“Tidurnya cukup?” “Cukup.” “Capek?” “Tidak terlalu.” Percakapan singkat itu menggantung di udara kamar hotel yang rapi dan sunyi, pagi Singapura yang terlalu terang seolah tidak memberi ruang bagi kegelisahan. Ellya berdiri di dekat jendela, memeriksa tas kecil yang akan ia bawa, sementara Reza merapikan manset kemejanya dengan gerakan yang terlihat gugup namun terlatih. Ia melakukannya dua kali, lalu berhenti, seolah menyadari kebiasaan itu berlebihan. Tidak ada tanya lanjutan. Tidak ada usaha memecah keheningan. Keduanya seakan sepakat bahwa hari ini harus dilalui dengan cara paling aman: tidak membuka apa pun yang belum siap dibuka. Di mobil menuju gedung pembukaan cabang, Reza duduk di samping Ellya. Ia tidak bersandar, tidak pula menjauh. Tubuhnya condong sedikit ke depan, tangan

