Hujan turun sejak pagi, menampar jendela kamar dengan ritme yang tidak teratur—kadang lembut, kadang keras, seperti dunia sedang gelisah. Ketika Ellya membuka mata, hal pertama yang ia rasakan bukan cahaya, bukan suara, tetapi panas yang melekat di tubuhnya. Kepalanya berdenyut, tenggorokan seperti terbakar, dan pandangan berputar setiap kali ia mencoba menggerakkan kepala. Ia ingin bangun. Tubuhnya menolak. Pintu kamar terbuka. “Ellya?” Suara Reza begitu lembut sehingga hampir bercampur dengan suara hujan. Namun ada getaran kuat di dalamnya—ketakutan. Ia mendekat dengan langkah cepat tapi hati-hati, seolah takut lantai retak di bawahnya. Begitu melihat wajah Ellya, Reza membeku. Lalu tanpa banyak bicara, ia menyentuh keningnya. Tidak ada canggung. Tidak ada kebingungan. Tidak ad

