Pagi keberangkatan terasa berbeda sejak awal. Ellya bangun lebih cepat dari biasanya, bukan karena alarm, melainkan karena pikiran yang bergerak lebih dulu. Koper sudah rapi di sudut kamar—pilihan pakaian yang ia susun semalam terasa terlalu netral, terlalu aman, seperti ia masih ragu apakah perjalanan ini liburan atau kewajiban. Di luar jendela, langit tampak cerah dengan awan tipis, pertanda hari akan panjang. Ia menarik napas, lalu meraih ponsel dan membaca pesan singkat dari manajemen: Pembukaan cabang Singapura. Kehadiran Tuan Reza dan istri diharapkan. Singkat, formal, tak memberi ruang untuk menolak. Di lorong, langkah Reza terdengar pelan. Ellya membuka pintu dan mendapati suaminya berdiri dengan koper kecil, kemeja sederhana, rambut rapi. Ia menyapa dengan anggukan—tidak dingin,

