3. Drama Pelaminan

1334 Words
Rheana bangun di pagi harinya dengan kepala yang terasa berat dan pening. Dia mengabaikan tempat asing itu, hanya berpikir kalau mungkin saja dia tidur di salah satu kamar hotel atau kamar di bar yang disewakan temannya semalam. Itu bukan kejadian pertama saat Rheana habis kobam dan tidak bisa pulang, temannya akan menyewakan kamar. Dahinya mengernyit ketika sesuatu terasa aneh di bawah tubuhnya. Dia meringis ketika merapatkan pahanya, terasa ngilu. Matanya terbuka lebar, melirik sekitar, asing. Pelan-pelan dia mengintip ke bawah selimut, kedua matanya membulat sempurna, tubuhnya gemetar. Terlebih lagi ketika didapatinya bercak merah di atas seprai putih yang berantakan. “Tidak mungkin. Apa yang aku lakukan?” Dia bertanya kebingungan. Kepalanya terasa pening untuk mengingat kembali apa yang dia lakukan semalam, dengan siapa b******u. Dia mengusap wajahnya kasar, air mata bahkan seakan enggan untuk mengiba padahal Rheana telah kehilangan mahkota berharga yang dia baga sepanjang hidupnya, tapi dalam satu malam, entah siapa yang berhasil merenggut kesuciannya. “Sssh. Ah!” Rheana mendesis, lantas mengerang ketika kakinya menjejak lantai kamar itu, dia duduk di sisi ranjang. Bagian dalam dirinya terasa begitu ngilu. Ketika hendak berdiri, pandangannya bersirobok dengan note kecil berwarna biru di nakas. Dia mengambilnya, membacanya perlahan. “Aku tak menyangka kau bisa seagresif itu dalam bercinta, Rhe. Walau kaku karena pemula, aku akui kau hebat. Thanks udah kasih aku sambutan dengan cara tak terduga. Aku akan segera menemuimu, dan bertanggung jawab. So, see u, tunggu aku. — Dari T.E.” Dahi Rheana mengernyit, menerka siapa inisial itu. Matanya terpejam kemudian, ada gejolak dalam dadanya, sebuah campuran rasa yang bagi Rheana sangat menyebalkan. “Tunggu saja. Aku akan membunuhmu, b******n!” Umpatnya, meremas note itu. Alih-alih meraung dalam tangis, Rheana lebih ingat dengan rencananya hari ini. Dia akan membuat drama yang baginya menyenangkan, bagi orang lain mungkin petaka. Setelah mandi dan berpakaian, dia pergi dari kamar itu. Meski terasa begitu tak nyaman di area bawahnya, dia memaksa pergi ke suatu tempat. Efek minuman yang dia habiskan semalam masih terasa, kepalanya sesekali berputar, perutnya terasa mual. Tapi Rheana tak peduli, di dalam tasnya dia punya minuman pereda mabuk. “Memang b******n tidak pantas ditangisi.” Rheana membatin. Dia mendorong sebuah pintu kaca, berjalan santai menuju sebuah kursi. Seorang wanita yang berpenampilan cantik dan seksi menyambut dengan terheran. Rhean tidak peduli, memilih duduk diam di kursi salon kecantikan, siap untuk tampil lebih cantik, dia menatap tajam pantulan dirinya di cermin. “Kau memang aneh, Nona. Kau sungguh akan pergi ke sana hanya untuk membuat kacau?” Pemilik salon yang khusus untuk mendadani Rheana itu adalah temannya. “Ya, aku serius. Jika tidak, aku akan menyesal. Kau tau, uang itu bisa aku jadikan uang donatur salonmu ini, Nona. Jadi, jangan banyak cingcong dan dandani saja aku,” jawab Rheana menatap pantulan temannya di cermin. “Wooow. Aku lebih tertarik pada uang dan perut kotak 8 itu, Rhe. Tak peduli dengan kekacauan yang kau buat,” katanya lantas tertawa. “Oke. Akan aku dandani kau secantik dewi khayalan yang hanya ada dalam otak cowok.” Rheana hanya mengangguk, lantas memejamkan mata. Membiarkan temannya yang bermain dengan wajahnya. Dia percayakan pada temannya itu yang hanya peduli dengan uang dan pria seksi. Menunggu di salon untuk seabrek hal yang tidak biasa Rheana lakukan itu sangat membosankan baginya hingga dia memejamkan mata, tapi ingatan saat dia bercinta dengan seorang pria yang samar dalam ingatannya membuat dia tersentak. Napasnya memburu, jantungnya berdetak kencang. “Tidak mungkin dia.” Membatinkan sosok itu, lalu menepiskannya. Dia tersadar karena temannya menendang kakinya cukup keras, padahal sentuhan kecil saja bisa membangunkan Rheana. “Dasar gila! Kau ke sini selain dandan, numpang tidur, hah? Kau pikir, dandani orang sambil tidur itu mudah? Gila, Rhe, kau bukan mayat!” “Sembarang! Mana ada mayat cantik gini?” Rheana justru menampilkan senyumannya. “Makasih, Vi, aku bayar setengahnya dulu nanti sore,” katanya lantas bangun dari duduknya dengan senyum puas di wajah kala make-up natural mengubah dirinya. “Sialan! Bayar full!” Rheana mengabaikan temannya itu dan berlalu ke kamar ganti untuk memakai gaun indah pilihannya yang elegan dan berkelas. “Lihat saja. Aku akan menghancurkanmu hari ini, sialan!” Matanya tajam mengarah pada tampilan dirinya yang berubah bak bidadari jatuh ke kolong langit. “So beautiful, Rhe. Jangan sampai dapat panggilan darurat sebelum beraksi,” bisiknya pada dirinya sendiri sebagai pengingat. Ya, maklum saja, Rheana bekerja di suatu tempat yang membuatnya nyaris tak bisa beristirahat. Apalagi jika tempat kerjanya dikunjungi banyak orang karena insiden gawat. Menggunakan kendaraan berkelas dengan warna merah menterang. Mobil sport yang hanya ada tiga di dunia, satu di Negera Morphile, yang Rheana pakai itu, dua lainnya di negara tetangga. Gadis itu tutur dari mobil dengan gaya slow, semua mata tertuju padanya. Tampilan yang elegan dan seksi dengan gaun satin berwarna Nany di atas lutut, tatanan rambut ala putri kerajaan yang hendak dinobatkan menjadi penguasa. Kaki jenjangnya dibalut stiletto berwarna hitam. “Halo, b******n,” desis Rheana kala tiba di panggung pelaminan di mana sepasang pengantin baru menunggu tamu. “Rhea –na?” Seringai Rheana muncul bak penyihir. “Kenapa kaget begitu, b******k? Kau pikir, aku tidak bisa seseksi cewekmu? Oh, sayang sekali. Kau … tidak tahu siapa aku, b******n!” Rheana tak peduli jika kata yang keluar dari mulutnya terlalu frontal dan mengejutkan kedua pengantin itu. “Rhe, kita bicara di belakang. Aku tidak —” “Kenapa? Kau tak mau kebusukanmu terungkap?” Rheana menepis tangan pria itu yang hendak menariknya. Pandangan pada tamu mulai terheran, memusat pada satu titik, pelaminan. “Cewek gila! Jangan sembarangan di pernikahan kami,” desis di pengantin wanitanya. Rheana tertawa, suaranya cukup keras hingga orang tua pengantin menatapnya tajam. Bahkan, ibu dari pengantin pria yang mengenal Rheana pun menghampiri, tatapannya tajam, wajahnya merah antara marah dan malu karena Rheana berulah. “Tidak perlu. Aku hanya datang untuk menyampaikan pesan pada suami busukmu itu,” katanya dengan tatapan mematikan pada si pria. Pria itu diam kaku. Rheana mendekat, lantas berbisik tajam, “Selamat atas pernikahanmu, be -de-bah!” Dia mengucapkannya dengan penuh penekanan di akhir kalimatnya. “R- Rhe … aku —” “Kau tak perlu menjelaskannya. Tapi, sebagai hadiah, aku akan memberikan sesuatu,” kata Rheana lalu memberikan sebuah kotak kecil berwarna hitam pekat. Si pria tidak mau menerima, jadi Rheana memberikan kotak itu pada si wanita. “Bayar semua tagihannya, atau kau ma t i!” Senyumnya muncul bak iblis menjelma bidadari yang memukau pasangan mata. “Bye! Itu balasan untukmu.” Rheana hendak berlalu berlalu dari panggung pelaminan itu tapi tangannya dicekal. “Apa maksudmu?” si pria menatap Rheana murka. “Apa maksudku?” Tawa Rheana lolos, getir. Dia menepis tangan pria itu, menatap tajam. “Jelas kau tahu apa maksudnya aku, b******k! Kau pikir, aku tidak tahu kalau cewekmu hamil? Kau pikir, aku tidak tahu kalau ibumu mendesak kalian menikah? Mencuri uangku. Kau pikir, aku tak tahu seberapa busuknya kau, hah?” Rheana bicara pelan, tapi menusuk. Si pria jelas kaget, begitu pula ibunya. Rheana berdiri tegak, menatap tajam orang-orang itu. “Oke, tak masalah. Tapi bukan berarti aku akan kalah. Sayang sekali, mau tidak tahu siapa aku. Padahal, aku berniat mengungkapkan siapa aku. Sayang sekali, kau lebih memilih sampah daripada berlian.” Senyumnya muncul mengembang. Dia melangkah, dan bug! Satu pukulan mendarat tepat di perut di pria yang seketika melipat tubuh, dia mengaduh. “Jangan pernah muncul lagi di hadapan aku saat kau tahu siapa aku sebenarnya. Percuma. Kau hanya b******k yang tak bisa bersabar.” Para tamu undangan berbisik riuh kala pelaminan itu menjadi panggung pertunjukan dadakan. Si pengantin wanita panik saat di pria itu terus mengaduh. “Dasar banci! Pukulanku tak menganai titik vital sampai kau sekarat begitu. Heran sekali, bagaimana bisa aku pernah cinta buta pada cowok sepertimu? Cuih! Menjijikan!” Rheana menghina, dia kemudian berlalu dari sana, tak mempedulikan tatapan banyak orang yang mengiringi langkahnya menjauh. Dia sudah muak dengan drama mengalah. Namun, begitu keluar dari gedung pernikahan mewah itu, langkahnya terhenti, selain karena area sensitifnya terasa berdenyut, ada panggilan masuk ke ponselnya. Dia mendesis tajam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD