Siang itu taman belakang rumah Suryadinungrat terasa lebih lengang dari biasanya, meski matahari berdiri tegak dan dedaunan berkilau setelah disiram. Ellya melangkah perlahan di jalur batu, seolah setiap pijakan harus dipertimbangkan. Udara hangat bercampur aroma tanah basah menenangkan dadanya yang sejak pagi terasa terlalu sesak. Taman adalah satu-satunya tempat di rumah besar itu yang memberinya ilusi kebebasan—tidak ada meja marmer, tidak ada sorot mata yang menghitung, tidak ada suara keputusan yang tidak bisa ia bantah. Ia berhenti di dekat rumah kaca kecil, memandangi pot-pot bunga yang berjajar rapi. Daun-daunnya hijau, hidup, terawat. Ellya menyentuh satu helai daun, membiarkan dinginnya menempel di ujung jari. Ia menarik napas panjang, mencoba mengusir bayangan percakapan dengan

