Pintu rumah kecil itu terbuka pelan. Reza masuk dengan langkah yang sudah ia kenal. Ia melepas sepatu di ambang, meletakkan kunci di mangkuk kayu, lalu berhenti. Lampu ruang tamu redup. Tidak gelap. Tidak terang. Ada sesuatu di udara yang membuatnya diam lebih lama dari biasanya. “El?” Tidak ada jawaban. Ia melangkah masuk. Meja kecil di tengah ruang tamu tertata berbeda. Bukan rapi berlebihan. Justru terasa sengaja dibiarkan sederhana. Lilin-lilin kecil menyala, bukan banyak, tapi cukup untuk menghangatkan ruangan. Sebuah kue kecil berdiri di tengah meja, tidak tinggi, tidak dihias berlebihan. Reza mengernyit. “Ellya?” Dari dapur, langkah kaki terdengar. Ellya muncul mengenakan gaun sederhana berwarna lembut. Rambutnya tergerai, wajahnya tanpa rias berlebihan. Tangannya memegang pi

