Reza tiba menjelang sore, ketika kabut mulai turun perlahan dari perbukitan. Ia memarkir mobil jauh dari rumah kecil itu. Mesin dimatikan. Tidak ada langkah tergesa. Tidak ada pesan dikirim. Ia turun, menutup pintu dengan hati-hati, lalu berjalan menyusuri jalur setapak di antara kebun teh yang berbaris rapi seperti doa-doa hijau. Angin menyentuh wajahnya. Bau tanah basah dan daun segar memenuhi napas. Rumah itu muncul perlahan, sederhana dan tenang. Reza berhenti. Asap tipis keluar dari cerobong. Jendela terbuka. Tirai bergoyang pelan. Tidak ada kesan sementara. Tempat itu hidup. Dihuni. Dijaga. Ia tidak melangkah lebih dekat. Pintu terbuka. Ellya keluar membawa keranjang kecil. Rambutnya diikat rendah. Wajahnya lebih bulat dari yang terakhir kali ia lihat. Tidak lelah. Tidak tertek

