Pagi datang tanpa suara yang biasanya Ellya tunggu. Tidak ada ketukan pelan di pintu, tidak ada sapaan canggung yang disertai senyum ragu. Cahaya menembus tirai dengan sudut yang sama seperti hari-hari sebelumnya, namun kamar terasa berbeda—lebih lapang, lebih sunyi, seolah seseorang sengaja menggeser furnitur emosi agar jarak bisa bernapas. Ellya duduk di tepi ranjang dan memandangi sisi yang kosong. Reza sudah bangun, tentu saja. Ia selalu begitu. Namun hari itu, ketiadaan Reza bukan sekadar kebiasaan; ia terasa seperti keputusan. Di meja makan, Reza hadir sebagaimana mestinya—tepat waktu, rapi, dan sopan. Ia menyapa Ellya dengan anggukan kecil, lalu kembali pada sarapannya. Tidak ada kalimat tambahan, tidak ada jeda yang mengundang percakapan. Ellya duduk berhadapan dengannya, menimban

