Hujan akhirnya berhenti, meninggalkan embun tipis di kaca jendela kamar dan udara lembap yang menyelinap masuk melalui celah tirai. Ketika Ellya membuka mata, kepalanya masih terasa berat, tetapi tidak lagi seperti kemarin. Ada sisa pusing yang menempel di pelipisnya, namun tubuhnya sudah mampu bergerak tanpa membuatnya ingin jatuh. Ia menarik napas pelan, mencoba memahami keadaan sebelum akhirnya pandangannya tertuju pada sesuatu yang membuatnya terdiam cukup lama: Reza tertidur di kursi kecil, sangat dekat dengan ranjangnya. Wajah Reza tertunduk miring di sandaran kursi, rambutnya acak-acakan, dan selimut tipis yang ia gunakan terjatuh setengah ke lantai. Lengannya terlipat tidak nyaman, tubuhnya sedikit condong ke depan seperti ia menolak tertidur tetapi kalah melawan kelelahan. Ellya

