang seharusnya santai. “Kalau… kita jalan saja? Lihat-lihat.” Ellya tersenyum tipis. Ia mengambil tas kecilnya dan melangkah lebih dulu ke pintu. Reza cepat membukakan, menunggu Ellya lewat, lalu menyusul dengan langkah sedikit terburu seolah takut tertinggal. Lift turun perlahan, dan ketika pintu terbuka, udara kota menyambut mereka dengan hangat yang bersih. Singapura pagi itu terasa terang dan tertata, seperti seseorang yang bangun lebih dulu dan sudah merapikan hidupnya sebelum orang lain sempat mengel

